Banjir Inspirasi di Youtube Creators For Change Jakarta 2018

Kamis (5/7) kemarin, saya ikutan acara Youtube Creators For Change.

Creators for Change (CFC) ini adalah inisiatif Youtube untuk mendukung content creator menciptakan konten yang meningkatkan toleransi dan empati. Simpelnya, inisiatif ini ada untuk membuat lebih banyak konten-konten positif di Youtube.

Lanjutkan membaca Banjir Inspirasi di Youtube Creators For Change Jakarta 2018

Main ke Ruang Komunal & Kantor Facebook Indonesia

Mei lalu, saya berkesempatan main ke kantor Facebook Indonesia.

Sebagai orang yang aktif di sosial media, saya adalah pecinta produk Facebook.

Sama seperti kebanyakan orang Indonesia, tiga aplikasi milik Facebook masuk dalam lima aplikasi teratas yang saya buka setiap hari: Whatsapp, Instagram, dan Facebook.

Lanjutkan membaca Main ke Ruang Komunal & Kantor Facebook Indonesia

Ga Perlu Sensi Lagi ūüôŹ

Di momen-momen bertemu teman/keluarga, biasanya suka ada pertanyaan-pertanyaan yang menurut banyak orang mengesalkan.

Kapan nikah?

Kapan lulus?

Udah isi atau belum?

Sejujurnya, menurut saya pertanyaan-pertanyaan “kapan nikah”, “kapan lulus”, “udah isi atau belum”, dan pertanyaan serupa itu pertanyaan yang sangat wajar ditanyakan keluarga/teman ketika bertemu. Pertanyaan yang memang dilontarkan untuk mengetahui update signifikan tentang kita yang mungkin memang jarang ketemu.

Misalnya saat berbincang dengan saudara jauh yang ketemuan hanya ketika lebaran. Wajar dong kalo kita saling menanyakan update paling signifikan dulu. Salah satunya ya misalnya menanyakan kapan rencana besar seperti menikah atau apakah sudah bertambah anggota keluarganya.

Kalo kita capek ditanya, coba dipikir; keluarga/teman kita itu sebenarnya masing-masing cuma nanya sekali, mungkin setahun sekali. Kita aja yang terima pertanyaan itu beruntun. Bagi sebagian orang mungkin mengesalkan, tapi saya rasa aneh kalo yang nanya yang dianggap bersalah.

https://twitter.com/ziuzi_zapuf/status/1007137554456403968

Kalo kita yang belum punya jawaban yang memuaskan, atau memang sedang dalam proses pencarian jawabannya, saya rasa cukup untuk dijawab sewajarnya. Kalau hanya sekadar mendapat pertanyaan tanpa penghakiman, saya rasa tidak perlu sensi berlebihan.

Bahkan bisa juga ditutup dengan “minta doanya ya“. Siapa tau keluarga/teman kita ini mendoakan dan didengar doanya. Kita justru jadi terbantu dengannya.

Jadi kalau berikutnya ada lagi pertanyaan serupa, ga perlu sensi lagi.

Mau Tidur Lagi (Cerpen)

Selepas sholat subuh hari ini, saya tidak sedang ingin tidur lagi.

Biasanya, tidur lagi adalah ritual harian yang jarang sekali saya tinggalkan. Meski sudah sering mendengar bahwa tidur setelah subuh itu dilarang, atau setidaknya¬†tidak baik untuk dilakukan,¬†godaan untuk kembali ke kasur dan memeluk guling terlalu besar untuk diabaikan. Meski sering menyesal karena berniat tidur 15 menit tapi jadinya malah tertidur 15×4 menit, tidur lagi setelah subuh adalah kemewahan dunia yang mungkin memang diciptakan setan untuk menjebak manusia.

Tapi subuh ini, tidak. Saya tidak sedang ingin tidur lagi.

Setelah melihat istri terlelap, saya bangkit dari kasur. Biarlah dia terlelap, toh dia bangun jauh lebih dulu dari saya untuk menyiapkan makanan. Biarlah dia saja yang tidur lagi. Saya tidak.

Saya ke ruang tengah dan membuka laptop. Saya membuka pintu depan supaya udara dingin masuk ke dalam. Lalu sayup-sayup terdengar suara ustadz, berapi-api mengingatkan umat tentang panasnya api neraka di kuliah subuh hari Ahad.

Saya mulai membuka draft tulisan. Bila saya orang biasa dan sedang tidak puasa, mungkin saya sedang akan menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya. Mungkin saya akan memilih A-Mild atau Marlboro. Kayaknya dua rokok itu yang cocok buat saya, meski saya juga ga tau gimana rasanya. Saya akan menghisap panjang dan menyemburkan asapnya ke luar ruangan. Lalu mengambil asbak, mulai menjentikkan abu di atasnya, dan sok memberikan tatapan tajam mengisyaratkan inspirasi mulai datang.

Sayangnya saya bukan orang biasa. Saya tidak merokok, dan saya sedang berpuasa. Jadi saya cuma menghirup udara pagi yang segar, lalu menghembuskannya lagi pelan-pelan.

Draf yang sedang saya buka ini adalah tulisan yang sudah lama ingin saya selesaikan. Cerita pendek otobiografi yang ingin saya bagikan biar orang-orang tau opini dan buah pikir di otak saya. Cerita singkat yang selama ini terhambat karena saya terlalu sibuk ingin terlihat bermakna daripada berfokus pada esensi dari karyanya.

Mungkin cerita ini tidak pernah selesai karena saya terlalu sibuk lalu lalang di linimasa dunia maya. Mendaras runutan cuitan di twitter yang tidak ada habisnya. Kepo dengan konflik selebgram versus selebtwit yang penuh drama. Menjual jiwa saya pada jempol yang menggeser instastories berisi kehidupan orang lain yang tidak ada habisnya.

Atau mungkin cerita ini tidak pernah selesai karena saya terlalu sibuk menginginkannya selesai. Terlalu sibuk membayangkan ratusan tanda suka dan puji-pujian yang saya dapatkan di kolom komentar.

Lalu saya terdiam. Itu dia. Kemungkinan terakhir itu jawabannya.

Tetiba kepala saya seperti terang benderang. Jika saya orang biasa, di bagian ini rokok saya sudah hampir habis sebatang. Lalu saya menekan ujungnya yang terbakar untuk mematikannya, sebuah gestur yang kurang lebih mengartikan apa gue bilang, inspirasi itu datangnya dari rokok sebatang. Menegaskan bahwa idiom sebatdul adalah sebuah keniscayaan.

Lalu saya mulai kerasukan. Menekan tuts ini dan itu, merangkai kata menjadi satu tulisan yang utuh dan padu.

Senyum saya mengembang. Cerita ini akhirnya selesai.

Jika saya orang biasa, di bagian ini saya akan menutup laptop. Saya akan pergi ke dapur menyeduh kopi, lalu menyalakan rokok sebatang lagi.

Tapi tidak, saya bukan orang biasa.

Saya menengok ke atas pintu, sudah jam enam pagi.

Saya mau tidur lagi.

Semangat Itu Lagi

Ketika sedang hilang arah, sebenarnya cukup mudah untuk menemukannya lagi: mulai dari awal.

Mulai dari kenapa lo mulai.

Apa yang jadi alasan dibalik semua hal yang selama ini dijalankan. Momen apa yang dikejar dan tujuan apa yang ingin dicapai.

Lalu lihat lagi orang-orang yang bikin lo mulai.

Idola lo. Mereka yang karyanya lo kagumi. Mereka yang pertama kali bikin lo berteriak dalam hati: gue harus bikin karya kayak dia. Sekarang dia idola, tapi kelak, dia akan jadi teman.

Lalu lo akan menemukan keasikan itu lagi.

Semangat itu lagi.

Menulis Buku Yang Ingin Saya Baca

Waktu masih kuliah, satu hari saya sedang jalan-jalan di toko buku. Ritual bulanan yang harus saya lakukan untuk membuat otak tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Lalu saya menemukan buku yang selama ini saya cari: buku tentang kreativitas yang asik, diisi dengan berbagai ilustrasi, tapi padat filosofi dan tips praktis. Judulnya Steal Like An Artist.

Buku ini akhirnya menjadi kitab suci saya dalam memicu kreativitas.

Dari sana, saya keranjingan mencari buku-buku kreativitas yang lain. Tak lama, saya pun mulai ketagihan membaca buku-buku nonfiksi, terutama buku-buku berbahasa inggris.

Saya pun mulai mencari buku-buku nonfiksi berbahasa Indonesia, tapi rasanya sulit sekali mencari yang sesuai dengan preferensi saya: asik dibaca tapi tetap sarat makna dan pengetahuan baru.

Hingga pencarian saya pun semakin spesifik ke buku nonfiksi khusus untuk anak muda. Tapi saya belum menemukannya, sampai sekarang.

Hingga saya teringat flowchart simpel yang ada di Steal Like An Artist. Bagan sederhana yang juga menjadi pegangan Austin dalam hal membaca dan menulis.

IMG_2902-768x768.jpg

Sesimpel itu. Kita mencari buku yang ingin kita baca. Dan ketika kita tidak menemukannya… Kita yang harus menulis buku itu.

Saat ini, saya masih mencari buku yang belum saya temukan.

Dan saya tahu apa yang harus saya lakukan.

Subjective Daily on Youtube (Ramadan Project 2018)

Ramadan ini saya ingin melakukan hal berbeda.

Menantang diri sendiri untuk konsisten membuat satu jenis konten selama Ramadan.

Jika selama ini sudah membuat tulisan dan podcast, kali ini saya ingin mencoba menantang diri membuat video.

Saya membuat Subjective Daily.

Subjective Daily adalah video harian dimana saya akan berbagi cerita, pengetahuan, atau opini dengan durasi 10-15 menit. Tayang setiap hari selama bulan Ramadan di channel Youtube Iqbal Hariadi. Cara saya melatih diri membahas berbagai topik di depan kamera.

Target saya, di akhir Ramadan setidaknya ada 30 video Subjective Daily yang berhasil saya publish.

Semoga juga bisa menemani Ramadan lo dengan konten yang positif!


Playlist Episodes

Akan diupdate setiap hari selama Ramadan.

#1. Membahas Second Child Syndrome, karakter stereotipe yang biasanya ditemukan pada anak kedua atau anak tengah

#2. Membahas Learning Skill, bagaimana belajar cara mempelajari sesuatu secara efektif.

3. Membahas Lean Startup Principle, salah satu prinsip/metode yang saya jadikan acuan dalam membuat karya apapun.

4. Membahas kemungkinan potong generasi di pemerintahan

5. Membahas update Kominfo tentang blokir Tumblr

6. Membahas hobi koleksi mainan

7. Membahas pertemanan dengan perbedaan dalam pilihan politik bareng @ardiwilda & @alvianugerah

8. Membahas prinsip dasar manajemen emosi

9. Membahas pedagang kaki lima. Mohon maaf kepotong karena memori habis dan males rekaman edit lagi.

10. Membahas kenapa orang baik harus lebih berisik.

11. Membahas 3 hal simpel yang gue harap gue udah tau pas gue umur 20.

Tips Melawan Bosan di Kerjaan + Kerja Sambil Traveling

Bosan karena kerja adalah hal yang sangat wajar.

Apalagi kalau melakukan rutinitas yang sama persis, setiap hari. Ga aneh kalo jadi bosan, motivasi ga setinggi dulu, dan akhirnya produktivitas menurun.

Tapi kalo lagi di bawah kayak gini, kerjaan kan ga berubah. Tetap harus selesai. Trus gimana cara  mengatasinya?

1. Ingat Lagi Visi Bekerja

Apa alasan lo saat memutuskan untuk bekerja? Coba ingat lagi visi dan fokus kerja saat lo pertama memulai karir dulu. Apakah untuk mengembangkan diri, mempelajari skill baru, mengembangkan jaringan baru, atau belajar dari mentor yang tepat.

Kalau lo melatih pola pikir untuk terus berpikir positif tentang visi bekerja, maka lo akan lebih mudah untuk konsisten dalam menjaga semangat bergerak maju.

2. Jaga Pertemanan Sehat

Pertemanan juga super penting, karena pola pikir lo akan sangat dipengaruhi oleh teman-teman yang setiap hari ketemu dan berinteraksi. Bergabung dengan orang-orang yang memiliki motivasi kerja dapat membantu lo buat ikut termotivasi.

Hindari mereka yang sering beripikiran negatif tentang hidup, ngeluh mulu soal kerjaan, atau jelek-jelekin atasan. Ga gampang memang. Tapi ya kita sendiri yang harus membentengi diri dari pikiran yang negatif.

