Live Podcast: Subjective Rant Bandung

23 November 2019. Gue bikin Live Podcast di Bandung.

Acara dadakan yang hasilnya sangat menyenangkan.

Masih kebayang-bayang. Bikin materi seadanya, tapi begitu pegang mic dan mulai ngomong, tiba-tiba ngeflow.

Curhat, cerita, marah-marah, asik sih gue bisa ngomong selepas itu. Happy juga berhasil menemukan titik-titik tawa. Dan tiba-tiba udah ngomong sejam, ga kerasa.

Yang paling menyenangkan, gue bener-bener ngerasa ngobrol sama teman aja. 42 orang yang gue merasa aman, karena gue bisa percaya obrolan kita juga akan stay di ruangan yang sama.

Total saya bicara 60 menit. Ditambah ngobrol dan tanya jawab 30 menit, jadi total sekitar 90 menit ngomong di depan. Ada rekaman video dan audionya, tapi sementara masih rahasia. Saya mau bawa materinya ke beberapa kota.

Terima kasih buat tim @jombloprouductive yang udah support semua persiapan acaranya. Ga kebayang kalo harus ngurus sendiri, makasih banyak.

Terima kasih juga buat teman-teman Bandung yang sudah hadir.

Sampai ketemu lagi di obrolan berikutnya

Next kota ke mana nih kita?

Keep strong. This too shall pass.

2019 tahun yang tidak menyenangkan

Saya bisa aja bilang gitu karena tahun ini saya merasakan stress yang tinggi. Merasakan jalanin hari dengan kosong, tau ada masalah tapi bingung mau melakukan apa. Pengen ilang aja rasanya. Kecewa, marah, dan tambah stress karena tahu mungkin orang-orang terdekat juga kecewa dan marah sama saya.

Tapi setelah saya lihat lagi catatan diari, itu cuma fase yang akhirnya saya lewatin. Cuma satu fragmen yang saya alami selama satu tahun ini.

Sisanya? Hal-hal yang menyenangkan. Rezeki yang selalu bisa saya syukuri. Bisa jalan-jalan. Punya teman yang support. Ketemu orang-orang yang menikmati karya. Menjadi seorang ayah.

Hal-hal yang jauh lebih besar dan banyak dibanding yang tidak menyenangkan. Ternyata semudah itu kita bisa buta sebelah mata dan melihat yang jelek-jeleknya saja. Sibuk meratapi satu, lalu lupa mensyukuri yang seribu.

Bad things happen once in a while.

Buat yang lagi bermasalah, saya tau betapa bullshitnya nasihat “keep strong, this shall pass”.

Betapa dalam hati lo selalu teriak dan merasa sendiri, ga ada orang yang ngerti.

But after going it thru, you will know the saying is true.

Cerita sama orang terdekat lo. Nangis, tumpahin, lo ga sendiri. Habis itu lihat lagi kalo masalah yang lo hadapin cuma satu dibanding seribu hal lain yang menyenangkan. Jadi lo tau, sebenarnya lo punya kekuatan.

Saya tulis ini buat reminder diri saya sendiri nanti.

Keep strong. This too shall pass.

24 Jam di Tanah Rencong, Aceh!

Setelah bercita-cita sejak lama, akhirnya kesampean juga: mampir ke provinsi paling barat Indonesia, Aceh!

Kesempatan ini datang karena undangan dari teman-teman kampus Universitas Syiah Kuala untuk acara di tanggal 12 November.

Saya sampai di tanggal 11 nya, dan karena jadwalnya di awal minggu kerja, saya tidak punya banyak waktu luang meski ingin banyak main ke sana kemari. Flight pulang saya sudah terjadwal jam 5 sore besoknya, jadi saya punya waktu kurang dari 24 jam di Banda Aceh.

Sampai di bandara jam 5 sore. Langsung jalan bersama teman-teman Unsyiah menuju Hotel Mekkah di tengah kota Banda Aceh. Check in jam 6, saya istirahat sebentar untuk jam 7 langsung menuju kafe Le More, Lampineung.

Saya janjian dengan teman-teman Forum Indonesia Muda Aceh. Saya juga janjian dengan teman yang kenal di Twitter + karena mendengar Podcast saya, Teuku Saifudin namanya. Ternyata doi community manager di DiLo Aceh. Baru tau juga ternyata di Banda Aceh ada Dilo. Kami ngobrol banyak hal, termasuk bagaimana menggiatkan komunitas dan gairah dunia digital untuk anak-anak muda di Aceh.

Kami nongkrong sampe malam, lumayan lah sampe jam 22.30. Yang tadinya saya pikir nongkrong di Aceh mungkin jam 9 aja udah disuruh bubar, ternyata ya biasa aja. Ga segitunya haha.

