10 Buku Terbaik yang Saya Baca di Tahun 2019


Iya, saya tahu. Tulisan ini dipublish di Desember 2020.

Tapi kok tulisannya tahun 2019, bukan 2020?

Jadi saya punya komitmen untuk mendokumentasikan 10 buku terbaik yang saya baca setiap tahunnya, dimulai dari tahun 2017 dan berlanjut ke tahun 2018.

Sayangnya, tahun 2019 saya skip menuntaskan draft tulisannya. Sehingga di tulisan ini saya akan tuntaskan dulu daftar buku di tahun 2019, sebelum saya menulis daftar untuk tahun 2020.

Berikut 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2019.

The Visual MBA — Jason Barron

Saat memulai kuliah bisnis (Master of Business Administration) di Brigham Young University, Jason Barron memutuskan untuk mencatat semua yang ia pelajari dalam bentuk sketch ilustrasi.

Hasilnya, ringkasan kuliah MBA 2 tahun dikemas dalam satu buku yang menyenangkan untuk dibaca. Merangkum semua konsep kunci dalam bisnis dari marketing, akuntansi, strategi, hingga etika dan organisasi.

Membaca buku ini rasanya seperti skip kuliah berbulan-bulan lalu meminjam catatan senior untuk mengebut belajar karena minggu depan sudah ujian. Enaknya, senior kita ini catatannya rapi dan jago gambar, jadi semua lebih mudah diserap dalam waktu singkat.

Saya juga pernah mereview buku ini di Youtube.

The Miracle of Morning Pages — Julia Cameron

Buku ini ditulis Julia Cameron, seniman Amerika yang menulis buku terkenal tentang proses kreatif dalam membuat seni: The Artist’s Way.

Salah satu habit paling powerful yang ia jalankan untuk menjaga proses kreatifnya adalah Morning Pages, yang membuat banyak orang bertanya lebih lanjut dan melahirkan buku spin-off ini.

Singkatnya, Morning Pages adalah kebiasaan untuk menulis jurnal setiap pagi sebelum memulai aktivitas apapun, yang membantu kita mengelola pikiran, membuat ide lebih mudah mengalir, dan memicu kita lebih kreatif.

Saya juga sudah menjalankan Morning Pages dan membahas pengalaman saya di video ini.

Designing Your Life — Bill Burnett & Dave Evans

Buku yang sangat membantu saya dalam mendesain rencana hidup dengan lebih baik.

Duo penulisnya adalah expert dan pengajar program studi desain di Stanford University. Dalam buku ini, mereka mengajak kita merancang hidup dengan pendekatan desain; dengan mengenali dan memetakan masalah (kehidupan kita sendiri), menentukan target, membuat dan menguji coba prototipe, serta menyiapkan berbagai skenario untuk pivot jika hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan.

Ini buku yang sangat saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin membuat atau mengevaluasi rencana hidup. Ada berbagai panduan dan exercise yang bisa langsung kita praktikkan sesuai kebutuhan.

Pembahasan bukunya juga bisa diintip di TedTalk ini.

Thirst— Lisa Sweetingham & Scott Harrison

Judul panjangnya: A Story of Redemption, Compassion, and a Mission to Bring Clean Water to the World.

Scott Harrison dan organisasinya Charity Water adalah salah satu inspirasi saya dalam perjalanan membangun Kitabisa.com sejak 2015. Dari cerita Scott Harrison dan Charity Water saya belajar berbagai campaign kreatif untuk isu sosial dan strategi komunikasi yang efektif untuk organisasi nonprofit.

Sudah bertahun-tahun saya menonton dan mendengarkan berbagai talks dan interview Scott Harrison. Jadi ketika buku ini rilis, saya langsung bersemangat mencari buku ini ke toko buku. Asiknya, saya langsung dapat di percobaan pertama, di Kinokuniya GI.

Buku yang sangat recommended untuk siapapun yang ingin menggali inspirasi tentang misi kemanusiaan dan belajar komunikasi yang efektif untuk isu sosial.

Side Hustle — Chris Guillebeau

Diantara tren positif yang sedang berkembang di kalangan anak muda saat ini: memiliki sumber penghasilan lebih dari satu. Salah satunya dengan memiliki side hustle alias pekerjaan sampingan.

Buku ini membahas secara detil dan terstruktur bagaimana kita bisa membangun side hustle, di samping pekerjaan utama yang kita lakukan. Konten bukunya pun disusun sebagai panduan praktis yang bisa langsung dipraktikkan dalam 5 minggu, dengan instruksi detil yang harus dilakukan dari hari ke hari.