3. Cuti Traveling

Cara lain supaya lo bisa balik lagi termotivasi dan bahagia di tempat kerja adalah dengan mengambil cuti untuk traveling.

Tiap orang pasti punya titik jenuh, dan sangat sangat dianjurkan ketika sampai di titik ini, manfaatin aja waktu buat cuti. Cari waktu dan tempat yang pas buat cabut sejenak dari rutinitas kerja, menghirup udara baru, melakukan pengalaman baru di tempat baru.

Kadang-kadang ga perlu ke tempat yang jauh kok. Bisa juga ke tempat yang dekat, misal kalo lo di Jakarta, ke Bogor atau Bandung mungkin udah cukup. Asalkan kegiatannya baru dan bisa ngerefresh pikiran kita sendiri.

Atau lo juga bisa cari kerjaan yang memungkinkan untuk travel sambil wisata.

Nah, untuk opsi terakhir ini, berikut ini adalah 3 lowongan buat lo yang suka traveling:

Blogger

Di jaman internet ini, bikin blog jadi semakin gampang. Mulailah cari tau gimana cara buat blog, rajin update dan promosi agar banyak orang tau tentang blog lo.

Coba dengan membiasakan untuk menulis ulasan produk atau service di blog lo, atau dengan rajin menulis di platform media lain yang memungkinkan lo untuk menulis apapun.

Pelan-pelan juga mulai bangun personal branding, caranya seperti yang gue pernah tulis di post ini.

Kalau lo sudah punya cukup banyak penggemar, kesempatan lo untuk bekeja sebagai blogger akan semakin mudah.

Fotografer

Buat lo yang suka fotografi, hobi ini bisa menjadi sumber penghasilan juga. Sambil wisata, lo bisa menjual foto hasil karya lo di website stok foto atau jadi kontributor buat media tertentu.

Fotografer ataupun videografer ini kerjaan yang makin banyak banget dicari. Sekarang semua butuh konten. Makanya perlu rajin cari koneksi buat ngenalin hasil karya lo. Aktif di forum, rajin-rajin ikut komunitas. Keahlian lo sebagai fotografer bisa menghasilkan bayaran untuk datang dan memotret di berbagai lokasi wisata.

Penulis

Sambil jalan-jalan, sambil menulis. Lo bisa mengirimkan tulisan ke majalah, koran, dan website yang membuka kesempatan menjadi kontributor atau penulis lepas.

Saat ini kesempatan untuk menulis dan mengirimkan kontribusimu semakin banyak dan gampang dengan terus melesatnya kehadiran media-media baru di Indonesia. Artinya, semakin terbuka pula kesempatan lo buat kerja sambil wisata.


Semoga info diatas bisa membantu lo lebih bahagia dan semangat kerja!

Source: https://id.jora.com

Mewakili Indonesia di India ASEAN Youth Summit 2017 di Bhopal

Agustus 2017 kemarin adalah pertama kalinya saya mengunjungi India.

Saya bisa pergi ke sana sebagai salah satu delegasi Indonesia untuk India ASEAN Youth Summit 2017.

Summit ini diadakan di sebuah kota besar. Bukan Delhi, Mumbai, atau Bangalore, melainkan Bhopal.

Bhopal adalah ibukota Madya Pradesh, provinsi yang disebut sebagai The Heart of India karena letaknya yang persis di tengah India. Untuk sampai ke Bhopal masih harus naik pesawat 1,5 jam lagi dari New Delhi. Jadi untuk sampai ke sana, kami harus terbang tiga kali: Jakarta-Bangkok, Bangkok-New Delhi, dan New Delhi-Bhopal.

IMG20170813111942

Nongkrong Bareng Anak Muda Dari Berbagai Negara

Diselenggarakan oleh Ministry of External Affair India, summit ini adalah bagian dari perayaan 25 tahun hubungan partnership antara India dan negara ASEAN

Di sini berkumpul anak-anak muda dari India dan 10 negara ASEAN. Dari Indonesia sendiri ada 10 delegasi yang dipilih Indian Embassy di Jakarta dari beragam latar belakang: saya (mewakili Kitabisa.com dari sektor digital), Ratih Kumala (Penulis), Heni Sundari (Aktivis Sosial, Komunitas Anak Petani Cerdas), Zhifa (NGO, Foreign Policy Community of Indonesia), Dana Paramita (Reporter SCTV), Sebastian Partogi (Jurnalis, The Jakarta Post), Anjasmara (iya Anjasmara yang itu, Aktor & Praktisi Yoga), plus Danny Maulana, Maulana Yusuf dan Azyla yang jadi pemuda pilihan Kemenpora.

india asean30
Delegasi Indonesia

Dari 16-19 Agustus 2017, kami mengikuti sesi sharing, Focus Group Discussion, cultural visit dan mendiskusikan hubungan India-ASEAN di berbagai bidang.

