Saya Sedang Menyiapkannya Pelan – Pelan

Bertahun-tahun dari sekarang, tahun 2020 akan jadi salah satu topik basa-basi.

Atau semacam topik pembuka obrolan lebih dalam yang dipakai banyak orang.

“Waktu 2020, lo lagi dimana?”

“2020 kondisi lo dan keluarga gimana?”

Statusnya akan sama seperti 1998. Tahun penting yang berpengaruh besar pada semua orang, tanpa terkecuali. 2020 is one of those years.

Di tahun ini, banyak orang yang menghabiskan banyak waktu dengan dirinya sendiri. Terpukul karena perubahan mendadak, lalu diam di rumah dalam waktu yang lama.

Tiga sampai empat bulan terakhir ini, banyak orang yang menghabiskan waktu berkontemplasi. Terpaksa memikirkan diri sendiri; hal penting yang sebelumnya justru tidak pernah diprioritaskan masuk ke kategori penting.

Tidak heran banyak orang-orang mengambil keputusan besar di tahun ini.

Saya pun melakukan hal yang sama.

Banyak berkontemplasi, deep thinking, dan berbicara dengan diri sendiri.

Di bulan-bulan ini lah pada akhirnya saya berhasil meluangkan waktu khusus untuk itu.

Melihat kembali apa yang penting dan tidak penting. Apa yang esensial dan apa yang selama ini ternyata hanyalah hiasan. Lalu setelah semuanya terang benderang, mulai menyusun rencana untuk mengambil keputusan.

Keputusan-keputusan ini akan mengubah banyak hal.

Saya sedang menyiapkannya pelan-pelan.

Membaca Buku Lama

Kalo dipikir-pikir, membaca buku itu momen ajaib.

Saya baru sadar belakangan kalau tiap kali saya membaca ulang buku yang sama, saya selalu dapat sesuatu yang berbeda.

“The mark of a good book is it changes every time you read it”, kata Anderson Cooper.

Sebuah buku bagus akan selalu terasa berbeda ketika dibaca kesekian kalinya.

Belakangan karena diam di rumah, jika sedang idle saya mengambil salah satu koleksi buku lama di lemari saya secara random. Lalu membacanya ulang.

Kadang hanya satu bab. Kadang hanya beberapa halaman. Kadang hanya membuka daftar isinya.

Tapi ajaibnya, momennya selalu berbeda. Ketika membaca kalimatnya, saya merasa familiar. Tapi letupan yang dihasilkannya berbeda. Kalimat yang dihighlight otak saya juga berbeda.

Kadang hingga suka nyeletuk sendiri, perasaan saya udah tahu ada kalimat ini. Tapi kenapa baru terasa sekarang ya maknanya.

Membaca buku lama jadi semacam pergi ke Bandung. Atau Jogja. Sudah tau indahnya, sudah banyak kenangannya. Tapi tiap kali berkunjung, ada saja yang berbeda.

Yang Merasa Tolong Dibawa

Selesai subuh, duduk di meja kerja.

Buka jendela. Langit masih gelap. Angin semilir masuk.

Mendengarkan Payung Teduh, Mari Bercerita.

Mata tiba-tiba berair.

Dada tiba-tiba sesak.

Ternyata gue rindu pagi-pagi sepi. Sendiri.

Aneh, tapi iya, terasa.

Malam-malam panjang tanpa tujuan.
Pagi-pagi sepi tanpa ambisi.
Siang-siang ramai untuk bersenang-senang.
Dan sore-sore tenang yang bergerak lamban.

Gue rindu ketika dunia bergerak pelan-pelan.

Rasa rindu ini, nyata tapi entah harus diarahkan ke siapa. Atau apa.

Untuk penasaran yang tidak habis, lalu mulai mengikis?

Atau untuk gerak detik yang berkhianat, meski dulu kita sudah janji, ga akan lari cepat-cepat?

Gue titip rindu ini ke langit.

Yang merasa tolong dibawa


Pondok Pinang, 15 Mei 2020

Bisa Jadi Mindfulness Jawabannya

Sekitar 4 tahun lalu gue mulai belajar mindfulness dan minimalism.