Buat saya pribadi, buku ini sangat membantu dalam mengembangkan side hustle yang saya jalankan.

Aroma Karsa—Dee Lestari

3 tahun terakhir saya jarang sekali membaca novel fiksi.

But this one is soooo good!

Nama Dee Lestari sendiri mungkin sudah jadi jaminan kualitas novel ini. Tetapi alur ceritanya sangat bagus hingga sulit membuat saya tidak menghabiskannya dalam waktu kurang dari 5 hari.

Elemen cerita yang diangkat seputar aroma mengingatkan saya pada novel klasik Perfume: The Story of a Murderer yang saya baca lebih dari 10 tahun lalu. Dikemas dengan alur petualangan serta kombinasi mitos lokal dan science fiction, membaca novel ini membuat saya menciptakan film di kepala saya sendiri.

Tinggal menunggu kapan cerita ini kelak akan diadaptasi menjadi film sci-fi yang sangat Indonesia. Semoga waktu itu segera datang.

Look forward to that!

DI’s Way Pribadi-Pribadi Yang Menginspirasi — Dahlan Iskan 

Tentang buku ini: pertama, saya kagum sekali dengan konsistensi Pak Dahlan Iskan dalam menulis. Hingga hari ini, beliau masih mempublikasikan satu tulisan setiap hari di blognya disway.id.

Kedua, menyenangkan sekali membaca cerita Dahlan Iskan yang spontan, ceplas-ceplos, tapi tetap bernas. Tulisan yang ada di buku ini dikurasi dari ratusan artikel yang sudah dipublikasikan, dan berfokus pada cerita orang-orang yang beliau temui atau kagumi, serta pelajaran yang bisa diambil darinya.

It Doesn’t Have to Be Crazy at Work — Jason Fried & David Heinemeier

Photo Source

Jason adalah founder Basecamp, team management tools yang membantu jutaan orang di dunia bekerja secara remote dengan efektif.

Bersama salah satu developer Basecamp — David Heinemeier — Jason menuliskan pemikirannya tentang filosofi budaya bekerja Basecamp yang melawan arus. Bahwa untuk membangun bisnis yang sukses, bekerja long hours dan aggresive hustle bukan satu-satunya cara.

Bekerja lembur dan kurang tidur sering menjadi kebanggaan buat banyak pekerja. Padahal menurut mereka justru sebaliknya; harusnya jadi hal yang memalukan buat pekerja dan organisasinya. Di buku ini, ,ereka menuliskan berbagai insight tentang bekerja secara efektif dan filosofi calm company.

Sangat direkomendasikan untuk mereview ulang bagaimana kita bisa lebih efektif dan bahagia dalam bekerja.

Hari-Hari Bumil — Zhou Yueyue

Buku yang saya akui agak aneh masuk dalam daftar 10 buku terbaik versi Iqbal Hariadi, haha. Tapi benar kok. Buku ini salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun ini.

Kebetulan tahun 2019 ini istri saya Chantik Mega hamil anak pertama kami, sehingga kami memang mencari berbagai buku tentang kehamilan atau mempersiapkan proses lahiran.

Buku ini adalah salah satu buku menyenangkan yang kami temukan. Penulisnya adalah seorang blogger asal China yang menuliskan diari pengalamannya menjadi ibu, dalam bentuk ilustrasi yang menggemaskan. Membaca buku ini jadi membuat saya dan Chantik tahu apa hal-hal kecil yang akan kami jalani sebagai calon orang tua, tapi dengan cara yang menyenangkan tanpa merasa sedang digurui.

Real Artists Don’t Starve — Jeff Goins

Judul panjangnya Timeless Strategies for Thriving in the New Creative Age.

Buku yang premisnya menarik buat saya — karena saya setidaknya menganggap diri saya sendiri seniman. Dan seringkali seniman meromantisasi penderitaan dan denial terhadap ketidaksuksesan dengan berlindung di balik kedok “seni”. Tercermin dalam ucapan-ucapan seperti “Ah ya wajarlah ga laku, orang ga ngerti seni gue” atau “ya gue bikin ini kan buat gue diri sendiri”, padahal ya karena tidak laku atau tidak tahu caranya menjual.

Buku ini mengumpulkan berbagai anekdot dan riset tentang bagaimana seorang seniman bisa hidup dari karyanya.




Itu dia 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2019.

Ada rekomendasi buku lain? Silakan tulis di komentar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *