Save Everyone

I have said and shown many times that I am a Marvel fan.

And I have said several times too that one my top MCU Movie is Captain America’s Civil War.

I think the story is so grounded and I can relate to many things in it.

One of them is Captain’s quote right here.

Sometimes, I cry in the middle of the work because I try to live with that.

Matter of fact, I just did. I just cried.

That’s why I stop working on what I was working, and got here to write.

Because I think it’s important to document this.

I try to live with the fact that my job is to try to save as many people as we can. But yes, sometimes it doesn’t mean everybody.

I believe in humanity so much that sometimes it hurts deeply when things go south, or didn’t go as we expected.

Sometimes I cry because I believe if we altogether can put aside our own ego for one goddamn second, we can save everyone. I believe we can.

But as much as you believe in things, life sometime hit you in the head with a brick.

And it’s a test so you don’t lose faith. Keep believing.

Keep believing the mission.

Keep believing in humanity.

Keep believing in kindness.

Okay. Let’s get back to work.

Kamu mau diam saja atau ambil sikap?

Kalo ada ketidakadilan, kamu berbuat apa?

Bantu yang kamu bisa atau sibuk membanding-bandingkan?

Berani ambil sikap atau sibuk nyinyir dan komentarin orang?

Menuntut diri sendiri ambil bagian, atau sibuk menuntut orang lain yang turun tangan?

Seruan kebaikan hadir bukan untuk dibentur-benturkan.

Ketidakadilan terjadi bukan untuk dibanding-bandingkan.

Kebaikan ada untuk dibantu.

Ketidakadilan terjadi untuk diluruskan.

Kesempatan membantu hadir bukan buat dipertanyakan, tapi untuk dijawab:

Kamu mau diam saja atau ambil sikap?

Rezeki Yang Baik

Belakangan gue lagi banyak berpikir tentang rezeki.

Selintas ketika melamun, atau sekelebat ketika menyusuri timeline sosmed.

Gue coba tuliskan di sini supaya terdokumentasi.

Pertama, ga semua yang sudah punya kita itu ternyata rezeki kita.

Pernah ga punya barang yang udah lo beli, udah jadi punya lo, tapi akhirnya ga pernah lo nikmati?

Contoh, jajan batagor. Beli sore, taroh di kulkas karena niatnya “makan ntar malem deh pas santai”. Gataunya lupa ada di kulkas, baru inget 2 hari kemudian dan ternyata udah ga enak. Lalu dibuang.

Contoh lain, beli pulpen. Lalu disimpen di laci. Seminggu kemudian pas mau make, lupa ada pulpen di situ, dan malah beli baru dan jadinya make yang baru. Setahun kemudian pas beres-beres rumah, baru nemu lagi si pulpen yang dibeli pertama. Ternyata tintanya kering, dan akhirnya dibuang.

Jadi, bahkan sesuatu yang sudah jadi hak milik kita, belum tentu rezeki kita.

Bahkan kadang ternyata kita cuma perantara aja. Kita sih yang beli, kita sih yang dapetin barangnya, tapi ternyata itu bukan rezeki kita, tapi rezeki yang lain. Kita cuma jadi jalannya aja.

Setidaknya gue merasakan begitu ketika beli makanan, eh ternyata ga gue makan dan dikasih ke kucing jalanan. Ternyata itu rezekinya si kucing, tapi lewat gue. Atau gue beli baju, ternyata jalan setahun kepake cuma sekali dan akhirnya dikasih ke saudara. Ternyata itu rezekinya saudara.

Kedua, ga semua rezeki itu berkah.

Pernah ga punya barang yang lo punya dari lama, dan sampe sekarang masih awet? Kepake terus dan masih kasih nilai terus.

Menurut gue, barang-barang kayak gini adalah rezeki yang berkah. Umurnya panjang dan kita nikmati terus manfaatnya.

Gue punya sepatu Brodo yang gue beli tahun 2015. Gue inget banget karena sepatu ini barang mahal pertama yang gue beli dari gaji, waktu itu harganya 600 ribu. Alhamdulillah sampai sekarang masih awet, dan masih bisa dipake sesuai kebutuhan. Yang kalau dipikir-pikir, 600 ribu mungkin terasa mahal tapi alhamdulillah masih bisa dimanfaatkan hingga 6 tahun kemudian. Artinya kalo dihitung-hitung, gue cuma keluarin 100 ribu per tahun buat pakai sepatu ini. Berkah.