Tiap negara mendapatkan satu sesi presentasi untuk mengenalkan negaranya dan memberikan higlight penting yang bisa menjadi bahan diskusi. Tim Indonesia (yang juga dadakan baru diinfokan harus bikin presentasi :D) akhirnya mengenalkan Indonesia lewat presentasi singkat.

india asean10
Ogi dan Zhifa yang mewakili Indonesia di sesi introduction

We share so many things, but one thing that we Indonesia delegates highlight is the rise of millennials.

ASEAN sendiri secara total punya 900+ Juta tenaga kerja yang didominasi anak muda dengan GDP 3,8+ triliun USD, menjadikan ASEAN sebagai salah satu regional yang akan sangat berpengaruh di dunia. Tren yang sama terjadi di India; pertumbuhan populasi anak muda, yang juga mendorong pertumbuhan entrepreneurship, inovasi, dan aktivisme sosial.

india asean28
Ruang conference

 

india asean16
Ketika menyanyikan lagu kebangsaan salah satu negara

 

20819284_1788652194518811_9137613207294255373_o.jpg
Salah satu sesi small classes

 

india asean2
Pencitraan ikut diskusi biar difoto keren sama mamang fotografer India

Tanggal 17 Agustus, kami juga merayakan hari kemerdekaan Indonesia di sana. Di hari yang sama, kami sampai di puncak konferensi, dan saya mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia untuk memberikan pandangan kami mengenai hasil diskusi yang berjalan selama 3 hari terakhir. Saya bercerita bahwa hari itu, adalah hari kami bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan kami, disambut tepuk tangan dan ucapan selamat dari teman-teman negara lain di sana.

india asean6
Mewakili Indonesia di akhir konferensi

Exploring Bhopal: City of Lake

Selain berdiskusi dan berjejaring, kita juga diajak berkeliling mengunjungi berbagai tempat wisata maupun lokasi bernilai historis dan budaya di Bhopal.

Misalnya mengunjungi Indira Gandhi Rashtriya Manav Sangrahalaya alias Museum Antropologi Nasional India, dan setelahnya menonton pertunjukan Yoga.

20861653_1788627767854587_5052798840961682326_o

Menikmati danau Bhopal yang luas banget dan super adem.

IMG20170816064556.jpg

Main dan makan malam di Madhya Pradesh Tribal Museum.

india asean3

Dan mengunjungi taman suaka margasatwa Bhopal.

20933958_1790412077676156_8319470634041897137_o

india asean19

Kami juga ikut bersama merayakan hari kemerdekaan India yang hanya berjarak dua hari dari Indonesia, yaitu 15 Agustus.

20819418_1788629834521047_1032096705808797464_o

Cerita lengkap soal keindahan kota Bhopal akan saya tulis di postingan berikutnya. Sebenarnya selain yang saya ceritakan di atas, banyak banget kegiatan yang kita lakukan selama di sana. Kalo lagi ada waktu, bisa tontonin vlognya Dana (yang durasinya 37 menit :D), tapi super lengkap mendokumentasikan kegiatan kita di sana.

 

 


 

Pengalaman yang sangat menyenangkan bisa menjadi delegasi Indonesia untuk mengunjungi India. Mendiskusikan berbagai isu kepemudaan bersama teman-teman dari negara lain, serta menikmati uniknya India sebagai negara dan budaya.

Terima kasih buat pemerintah India dan kedutaan India di Jakarta yang sudah memberikan kesempatan buat saya ikut jadi bagian dari perjalanan ini.

Dari perjalanan ini, saya sadar bahwa kita harus mulai memiliki mindset bahwa kita bukan hanya warga Indonesia, melainkan juga warga dunia, citizens of the world. Saya juga makin optimis kalo pemuda Indonesia bakal membawa negara kita menjadi salah satu negara paling berpengaruh di regional Asia maupun dunia.

india asean14

Til next time, India!