Ga cukup dalam untuk sampai ke level namaste, tapi cukup ngulik untuk tahu dan paham beberapa prinsip dasarnya. Setidaknya ada dua prinsip utama yang gue pegang sampai sekarang dan berpengaruh dalam cara gue melihat hidup.

Pertama, jangan ragu membuang hal-hal yang tidak penting. Waktu, energi, dan kapasitas kita terbatas. Memiliki terlalu banyak hal cuma akan bikin keram otak dan emosi, lalu bingung mau melakukan apa dan jalan ke mana.

Makanya secara berkala kurangi hal-hal dalam hidup. Baik dari hal kecil sampe yang besar. Karena ternyata banyak hal yang kita takutkan hilang ternyata cuma ilusi. Ketika benar-benar dihilangkan, ternyata tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan hidup kita.

Kedua, jangan mengenggam terlalu keras. Berharap boleh. Punya ekspektasi silakan. Tapi lebih banyak hal yang ga bisa kita kendalikan dibandingkan yang bisa.

Karenanya boleh genggam, tapi jangan genggam terlalu keras. Karena ketika hilang, kita bisa lebih mudah melepas karena tahu tidak ada yang benar-benar dalam kendali kita

Buat yang sering kecewa. Susah move on. Mudah sakit hati.

Coba mindfulness. Bisa jadi ketemu jawabannya.

Membuat Karya Seni

Saya selalu menganggap diri saya sendiri seniman.

Ketika saya berkarya dan menyampaikan sesuatu lewat medium apapun, saya selalu menganggap diri saya sedang berkarya seni.

Saya menulis sejak masih sekolah, tapi mungkin anggapan pada diri sendiri bahwa saya seorang seniman pertama kali tertanam saat saya sedang menggandrungi Steve Jobs secara mendalam. Momen ini terjadi circa 2010, di awal saya masuk kuliah.

Trigger utamanya adalah karena saya dapat lungsuran laptop Apple dari tante saya. Jangan bayangkan Macbook, waktu itu laptop saya adalah iBook G4. Bodynya tebal dan beratnya luar biasa. Tapi meski begitu, buat saya punya produk Apple sudah jadi capaian luar biasa yang melambungkan kepercayaan diri saya.

Karena sekarang saya bekerja dengan laptop yang ada logo Apple nya di depan saya, saya kemudian menggali banyak tentang Apple. Dan tentu saja saya menggali banyak tentang Steve Jobs. Saya menonton semua video di Youtube tentang Steve Jobs yang bisa saya temukan.

Video Steve menyampaikan commencement speech di Stanford. 

Video peluncuran iPhone.

Seri video iklan Mac vs PC.

Intinya, saya menggandrungi Apple dan Steve Jobs. Saya menjadikan Steve Jobs sebagai panutan saya. Nah di sana lah saya menemukan kalau Steve Jobs sangat menganggap semua product Apple sebagai karya seni. Bahwa Jobs memberikan respect luar biasa pada orang-orang yang menciptakan karya seni, yang pada akhirnya memengaruhi caranya menciptakan produk-produk Apple.

Salah satu tribute nya untuk seniman-seniman tertuang dalam salah satu campaign iklan Apple: Think Different.

Dari sana, saya terdoktrin untuk jadi orang yang menciptakan karya seni. Menjadi seniman yang ekspresinya bisa memengaruhi banyak orang.

Meski dalam perjalanannya, saya sering ragu kalau saya benar-benar membuat karya seni. Apakah dalam standar dunia seni, yang saya buat adalah karya seni?

Bisakah saya dianggap sebagai seniman?

Iya saya tahu ini bukan soal title, bukan itu yang saya pedulikan. Ini lebih kepada diskusi saya dengan diri sendiri. Dan akhirnya saya menemukan jawabannya dari Chris Do, dalam kelas onlinenya yang saya ikuti.

Seni adalah sebuah undangan melihat dunia dari sudut pandang kita. Dan itu yang saya buat melalui tulisan, podcast, dan video Youtube saya.

Dan karya yang saya buat adalah emosi yang saya tuangkan dalam sebuah medium, dengan harapan orang lain merasakan emosi yang sama.