Gue juga punya sepatu Adidas yang beli tahun 2018. Harganya 1 juta. Waktu beli, kayak yang mahal banget gitu, sampe mikir-mikir banget “ini pemborosan ga ya”. Dan ternyata alhamdulillah sampe 3 tahun kemudian masih kepake, bahkan sepatu yang ini lebih sering lagi dipakenya dibanding yang Brodo. Gue pake sepatu Adidas ini buat olahraga, buat jalan santai, buat pergi keluar, pokoknya 90% kegiatan gue keluar pake sepatu ini.

Kalo main hitung-hitungan gobloknya, 1 juta dibagi 3 tahun, gue hanya bayar 300an ribu per tahun untuk pakai sepatu ini. Kalau dibagi 365 hari, berarti gue bayar kurang dari seribu per hari. Harga beli 1 juta nya jadi sama sekali tidak terasa mahal karena bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jadi manfaat karena toh dengan sepatu ini mobilitas gue sangat terbantu untuk melakukan berbagai hal produktif, dari bekerja hingga ibadah.

Jadi barangnya bisa dipakai dengan umur panjang dan membantu menghasilkan manfaat yang lain. Berkah.

Sebaliknya. Pernah ga lo beli sesuatu, trus tiba-tiba hilang aja gitu ga ada rasanya sama sekali? Atau punya sesuatu, tapi bukannya mendapatkan manfaat malah dapat madhorot dari situ?

Gue pernah lagi kepengen banget beli satu minuman. Udah lama kepengen, pas ketemu langsung beli. Habis beli, minum seteguk lah tau-tau kesenggol orang. Minumannya jatoh, tumpah, blas ilang.

Atau pernah juga beli makanan dari restoran bagus. Makanannya sehat, istri dan teman yang ikut makan juga sehat, tapi gue abis makan sakit perut hebat. Pulangnya diare.

Yang kayak gini menurut gue bisa jadi rezeki tidak berkah. Kita mendapatkan sesuatu yang kelihatannya biasa-biasa saja, tapi cuma bisa menikmati secuilnya atau bahkan malah dapat madhorotnya.

Tidak berkahnya kenapa? Mungkin uangnya didapatkan dengan cara yang tidak baik. Mungkin dalam proses pembeliannya gue melakukan hal yang tidak baik. Sumber dan proses yang tidak baik akan menghasilkan luaran yang tidak baik pula.

Itulah kenapa dalam Islam, kita diajarkan untuk meminta rezeki yang baik. Karena tidak semua rezeki baik dan berkah, dan tidak semua yang kita miliki itu rezeki kita. Kadang kita dengan keterbatasan penglihatan dan pengetahuan manusia sering tertipu dan jadi sombong. Merasa punya ini itu, padahal bukan punya kita. Merasa hebat bisa ini itu, padahal tidak baik buat kita.

Itulah juga kenapa tanggung jawab mencari rezeki yang baik itu wajib hukumnya. Memberi rezeki yang halal dan baik kepada keluarga itu juga wajib secara prinsip dan praktik. Apalagi buat kita yang kepala keluarga, jangan asal kasih uang saja. Kita harus yakin kebaikan niatnya, kebaikan sumbernya, dan kebaikan prosesnya.

Memberi nafkah yang tidak baik kepada keluarga itu sama seperti menanam rezeki yang tidak berkah. Tidak akan ada kebaikan di dalamnya. Mungkin kita bisa sehat-sehat saja saat ini dengan makan dari rezeki yang tidak berkah. Tapi kelak bisa jadi kita tiba-tiba sakit. Atau kita jadi malas beribadah dan mudah berbuat dosa. Atau bisa jadi anak kita tumbuh sehat-sehat saja, tapi kelak anak ini bisa jadi bermasalah.

Karenanya, seimbangkan dari segi ikhtiar dan doa. Lakukan ikhtiar dengan cara yang baik. Lalu berdoa minta diberikan keberkahan dan kebaikan dari rezeki yang kita terima.

Walah, jadi nasihat begini.

Ini bukan buat siapa-siapa melainkan buat gue sendiri.

Semoga kita semua diberikan rezeki yang baik.

Mimpi di Tidur Sehabis Subuh

Tidur lagi sehabis subuh selalu berisi mimpi-mimpi aneh.

Merasakan hal yang sama ga?

Gue selalu kepikiran hal ini setiap masuk Ramadan. Karena seringnya habis sahur dan sholat shubuh, ngaji / baca buku sebentar lalu tidur lagi sampai jam 7 atau 8.

Dan hampir selalu, tidurnya pasti mimpi yang aneh-aneh.

Selalu kombinasi antara tokoh dan kejadian di dunia nyata dengan imajinasi aneh yang.. aneh dah pokoknya.

