GUE ANAK FISIP, BANGGA. GUE ANAK MIPA?

Sampah. Saya akui fakultas saya sampah.

Jangan salah kaprah. Mungkin memang terdengar sedikit kasar atau tidak layak, tapi jujur saya katakan, I DEFINITELY DISAPPOINTED WITH FMIPA. Sebuah kekecewaan yang sebenarnya tak ingin saya nyatakan.

Siang ini saya pergi ke perpustakaan pusat. Saya mencoba mencari buku tentang lingkungan, karena sepertinya saya mulai tertarik dengan masalah ekologi dan environmental issues. Kompi Perpus menuntun saya untuk datang ke rak 333, tempat buku tentang lingkungan dan ekologi bersarang.

Pada awalnya, saya ingin membaca buku yang sering saya dengar dari orang-orang: AMDAL – Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tapi Tuhan berkehendak lain (halah). Langkah saya berhenti dan tanpa sadar tangan saya mengambil sebuah buku bersampul hijau : KUMPULAN ESAI BLITS 2008 – SEBUAH ASPIRASI UNTUK LINGKUNGAN. Saya melihat lambang UI di bagian depan sampul, yang berarti bahwa buku ini terbitan lokal kampus.

Saat saya membuka halaman halaman awal, saya terhenyak. Kata pengantar disampaikan Dekan FISIP dan Ketua BEM FISIP 2008. Mengapa ada orang FISIP di buku lingkungan ini?

Saya membaca terus dan kembali terhenyak. Buku itu adalah kumpulan esai anak anak FISIP dalam kompetisi menulis aspirasi mereka mengenai peran manusia dalam menjaga lingkungan. Saya membaca judul-judulnya, dan oh, saya malu sekaligus marah. Solusi-solusi yang ditawarkan oleh anak-anak FISIP itu luar biasa, mereka sangat menunjukkan bahwa GUE ANAK FISIP, GUE GA APATIS TERHADAP LINGKUNGAN.

Saya bukannya tidak menghargai apa yang dilakukan FISIP. Tetapi saya marah dengan Fakultas saya, Jurusan saya, FMIPA, Biologi. Dan entah saya marah kepada siapa. Kenapa kita cuma diam? Bukankah kepedulian terhadap lingkungan seharusnya menjadi identitas kita, kenapa FISIP yang harus memulainya? Lalu dimana kita, cuma diam, belajar, menjadi fakultas terpojok dan bengong tanpa punya ciri dan aksi nyata?

FISIP telah memulai kepedulian mereka terhadap lingkungan, yang digerakkan oleh BEM mereka. Salahsatu langkah fundamental yang diambil adalah adanya peraturan bahwa semua karya tulis di FISIP harus diprint bolak-balik untuk menghemat kertas. Bukan hanya berlaku bagi mahasiswa biasa, bahkan langkah cerdas ini telah disetujui oleh Dekanat dan menjadi standar pembuatan skripsi dan Laporan Pertanggungjawaban sampai di tingkat Dekanat. Selain itu juga diterapkan SOP berbasis lingkungan dalam penggunaan ruangan seperti batas penggunaan AC, jam pemakaian lampu, dan sebagainya. Langkah luar biasa yang bahkan samapi sekarang kita tidak melakukan apa-apa.

Saya tidak tahu siapa yang patut dipersalahkan. Kita kah sebagai mahasiswa, BEM kah sebagai badan eksekutif, Dekanatkah sebagai pengelola regulasi, atau FISIP kah yang mengambil “identitas kita”? Saya tidak tahu yang mana, tapi saya yakin bukan yang terakhir.

Anda tahu jargon FISIP?

GUE ANAK FISIP. Bangga.

GUE ANAK MIPA? 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close