Setelah membaca ini, saya tersenyum lega. 

Dengan ini, saya bisa pede untuk bilang kalau meski tidak selalu lewat medium yang mainstream, yang saya lakukan adalah juga membuat karya seni.

Chris Do Is The Man

Baru saja menemukan role model baru. Chris Do namanya.

Saya memang tipe pembelajar yang menyerap dari role model. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya akan semangat dan cepat belajar ketika menemukan seseorang yang karyanya saya kagumi dan perspektifnya saya hormati.

Lalu saya akan gali dalam tentang orang ini; membaca tulisan-tulisannya, menonton videonya, mendengarkan podcastnya, cross-checking dan searching perjalanan hidupnya dan apa saja yang dia buat. Dari menggali dalam tentang satu orang ini, biasanya saya akan terpapar pada bahasan baru, pengetahuan baru, dan role model baru.

Ini yang disebut di buku Steal Like an Artist sebagai Scenius, fakta bahwa inovasi pada seni dan sains itu tidak berasal dari satu orang genius, melainkan sekumpulan genius.

Lanjutkan membaca Chris Do Is The Man

Dimulai Dari Episode 100.

Karena saya sangat ekstrovert, memang sangat terasa ngobrol sama orang yang satu frekuensi itu bikin energi saya bertambah.

Kemarin (8/1) saya catchup dengan teman-teman podcaster, Andri Randy dan Arfi. Andri teman saya dari SMP, sekarang dia lebih dikenal sebagai host Podcast Retropus – sebuah podcast tentang sepak bola yang dibawakan secara komedi. Tapi karena dia juga menggawangi jaringan podcast Box2Box, dia juga ngehost di banyak podcast lain: Unqalified bareng Gustika Jusuf, CeritAnya bareng Anye Geraldine (nah ini), dan kadang sering nongol di podcast network Box2Box lainnya. Kayaknya saya lihat beberapa kali candaan followersnya kalo Andri sekarang ini macam Raffi Ahmad nya podcast. Ada aja dimana-mana.

Arfi juga pemain podcast dari lama yang saya respect, karena bahasannya yang niche dan spesifik: soal teknologi. Pernah ngobrol juga di salah satu episode Subjective. Sekarang, Arfi bikin podcast network juga: NPC Podcast Network. Networknya juga menurut gue berkarakter, karena host mereka diisi sederetan geek dan pop culture enthusiast. Beberapa podcastnya seperti Geekinout, AADG (Ada Apa Dengan Gaming), dan Dummy Podcast.

Saya yang ngajak mereka ketemuan karena pengen gali insight lagi aja tentang perkembangan podcast saat ini. Saya sendiri lagi pause sebentar podcastnya karena sekarang sudah 99 episode, dan jadi momentum yang pas buat saya memikirkan ulang podcast ini mau dibawa ke mana. Episode 100 nanti akan saya keluarkan kalau saya sudah yakin dengan hal baru yang akan dibawa di Podcast Subjective.

Di pertemuan kemarin, saya curhat “sebenarnya gue agak bingung, ini podcast mau dibawa ke mana ya jangka panjangnya”. Yang ga saya sangka, si Randy ternyata punya keresahan yang sama. “Lah gue juga mikir hal yang sama”. Haha kirain saya doang yang berpikiran demikian, dan akhirnya kita saling tukar pikiran.

Kalau sudah berkarya cukup lama, memang pasti akan mulai kepikiran ini mau dibawa ke mana ya. Ga naif sih, karena memang di awal mungkin murni untuk berekspresi dan bersenang-senang. Tapi setelah jalanin sekian lama, perlu lebih dari ini wadah gue berekspresi atau gue hanya ingin bersenang-senang. Butuh misi lebih besar yang ingin dikejar, supaya kita sebagai pekarya bisa terus ngegas juga.

2020 ini, Podcast Subjective umurnya udah 5 tahun. Masih muda sih, tapi waktu yang sudah cukup lama untuk saya sudah melewati banyak hal dari pertama kali saya buat. Perubahan mindset, sudut pandang, kematangan, kedewasaan, prioritas. Jadi saya rasa sekarang waktu yang tepat juga untuk rethinking kembali podcast ini selanjutnya mau dibawa kemana.

