Saya Ragu di Masa Depan Ada Kesempatan Seperti Ini Lagi

Sepertinya saya berada dalam kebimbangan.

Ternyata dunia kampus lebih parah dari yang saya duga. Kini saya terjebak dalam dilema bahwa saya ingin masuk dunia pergerakan kampus. BEM, seperti terus menghantui hidup saya. Saya ingin masuk BEM. Sangat ingin. Apalagi melihat mereka para senior yang sudah lebih dulu berjuang dalam mencapai kursi di BEM (walaupun di sekretariatnya malah ga ada kursi). Mereka menggalang massa, berkampanye, dan menyusun visi dan misi. Luar biasa, di mata saya perjuangan seperti punya makna yang amazing dan sangat mahasiswa. Semua itu bisa kita lakukan hanya sekarang, saat kita masih berstatus sebagai MAHASISWA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita bisa menikmati serunya berorganisasi? Saya ragu di masa depan ada lagi kesempatan seperti ini.

Namun dilema yang saya alami adalah ketidaksetujuan orangtua saya jika saya ikut dalam organisasi. Sebenarnya kurang tepat jika dikatakan “ketidaksetujuan”, karena orangtua saya, terutama Bapak, bukannya tidak setuju tapi menolak mentah-mentah. Dia bilang ikut organisasi cuma jadi budak dan boneka mainan. Kita hanya dimanfaatkan oleh oknum tertentu, organisasi kemahasiswaan sesungguhnya hanya memberdayakan semangat kaum muda untuk menyokong tujuan-tujuan kelompok, golongan, atau partai tertentu. Orangtua saya hanya ingin agar saya serius di akademis dan terus mempertahankan IPK diatas 3,5. Sepertinya bayangan kakak saya yang lulusan FIB dengan predikat Cum Laude menjadi patokan bagi saya. Bapak saya tidak mau tahu, pokoknya saya harus seperti kakak saya : Kuliah bagus, IPK tinggi, lulus Cum Laude, dapet beasiswa dan cabut ke luar negeri.

Yah, baiklah mungkin ada benarnya. Saya bukannya tidak mau seperti kaka saya, tetapi saya ingin mengambil jalan lain. Jalan yang saya anggap sesuai dengan prinsip dan idealisme yang saya pegang. Saya tahu sangat sulit untuk bisa sukses di akademis dan organisasi sekaligus, karenanya Bapak saya melarang karena dia hanya ingin saya sukse s di akademis. Padahal, jujur saya tidak ingin terlalu sukses di akademis jika memang itu adalah harga yang harus saya bayar jika mengambil jalur organisasi. 

Baiklah, tulisan ini saya tulis di MUI jam 19.55. Semua lampu sudah mati kecuali lampu mimbar dan tidak ada seorang pun disini, hanya saya, sendiri. Besok UTS matematika dan saya belum terlalu siap. But it will be fine.

Well, cukuplah curcol untuk hari ini. Mungkin tulisan ini akan menjadi pemicu saya untuk menulis sebuah buku suatu saat nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close