Misalnya tadi pagi, gue masih inget nih mimpinya apa. Gue mimpi salah satu teman resign dari kantor trus ada pesta perpisahan yang megah banget. Disiarkan live di TV dan channel youtube dengan jutaan penonton. Lalu gue kebagian speech terakhir untuk melepas teman kantor gue ini. Aneh banget.

Atau kemarin, nah kebetulan gue juga masih inget. Gue mimpi rumah gue kemasukan biawak, karena ternyata di depan rumah gue itu danau yang masih asri. Biawaknya gede seukuran komodo (nah ini gue yakin datangnya dari memori gue penelitian di Pulau Tinjil), masuk rumah, dan gue yang mengusir biawaknya dengan santai ke luar rumah. Sekeluarga panik dan bahkan pengen ngebunuh biawak itu. Gue dengan santai bilang, “Loh ga boleh, dia cuma nyari makan aja kok ke sini”, lalu gue lemparkan sepotong ikan ke tepi danau dan biawaknya kembali ke sana.

Aneh. Banget.

Gue pernah ngetwit soal mimpi di tidur sehabis subuh ini. Bentar gue cari twitnya. (FYI, ini beneran gue buka tab baru dan search di twitter).

Nah ini dia.

Jadi apakah berarti jangan tidur lagi setelah sahur dan sholat subuh?

Baiknya sih begitu ya. Gue sendiri tidur lagi supaya paginya di jam kerja ga ngantuk. Otherwise, malah di jam kerja ngantuk males bawaannya pengen tidur.

Adakah hikmah dari tulisan ini?

Ga ada, pengen nulis aja.

Menulis Buku Baru

I am back to writing.

Setelah sekian lama tidak menulis, gue balik menulis lagi dengan misi: menulis buku baru.

Gue aktif membuat konten di Instagram. Dan meskipun kontennya juga serius gue tulis, gue selalu merasa menulis di blog atau Medium lebih menulis dibandingkan menulis di kanal sosmed seperti Instagram.

Selain itu, gue juga ingin kembali menulis karena gue ingin menulis. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin dirayakan, bukan karena ingin mendapatkan likes dan komentar. Gue tidak naif bahwa itu yang gue rasakan dengan menulis di Instagram sekarang. Ada mixed feeling antara ingin menyampaikan sesuatu dan kesenangan karena mendapatkan respon dari orang-orang.

Gue tidak merasa ada yang salah dengan hal itu, wajar-wajar saja. Tapi seperti yang gue tulis sebelumnya, gue rindu perasaan menulis dan tenggelam dalam pikiran sendiri. Dan mungkin lo juga jadi ngeh apa yang gue maksud di tulisan sebelumnya dengan we create our own demons.

I create my own demons.

Gue menulis dan bikin konten untuk membuat sarang yang bisa dipuja-puji. Balik lagi, tidak ada yang salah. Karena gue juga sadar penuh kenapa gue melakukan itu, they are just means to an end. Nanti kapan-kapan gue cerita lebih dalam soal ini.

Tapi gue mau kembali terbebas. Lepas. Karenanya gue kembali menulis di blog ini.

Karena gue rasa pasti lebih sedikit yang baca blog ini, dan gue akan anggap lo yang baca ini karena lo emang pengen kenal gue lebih dalam. Kita teman. Dan gue akan lebih santai dan terbuka sama orang yang gue anggap teman.

Mungkin tulisan-tulisan di blog ini (setidaknya sampai waktu yang gue belum tentukan) tidak akan gue promosikan di Instagram atau Twitter. Biar gue lebih nyantai aja nulisnya, dan kelak, membacanya.

Kembali ke poin gue di awal. Gue kembali menulis lagi karena gue punya misi menulis buku baru.

Saat ini naskah yang gue kerjakan adalah buku nonfiksi tentang berkarya di media sosial. Tesisnya sebenarnya sederhana. Anak muda harus berkarya di media sosial, dan gue akan bagikan kenapa dan bagaimana cara melakukannya. Berdasarkan pengalaman gue dan didukung sumber-sumber lain sebagai studi kasus pelengkap.

Gue saat ini sedang proses membuat kerangkanya. Gue sudah menuliskan tema besarnya, membuat bab-babnya, dan membuat daftar sub-babnya. Sekarang gue lagi menggarap setiap sub-bab satu per satu, menuliskan poin-poin apa yang ingin gue sampaikan di setiap sub-bab. Nanti setelah selesai semua, baru gue akan memulai proses menulisnya lagi.

