Orang Dewasa

Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingin segera menjadi dewasa. Saya pikir, menjadi dewasa itu enak; menikmati kehidupan dewasa, pulang pergi tempat kerja yang ber-AC, menghasilkan uang dan mendapatkan apa yang kita ingin punya. Mungkin menyenangkan bekerja di gedung-gedung tinggi itu atau di tempat-tempat yang jauh, sering jalan-jalan jadinya. Ketika kuliah, tepatnya saat saya duduk satu bus bersama mereka, orang-orang dewasa itu, ada satu gambaran yang saya tangkap mengenai keseharian mereka:

Setiap pagi mereka berjalan dan berlomba masuk ke bus yang menuju tempat kerja. Jika tidak dapat tempat duduk, mereka rela berdiri. Jika tidak dapat tempat di dalam, mereka rela bergelantungan di pintu. Jika tidak dapat juga, mereka akan menunggu lagi bus selanjutnya sambil berpanas-panasan, bertahan dari sengatan matahari pagi. Perjalanan dari satu terminal ke terminal lain, lalu tak jarang disambung ke terminal lainnya, mereka lewati untuk sampai ke tempat tujuan. Setiap pagi, setiap hari, sepanjang tahun kecuali hari libur yang jarang sekali didapat. Setelah sampai tempat kerja, mereka langsung disuguhkan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Tak jarang pula ada teman sekantor yang cari gara-gara dengan menumpahkan segelas kopi ke kertas kerja yang akan diserahkan kepada atasan nanti siang. Mau memaki-maki, dia tidak sengaja. mau membiarkan, rugi besar. Dengan terpaksa mereka harus memulai kerjaan yang tadi rusak dari awal dan harus sudah selesai pada deadline nanti siang. sorenya saat pulang, mereka kembali bertemu kemacetan dan membawa oleh-oleh setumpuk pekerjaan tambahan untuk laporan kepada atasan. Kemacetan sangat parah sore ini karena banjir dimana-mana. Ditambah lagi, saat masuk jalur alternatif, ada metromini ugal-ugalan yang menabrak trotoar, berhenti total hingga beberapa jam. Sampai rumah jam setengah dua pagi, mati listrik karena hari ini jadwal pemadaman. Mereka terpaksa tidur beberapa jam dan kembali bangun paginya untuk kembali bertemu kemacetan, kembali bertemu setumpuk pekerjaan, kembali dibikin kesal oleh rekan kerja, kembali pulang larut malam karena dihadang macet.

Siklus seperti itu membuat saya ingin tetap menjadi mahasiswa. Pagi bisa membaca buku pelajaran, jalan ke kampus tanpa macet, bergaul dengan teman di kelas, menjadi eksis dengan ikut kegiatan tertentu, dan pergi kemanapun saya suka bersama pacar. Kadang kebebasan yang demikian tanpa kita sadari akan hilang seiring kita menjadi dewasa. Maka saya berusaha semaksimal mungkin untuk menikmati masa muda yang sekarang saya punya. Karena beberapa tahun lagi, ketika lulus kuliah, saya tahu bahwa saya akan sama seperti mereka, dengan rutinitas yang sama sepanjang tahun.

Bangun pagi. Terminal. Bus. Macet. Tempat kerja. Bus. Macet. Tidur nyenyak.

Selamat malam

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.