Jadi banyak stereotipe tentang Aceh yang saya punya sebagai orang non-Aceh, yang kemudian saya buktikan sebagai mitos. Sebagian hasil obrolannya kami rekam di video ini.

Besok paginya, saya langsung ke kampus Unsyiah untuk agenda utama. Mengisi seminar digital tentang bagaimana anak muda harus bikin inovasi sosial berbasis teknologi digital.

Saya berbagi sesi dengan Ustadz Tri, seorang guru ngaji asli Aceh yang sekarang sedang merintis aplikasi Muslim Life. Aplikasi ini terpilih jadi aplikasi terbaik di program NextDev Medan, dan saat ini Ustad Tri dan tim sedang mengikuti program pelatihan bersama Telkomsel.

Selesai acara, saya diajak keliling sama Ustad Tri dan teman-teman panitia. Saya punya waktu kurang lebih tiga jam.

Pertama-tama, tentu kami pergi makan.

Karena mau yang compact aja, saya diajak makan di restoran … yang menyediakan berbagai makanan Aceh. Khas Melayu lah. Jadi pilihan makanannya dijembrengin di berbagai piring di atas meja, seperti makanan Padang tapi ini Aceh (?).

Makanannya mantul.

Lalu saya diajak mampir ke trademarknya Aceh: Museum Tsunami dan Masjid Raya Baiturrahman.

Museum Tsunami wajib buat saya karena saya fans Kang Emil, jadi saya memang request ke sini. Museum ini konon salah satu karyanya yang ikonik karena arsitekturnya tidak hanya fungsional, tapi juga didesain dengan storytelling.

Museumnya memang luar biasa, arsitekturnya megah dan ada narasi storytellingnya.

Sayangnya, saya yang pecinta museum harus kecewa karena museum Tsunami ini sama seperti banyak museum lainnya: tidak terawat dengan baik. Bahkan pintu masuk utama yang jadi bagian pertama museum ini – sebuah lorong panjang yang dialiri air di bagian bawahnya untuk membawa kita pada cerita Tsunami – ditutup entah karena alasan apa. Jadi secara umum, saya menyayangkan karena museum ini hanya jadi tempat selfie yang bagus saja.

Dari museum ini, kami “menyeberang” ke Masjid Baiturrahman. Masjid Raya Aceh yang selalu jadi ikon Aceh ini memang luar biasa. Kompleknya megah, luas, dan menyimpan banyak cerita.

Salah satu cerita populer yang diceritakan kembali oleh Ustad Tri, adalah saat kejadian tsunami. Saat gelombang tsunami datang 15 tahun lalu, seluruh bangunan di sekitar masjid luluh lantak dan rata dengan tanah. Hanya Masjid Baiturrahman yang utuh. Beberapa saksi yang selamat bilang saat kejadian, air seperti minta izin ketika memasuki komplek masjid. Air yang datang setinggi 3 meter lebih tiba-tiba “merunduk” dan hanya setinggi mata kaki di komplek masjid Baiturrahman.

Karena sudah sholat jamak, saya menyempatkan sholat dua rakaat di sini. Lalu berangkat kembali bersama teman-teman Unsyiah – Yusuf, Sudirman, dan Iskandar – menuju bandara. Sejalur dengan bandara, kami sempat mampir ke kuburan massal Silor. Berziarah dan mendoakan ribuan saudara kita yang dikubur di sana.

Jam empat sore, saya sudah cek in dan menunggu flight ke Jakarta. Cepat sekali rasanya, masih banyak yang mau saya explore di Aceh. Semoga bisa segera kembali lagi ke tanah rencong ini.

Sampai jumpa lagi, Aceh!

Marah Marah. Segera.

Pengen deh marah-marah lagi.

Udah lama ga marah-marah karena dulu gue suka marah-marah di Podcast. Tapi sekarang udah jarang banget haha.

Asli, the origin of Podcast Subjective adalah untuk jadi medium gue menyalurkan keresahan – bahasa halus untuk kekesalan dan kemarahan. Coba aja cek episode-episode awal, banyak yang bahasannya social commentary karena gue kesal dan marah dengan isu tertentu.

Lalu Subjective berevolusi jadi tempat berbagi knowledge pengembangan diri – which I am proud of so much tho.

Hanya saja, belakangan ini gue jadi berpikir, mungkin gue perlu marah-marah lagi. Hehe. Perlu meluapkan kekesalan-kekesalan ini lewat medium ngomong lagi.

Masalahnya, sosmed nih makin ke sini makin gila. Makin bahaya mau ngomong apa aja. Ga berani gue ngomong macem macem di Podcast.

Makanya gue kepikiran bikin event aja. Offline.

Happy nya, banyak yang respon. Gue sih sebenarnya ga peduli yang dateng berapa banyak, yang penting ada. Gue cuma butuh tempat dan orang untuk meluapkan, haha.