Sebenarnya ini proyek lama yang tadinya gue kerjakan bersama seorang teman, Rezky. Ada draft yang sudah dibuat oleh Rezky juga (dibangun dari rekaman verbal saya + beberapa tulisan saya di blog). Sudah bagus sekali, tapi gue mau kasih jeda dulu dan coba bangun kerangkanya yang ideal versi gue dulu. Baru setelah itu akan dilanjut lagi dari draft yang sudah ada tadi.

Itu dulu kali ya. Sudah masuk jam kerja. Ngantor dulu, meski ga berpindah tempat.

Ketemu lagi di update berikutnya.

We Create Our Own Demons

Kalimat pembuka di Iron Man 3.

We create our own demons

Belakangan lagi kepikiran terus kalimat ini.

Kita yang bikin iblis kita sendiri. Kita yang bikin perangkap buat diri kita sendiri.

Mungkin awalnya ga berniat begitu. Ya iyalah, siapa coba yang pengen menciptakan setan buat dirinya sendiri. Yang niat dari awal buat bikin sesuatu yang nyusahin diri sendiri.

Di Iron Man 3, dilema Tony Stark ini diceritakan dengan sangat baik. Bagaimana Tony, Aldrich Killian, atau Maya Hansen di awal membuat penelitian hanya atas nama sains. Yang ternyata di kemudian hari berubah menjadi ambisi. Ambisi menggeser tujuan. Yang awalnya ingin membantu, jadi malah melukai.

I feel this kind of dilemma so many times. Itulah kenapa saya gue suka sekali film ini (meski entah kenapa banyak fans Marvel yang merasa film ini jelek sekali).

Tapi kembali ke poin pertama.

We create our own demons.

When it happens, I think there is no other way than killing the demons.

Even tho we created them in the first place.

Tenggelam Dalam

Tahu apa yang kurindukan?

Duduk terdiam di tengah malam.

Tenggelam dalam pikiran.

Lalu tanpa sadar, azan subuh sudah bersahutan.

Tahu apa yang kurindukan?

Mendengarkan musik orkestra.

Lalu hilang, hilang entah kemana.

Dielus air. Melayang ke langit. Memeluk gunung.

Ke mana saja, asal bukan di sini.

Tahu apa yang kurindukan?

Tenggelam dalam, pusaran waktu.

Tenggelam dalam, memori kehilangan.

Tenggelam dalam, hayalan tanpa batasan.

Tahu apa yang kurindukan?

Ketidakpedulian.

Pada barang. Pada nominal. Pada titel di papan.

Aku hanya ingin tenggelam dalam.

10 Buku Terbaik yang Saya Baca di 2020

Kebiasaan saya membaca buku di tahun 2020 berubah sangat signifikan.

Perubahan yang paling terasa: hampir semua buku di tahun ini saya baca dalam bentuk digital. Entah itu berupa ebook di Kindle atau Audiobook.

Faktor utamanya tentu karena tidak bisa bepergian ke toko buku. Biasanya saya membeli buku bulanan ketika kunjungan ke Mall, tapi karena aktivitas itu tidak dilakukan sejak pandemi, maka saya jadi lebih memilih membeli buku digital.

Berikut 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2020.

Keep Going — Austin Kleon

Buku Austin Kleon yang keluar di tahun 2019, tapi saya baca mendalam lagi di awal 2020. Austin Kleon adalah salah satu penulis favorit saya, dengan dua buku sebelumnya — Steal Like an Artist dan Show Your Work — merupakan buku yang sangat berpengaruh dalam mindset saya berkarya.

Keep Going membantu saya berpikir ulang tentang proses berkarya, dan bagaimana kita bisa terus konsisten membuat sesuatu. Salah satu tulisan favorit saya di buku ini berjudul Ignore The Numbers, yang saya tuliskan reviewnya di instagram.

Buku yang sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin terus konsisten berkarya.

Anything You Want — Derek Sivers

Saya lupa persisnya bagaimana menemukan buku ini, tapi ini buku bisnis berformat semi-autobiografi dengan sudut pandang yang sangat menarik. 

Derek Sivers adalah seorang musisi sekaligus pebisnis yang membangun CDBaby.com, toko CD online yang membantu musisi independen menjual musik mereka. Derek memulai CDBaby.com sejak 1998, dan berevolusi dari memfasilitasi musisi menjual musik mereka dalam bentuk CD secara online, hingga membantu musisi mendistribusikan musik mereka ke platform digital seperti Apple Music dan Spotify.