Target saya sih dapat jawabannya di Januari ini.

Nanti kalo udah ada jawabannya, Podcast Subjective akan mulai mengudara lagi.

Dimulai dari episode 100.

Gue dan Twitter

Saya dan Twitter punya hubungan yang agak-agak.

Love hate relationship kalo kata anak-anak sok ngerti cinta.

Cinta, tapi benci. Kesel tapi rindu.

Oke kita ralat dikit. Bukan twitternya sih, tapi orang-orangnya.

Cuma orang-orangnya kan terbentuk karena platformnya. Different platform attract different kind of people. Even further: different platforms bring different versions of each people.

Perilaku orang yang main instagram beda dengan yang main twitter. Bahkan, orang yang sama bisa berperilaku berbeda di platform yang berbeda. Ya ga sih?

Nanti kapan-kapan kita bahas lebih detil soal itu.

Nah Twitter ini, bikin orang berasa paling tau. Sotoy.

Dont get me wrong. Gue pun begitu. Kalo lagi buka Twitter, entah kenapa gue bisa mengobservasi diri gue sendiri, ego gue meninggi. Kesombongan meningkat. Judgement merasuk.

Gue lebih mudah terpancing, lebih ringan beropini, dan lebih tidak merasa bersalah bilang orang lain salah. Padahal kalo lagi di Instagram, gue malah merasa biasa-biasa aja.

Karakter Twitter yang berisi text membuat orang berpikir untuk mengeluarkan opini atau pandangannya. Alhasil, si platform juga memancing orang untuk memberikan opini terhadap berbagai hal, termasuk kepada tweet yang lewat di linimasa.

Sayangnya, kita memang terdesain untuk lebih reaktif terhadap sesuatu yang tidak sejalan. Kalau ada tweet yang buat kita marah/kesal akan lebih cepat kita reply daripada tweet yang positif atau netral. Ini juga pernah gue bahas di Youtube.

Twitter adalah satu-satunya platform dimana gue menggunakan fitur block. Isi blocklist gue cukup panjang. Lebih karena gue ga mau main sosmed untuk pusing, jadi orang-orang yang menurut gue gobloknya kelewatan akan masuk ke daftar eksklusif block list Iqbal Hariadi.

Di Twitter juga pekerjaan paling bangsat menurut gue – Buzzer – paling terasa. Wah gue misuh-misuh soal ini di #SubjectiveRant. Teman-teman yang datang di Bandung dan Depok mungkin ingat gue cerita soal apa. Kayaknya akan banyak materi yang gue kembangkan soal Twitter. Banyak ngeselin sih soalnya.

Tapi ya bagaimanapun, Twitter selalu berhasil menarik gue kembali. Mungkin karena gue lebih suka berbagi opini daripada berbagi yang lain, Twitter memang selalu punya tempat tersendiri.

Luangkan Waktu Untuk Itu

Mari mulai 2020 dengan rasa iri.

Saya iri setengah mati setelah membaca tulisan Kang Gibran Huzaifah, yang berjudul Notes on My 20. Sebuah tulisan berisi kontemplasinya ketika menginjak usia 30 dan refleksinya tentang menjalani satu dekade sebagai 20an.

Tulisannya super insightful buat saya. Tapi bukan untuk itu saya iri. Kalo untuk itu, saya sangat bersyukur karena bisa belajar lumayan detil dari salah satu orang yang saya anggap sebagai mentor ini.

Saya iri karena tulisannya sangat mendalam khas kontemplasi. Entah ditulis dalam keadaan apa, tapi saya bisa membaca tulisannya datang dari pemikiran panjang dan penglihatan yang bijak. Hikmahnya dalam, tapi bahasanya mudah. Sebuah tulisan yang hanya bisa datang dari pikiran yang jernih. Dan saya iri.

Iri karena entah kapan terakhir saya menulis demikian. Menggali jauh ke dalam, lalu menuangkannya dalam tulisan. Saya rindu berkontemplasi, mengawang-ngawang. Saya rindu tenggelam dalam tulisan.

Mumpung masih awal.

Januari ini saya harus luangkan waktu untuk itu.