Tunggu ya. Segera.

Kita Mulai Lagi

Kapan terakhir kali memikirkan hidup secara mindful?

Kalo lo tanya gue, gue ga tau. Lebih tepatnya mungkin ga ingat. Gue ga ingat kapan gue terakhir kali mikirin hidup secara mindful.

Btw, mindful tuh padanan bahasa Indonesianya apa sih? Seksama? Mendalam? Khusyuk?

Eniwei. See? That’s how my brain works. Tiba-tiba aaja gitu lompat ke bahasan lain.

Iya, gue ga inget kapan terakhir benar-benar mikirin hidup dengan dalam. Kalau berusaha mengingat, kayaknya keputusan hidup di tiga tahun terakhir hampir semuanya adalah keputusan yang datang karena keadaan. Penyesuaian. Impromptu.

Apalagi momen hidup yang terjadi datang bertubi-tubi, seperti ga ada jeda. Kerjaan, keluarga, semua berjalan mengikuti arus, bereaksi ketika ada kondisi.

Seminggu terakhir, beberapa obrolan membuat gue jadi berpikir, inikah saatnya gue serius memikirkan ulang tentang hidup? Meneliti lagi apa yang ingin gue capai, ke mana visi hidup mau gue bawa, manfaat besar apa yang mau gue ciptakan.

Rethinking my whole life.

Apalagi sekarang gue udah jadi ayah, jadi kepala keluarga. November ini, gue genap berumur dua puluh tujuh. Katanya di usia ini orang menemukan spiritual enlightenment. Bukan hanya dalam konteks religi, tapi juga dalam konteks menemukan makna.

Yang paling bikin gue takut adalah; gue takut coba hal baru. Gue bisa jadi terlalu lama berusaha tidak memikirkan mencoba hal baru. Gue mungkin terlalu lama berada di zona nyaman, ga lagi mencoba hal untuk belajar.

Yang paling bikin gue stress; gue gatau pasti apakah ini beneran atau cuma ilusi. Apakah memang benar keadaan atau cuma letupan-letupan di pikiran.

Itulah kenapa gue merasa perlu mulai memikirkan ulang semuanya secara mindful. Karena gue mau memastikan pikiran ini benar adanya, dan mau memastikan apa yang jadi alasannya.

Mungkin sulit untuk cari waktu spesial untuk memikirkan. Mungkin memang harus gue jalani aja pelan-pelan.

Okay, then.

Perjalanan menggali diri sendiri, kita mulai lagi.

Is This The Right Book?

Bagan simpel untuk menentukan apakah buku yang kita baca bagus atau tidak.

Salah satu common mistake yang sering terjadi ketika membaca adalah stuck di satu buku, berbulan-bulan tidak selesai karena tidak tertarik lagi membacanya, tapi “sayang bukunya udah dibeli mahal, harus habis bacanya”

Padahal mudah untuk menentukan apakah sebuah buku bagus atau tidak untuk kita. Jika dalam proses membaca buku itu membuat kita ingin membaca lagi, atau membuat kita ingin menulis/menyampaikannya lagi, maka buku itu bagus. Kalau tidak, ya berarti tidak – setidaknya tidak relevan untuk kita saat ini.

Dan kalau sudah tidak cocok, jangan stuck di situ. Move on cari buku yang lain untuk dibaca, dan begitu seterusnya.

Dengan begini kita bisa membaca lebih banyak.

*inspired by Austin Kleon’s post.

WC Kreatif di Bandara Husein, Bandung

Rumah (mertua) saya di Bandung dekat Bandara Husein.

Jadi komplek Bandara selalu jadi rute joging pagi saya. Belakangan saya punya alternatif baru, ke Aliando alias Alun-alun Cicendo. Tapi saya lebih sering joging di komplek bandara.

Satu pagi, saat jalan pagi berdua Chantik, saya ga tahan buat pup. Akhirnya kami “mampir” ke bandara, dan saya menunaikan tugas ke WC nya.

Yang lucu, ternyata WC cowok bandaranya dihiasi mural-mural bertema komik Amerika tapi diberi sentuhan sunda.

Lanjutkan membaca WC Kreatif di Bandara Husein, Bandung

Nah. Itu.

Kayaknya gue salah menempatkan blog sebagai kitab suci.

Blog ini gue perlakukan sebagai tempat tulisan gue yang sempurna. Salah ternyata, karena malah bikin produktivitasnya stagnan aja.

Harusnya blog ini jadi diari. Jadi buku catatan. Ibarat jaman sekolah, blog ini scrapbook yang bisa dibaca siapa saja.

Jadi isinya dokumentasi kasar pikiran yang muncul. Kliping konten yang menurut gue menarik. Draft tulisan yang mengganggu.

Nah. Itu.