Sesuai subtitelnya — 40 Lessons for a New Kind of Entrepreneur — Derek berbagi lessons learned yang ia miliki dari pengalaman memulai, membangun, dan menjual CDBaby.com. Dengan penulisan yang lugas dan ringan dibaca, sudut pandang yang unik (contoh: Derek tidak menyarankan pebisnis untuk mengejar growth), penulis berbagi semua rahasia, kegagalan, dan filosofi dari 10 tahun pengalamannya berbisnis. Sebuah buku yang sangat saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin belajar banyak hal dari buku yang ringan.

The Ride of A Lifetime — Robert Iger

The Ride of A Lifetime ini semacam buku autobiografi Robert (Bob) Iger, ex CEO Disney yang sekarang menjabat sebagai Executive Chairman.

Buat saya, buku ini sangat menarik karena saya belajar banyak soal leadership, bisnis, dan yang paling penting: cerita di balik layar film-film favorit saya.

Bob cerita banyak lessons learned nya sebagai CEO Disney, serta cerita di balik layar akuisisi besar Disney untuk ABC network, Pixar, Marvel, Lucasfilm, dan yang terakhir 21st Century Fox. Cerita Bob sangat menarik karena dia terlibat di berbagai event besar seperti akuisisi banyak perusahaan dan transisi Disney memasuki industri Livestreaming yang menjadi ujung tombak Disney: Disney+.

Ini bacaan yang sangat menarik, apalagi jika kamu fans salah satu IP yang dimiliki Disney. Saya sendiri adalah fans berat Pixar dan Marvel, jadi buku ini tidak hanya berisi, tapi juga menyenangkan.

Saya juga sempat menuliskan ringkasan singkat soal buku ini di instagram.

The Decision — Kevin Hart (Audiobook)

Buku ini mengawali pengalaman menyenangkan saya mendengarkan Audiobook di tahun ini.

Awalnya karena pandemi, saya menonton semua Standup Special Kevin Hart di Netflix, follow @KevinHart di Twitter, dan mengetahui kalau Kevin akan launching buku terbarunya berjudul The Decision dalam bentuk audiobook, eksklusif di Audible. Sebagai bagian promonya, buku ini bisa didownload jika berlangganan free-trial Audible selama satu bulan, yang artinya gratis!

The Decision dibacakan langsung oleh Kevin Hart. Dengan gayanya yang komedik, mendengarkan buku ini seperti mendengarkannya melakukan stand-up. Bedanya ada banyak mindset dan pola pikir yang Kevin bagikan, berdasarkan pengalamannya membangun karir puluhan tahun hingga sukses seperti sekarang.

Seperti subtitelnya — Overcoming Today’s BS for Tomorrow’s Success — buku ini memang semacam buku motivasi. Kalau kamu pernah berlari sambil mendengarkan Kevin Hart di aplikasi Nike Run, nah buku ini rasanya persis seperti itu. Rasanya seperti sedang dimentori oleh Kevin Hart sebagai coach.

Kalau penasaran, download audiobooknya gratis di sini.

Atomic Habits — James Clear (Audiobook)

Tidak melebih-lebihkan, tapi Atomic Habit bisa jadi salah satu buku nonfiksi terbaik yang hampir selalu masuk top 10 rekomendasi siapapun.

Pembahasannya fokus pada metode praktis membangun kebiasaan, yang bisa diaplikasikan di berbagai kondisi, baik personal maupun bisnis.

Saya tidak akan banyak membahas buku ini. Sebagian isinya pernah saya tuliskan kembali, misalnya tentang Identity-Based Habit atau The Power of Tiny Gain. Rekomendasi singkatnya begini: pokoknya kalau belum pernah baca, harus baca buku ini. Sangat useful.

Versi audiobooknya dibacakan langsung oleh James Clear sendiri, bisa dibeli di Audible.

The War On Normal People — Andrew Yang

Tidak banyak politisi yang menuangkan gagasan politiknya secara gamblang dalam sebuah buku, bahkan sebelum melakukan campaign — atau setidaknya tidak banyak yang saya tahu. Andrew Yang adalah salah satunya.

Andrew Yang mulai dikenal saat maju sebagai salah satu kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Setelah puluhan tahun sebelumnya bekerja di Startup / perusahaan rintisan dan menjalankan program entrepreneurship, Yang masuk ke politik dengan berbagai gagasan segar dalam menciptakan lapangan kerja dan — yang paling saya suka — Universal Basic Income.

Buku ini bisa dilihat sebagai gagasan politik atau sebagai visi dari seorang entrepreneur tentang isu sosial di level negara. Banyak hal yang bisa dipelajari dari gagasan di buku ini yang bisa diterapkan, atau setidaknya jadi bahan diskusi untuk dijadikan kebijakan publik di Indonesia.

The Startup of You — Reid Hoffman & Ben Casnocha

Reid Hoffman adalah veteran Sillicon Valley, seorang investor dan salah satu co-founder Linkedin. Di buku ini, Reid membawa gagasan menarik tentang pengembangan karir: bagaimana jika kita mengembangkan karir dengan metode yang digunakan mengembangkan Startup? Bagaimana jika kita bisa melihat karir kita sebagai produk, dan membangunnya dengan metode yang terukur sekaligus adaptif?

Buku ini sangat membantu untuk kita merencanakan karir. Dipenuhi dengan berbagai studi kasus dan tips praktis, saya sangat merekomendasikan buku ini terutama untuk kita yang sedang membangun awal karir.

The Gig Economy — Diane Mulcahy

Buku ini awalnya saya baca sebagai bahan riset untuk sebuah project. Setelah membaca dua bab pertama, ternyata isinya sangat relevan dan menarik untuk dipelajari.

Buku ini bercerita tentang fenomena Gig Economy, dimana saat ini industri bergeser ke pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan berbasis project. Gig Economy membantu banyak orang untuk membangun karir yang lebih sehat, mengatur waktu dengan lebih baik, dan memiliki multiple source of income.

Tidak hanya teori, buku ini ditulis sebagai panduan. Banyak tips praktis dan halaman kerja yang bisa langsung diisi untuk pembaca bisa langsung membangun karir dari Gig Economy.

No Rules Rules — Reed Hastings, Erin Meyer (Audiobook)

Ini salah satu buku yang saya tunggu-tunggu di tahun ini.

Reed Hastings, Founder dan CEO Netflix, bercerita tentang company culture yang dibangun di perusahaannya. Culture ini yang menjadi salah satu pendorong utama Netlix menjadi salah satu perusahaan digital paling inovatif, dan bisa terus berevolusi dari tempat menyewa DVD online di tahun 1997 hingga saat ini menjadi online streaming service terbesar di dunia.

Pendekatan yang dibangun sangat radikal dengan satu tujuan utama: menarik talent terbaik untuk bekerja di Netflix. Tidak ada aturan cuti, tidak ada aturan expense, berani membayar gaji di atas rata-rata industri, dan masih banyak lagi.

Buku ini ditulis dengan dua sudut pandang: Reed Hastings sebagai orang nomor satu di Netflix, dan Erin Meyer sebagai orang luar yang diizinkan mengintip culture Netflix dari dalam.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin membangun tim dengan lebih baik.

Kamu juga bisa mengintip sedikit isi buku ini dari video singkat Reed Hastings ini.

The Bezos Letters — Steve Anderson

Salah satu praktik bisnis Jeff Bezos yang terkenal di dunia bisnis adalah surat untuk pemegang saham Amazon yang ditulisnya setiap tahun. Surat-surat ini selalu berisi berbagai insight, pola pikir, dan metode Amazon yang sangat menarik untuk dipelajari.

Steve Anderson mengompilasi surat-surat Jeff Bezos dari tahun 1997 dan menerjemahkannya menjadi 14 Prinsip Bisnis yang dijalankan oleh Amazon. Buku ini sangat kaya dengan insight untuk siapapun yang menjalankan bisnis. Belajar langsung dari insight tahunan yang dituliskan oleh salah satu pebisnis tersukses di dunia.


Itu dia 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2020.

Semoga 2021 jadi tahun yang lebih menyenangkan. Selamat tahun baru!

10 Buku Terbaik yang Saya Baca di Tahun 2019


Iya, saya tahu. Tulisan ini dipublish di Desember 2020.

Tapi kok tulisannya tahun 2019, bukan 2020?

Jadi saya punya komitmen untuk mendokumentasikan 10 buku terbaik yang saya baca setiap tahunnya, dimulai dari tahun 2017 dan berlanjut ke tahun 2018.

Sayangnya, tahun 2019 saya skip menuntaskan draft tulisannya. Sehingga di tulisan ini saya akan tuntaskan dulu daftar buku di tahun 2019, sebelum saya menulis daftar untuk tahun 2020.

Berikut 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2019.

The Visual MBA — Jason Barron

Saat memulai kuliah bisnis (Master of Business Administration) di Brigham Young University, Jason Barron memutuskan untuk mencatat semua yang ia pelajari dalam bentuk sketch ilustrasi.

Hasilnya, ringkasan kuliah MBA 2 tahun dikemas dalam satu buku yang menyenangkan untuk dibaca. Merangkum semua konsep kunci dalam bisnis dari marketing, akuntansi, strategi, hingga etika dan organisasi.

Membaca buku ini rasanya seperti skip kuliah berbulan-bulan lalu meminjam catatan senior untuk mengebut belajar karena minggu depan sudah ujian. Enaknya, senior kita ini catatannya rapi dan jago gambar, jadi semua lebih mudah diserap dalam waktu singkat.

Saya juga pernah mereview buku ini di Youtube.

The Miracle of Morning Pages — Julia Cameron

Buku ini ditulis Julia Cameron, seniman Amerika yang menulis buku terkenal tentang proses kreatif dalam membuat seni: The Artist’s Way.

Salah satu habit paling powerful yang ia jalankan untuk menjaga proses kreatifnya adalah Morning Pages, yang membuat banyak orang bertanya lebih lanjut dan melahirkan buku spin-off ini.

Singkatnya, Morning Pages adalah kebiasaan untuk menulis jurnal setiap pagi sebelum memulai aktivitas apapun, yang membantu kita mengelola pikiran, membuat ide lebih mudah mengalir, dan memicu kita lebih kreatif.

Saya juga sudah menjalankan Morning Pages dan membahas pengalaman saya di video ini.

Designing Your Life — Bill Burnett & Dave Evans

Buku yang sangat membantu saya dalam mendesain rencana hidup dengan lebih baik.

Duo penulisnya adalah expert dan pengajar program studi desain di Stanford University. Dalam buku ini, mereka mengajak kita merancang hidup dengan pendekatan desain; dengan mengenali dan memetakan masalah (kehidupan kita sendiri), menentukan target, membuat dan menguji coba prototipe, serta menyiapkan berbagai skenario untuk pivot jika hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan.

Ini buku yang sangat saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin membuat atau mengevaluasi rencana hidup. Ada berbagai panduan dan exercise yang bisa langsung kita praktikkan sesuai kebutuhan.

Pembahasan bukunya juga bisa diintip di TedTalk ini.

Thirst— Lisa Sweetingham & Scott Harrison

Judul panjangnya: A Story of Redemption, Compassion, and a Mission to Bring Clean Water to the World.

Scott Harrison dan organisasinya Charity Water adalah salah satu inspirasi saya dalam perjalanan membangun Kitabisa.com sejak 2015. Dari cerita Scott Harrison dan Charity Water saya belajar berbagai campaign kreatif untuk isu sosial dan strategi komunikasi yang efektif untuk organisasi nonprofit.

Sudah bertahun-tahun saya menonton dan mendengarkan berbagai talks dan interview Scott Harrison. Jadi ketika buku ini rilis, saya langsung bersemangat mencari buku ini ke toko buku. Asiknya, saya langsung dapat di percobaan pertama, di Kinokuniya GI.

Buku yang sangat recommended untuk siapapun yang ingin menggali inspirasi tentang misi kemanusiaan dan belajar komunikasi yang efektif untuk isu sosial.

Side Hustle — Chris Guillebeau

Diantara tren positif yang sedang berkembang di kalangan anak muda saat ini: memiliki sumber penghasilan lebih dari satu. Salah satunya dengan memiliki side hustle alias pekerjaan sampingan.

Buku ini membahas secara detil dan terstruktur bagaimana kita bisa membangun side hustle, di samping pekerjaan utama yang kita lakukan. Konten bukunya pun disusun sebagai panduan praktis yang bisa langsung dipraktikkan dalam 5 minggu, dengan instruksi detil yang harus dilakukan dari hari ke hari.

Buat saya pribadi, buku ini sangat membantu dalam mengembangkan side hustle yang saya jalankan.

Aroma Karsa—Dee Lestari

3 tahun terakhir saya jarang sekali membaca novel fiksi.

But this one is soooo good!

Nama Dee Lestari sendiri mungkin sudah jadi jaminan kualitas novel ini. Tetapi alur ceritanya sangat bagus hingga sulit membuat saya tidak menghabiskannya dalam waktu kurang dari 5 hari.

Elemen cerita yang diangkat seputar aroma mengingatkan saya pada novel klasik Perfume: The Story of a Murderer yang saya baca lebih dari 10 tahun lalu. Dikemas dengan alur petualangan serta kombinasi mitos lokal dan science fiction, membaca novel ini membuat saya menciptakan film di kepala saya sendiri.

Tinggal menunggu kapan cerita ini kelak akan diadaptasi menjadi film sci-fi yang sangat Indonesia. Semoga waktu itu segera datang.

Look forward to that!

DI’s Way Pribadi-Pribadi Yang Menginspirasi — Dahlan Iskan 

Tentang buku ini: pertama, saya kagum sekali dengan konsistensi Pak Dahlan Iskan dalam menulis. Hingga hari ini, beliau masih mempublikasikan satu tulisan setiap hari di blognya disway.id.

Kedua, menyenangkan sekali membaca cerita Dahlan Iskan yang spontan, ceplas-ceplos, tapi tetap bernas. Tulisan yang ada di buku ini dikurasi dari ratusan artikel yang sudah dipublikasikan, dan berfokus pada cerita orang-orang yang beliau temui atau kagumi, serta pelajaran yang bisa diambil darinya.

It Doesn’t Have to Be Crazy at Work — Jason Fried & David Heinemeier

Photo Source

Jason adalah founder Basecamp, team management tools yang membantu jutaan orang di dunia bekerja secara remote dengan efektif.

Bersama salah satu developer Basecamp — David Heinemeier — Jason menuliskan pemikirannya tentang filosofi budaya bekerja Basecamp yang melawan arus. Bahwa untuk membangun bisnis yang sukses, bekerja long hours dan aggresive hustle bukan satu-satunya cara.

Bekerja lembur dan kurang tidur sering menjadi kebanggaan buat banyak pekerja. Padahal menurut mereka justru sebaliknya; harusnya jadi hal yang memalukan buat pekerja dan organisasinya. Di buku ini, ,ereka menuliskan berbagai insight tentang bekerja secara efektif dan filosofi calm company.

Sangat direkomendasikan untuk mereview ulang bagaimana kita bisa lebih efektif dan bahagia dalam bekerja.

Hari-Hari Bumil — Zhou Yueyue

Buku yang saya akui agak aneh masuk dalam daftar 10 buku terbaik versi Iqbal Hariadi, haha. Tapi benar kok. Buku ini salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun ini.

Kebetulan tahun 2019 ini istri saya Chantik Mega hamil anak pertama kami, sehingga kami memang mencari berbagai buku tentang kehamilan atau mempersiapkan proses lahiran.

Buku ini adalah salah satu buku menyenangkan yang kami temukan. Penulisnya adalah seorang blogger asal China yang menuliskan diari pengalamannya menjadi ibu, dalam bentuk ilustrasi yang menggemaskan. Membaca buku ini jadi membuat saya dan Chantik tahu apa hal-hal kecil yang akan kami jalani sebagai calon orang tua, tapi dengan cara yang menyenangkan tanpa merasa sedang digurui.

Real Artists Don’t Starve — Jeff Goins

Judul panjangnya Timeless Strategies for Thriving in the New Creative Age.

Buku yang premisnya menarik buat saya — karena saya setidaknya menganggap diri saya sendiri seniman. Dan seringkali seniman meromantisasi penderitaan dan denial terhadap ketidaksuksesan dengan berlindung di balik kedok “seni”. Tercermin dalam ucapan-ucapan seperti “Ah ya wajarlah ga laku, orang ga ngerti seni gue” atau “ya gue bikin ini kan buat gue diri sendiri”, padahal ya karena tidak laku atau tidak tahu caranya menjual.

Buku ini mengumpulkan berbagai anekdot dan riset tentang bagaimana seorang seniman bisa hidup dari karyanya.




Itu dia 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2019.

Ada rekomendasi buku lain? Silakan tulis di komentar.

Seharian Bersepeda di San Fransisco

Waktu main ke San Fransisco, saya menyewa sepeda buat jalan-jalan. Salah satu aktivitas yang populer dan ramai dilakukan turis.

Tempat rental sepedanya ada di banyak penjuru kota, sangat mudah ditemukan.. Waktu itu saya menggunakan Blazing Saddles. Seingat saya harga sewanya 500ribuan untuk seharian. Harga yang sangat sepadan untuk bisa dipakai 24 jam.

San Fransisco ini kota yang sangat enak buat bersepeda. Jalanannya bagus, pemandangannya indah, dan yang sepedaan banyak jadi ga perlu takut nyasar.

Saya ambil rute menyeberang Golden Gate Bridge. Rutenya dari daerah Pier 39 – nyebrang Golden Gate Bridge – Sausalito – nyebrang balik naik kapal Ferry.

Saya menghabiskan waktu total 10 jam perjalanan, sudah termasuk banyak berhenti dan menikmati pemandangan.

Berikut videonya buat referensi yang tertarik sepedaan di SF, atau sekedar mau liburan virtual.

Semoga bisa sepedaan lagi di kota-kota lain!