Saya Naik Sepeda (1)

Awalnya memang sudah lama.

Kelas 3 SD. Itu 11 tahun yang lalu.

Sudah 2 tahun saya pergi sekolah diantar tukang ojek. Sekolah saya memang agak jauh dari rumah, dan orang tua saya memilihkan ojek sebagai transportasi pulang-pergi sekolah. Saat itu saya masih bocah memang. Jam setengah 7 sudah harus siap-siap, dan jam 7 sudah harus benar-benar siap, karena jam 7 itulah ojek nya sudah siap mengantar saya sekolah. Tak boleh telat, abang ojek masih punya orderan lain selain mengantar saya. Jam 1 siang seusai sekolah saya sudah harus siap di gerbang sekolah, abang ojek pasti sudah standby dan siap menjemput. Lagi-lagi tak boleh telat, abang ojek masih punya orderan lain selain menjemput saya. Lama-lama saya bosan dan bosan. Kok pergi-pulangnya saya ke sekolah tidak ada asiknya sama sekali. Akhirnya saya bilang ke bapak, saya ogah terus-terusan naik ojek. Kaya anak manja. 

Akhir kelas 2 SD, saya dibelikan sepeda. Waktu itu Bapak mengajak kami pergi ke Pasar Rumput. Disana ada toko dengan ratusan sepeda, mulai dari yang baru sampai yang bekas. Saya dibelikan sepeda bekas. Saya agak lupa sepedanya seperti apa. Yang saya ingat warnanya dominan hitam dengan beberapa goresan hitam. Ingatan tentang membeli sepeda di Pasar Rumput telah kabur di ingatan saya sekarang. Tujuh tahun kemudian, saat saya mulai terbiasa pergi naik TransJakarta dan transit di Dukuh Atas, saya baru tahu dimanakah letak Pasar Rumput sebenarnya.

Nah sejak itu saya ke sekolah naik sepeda. Menyenangkan, asik bukan kepalang. Setiap pagi berangkat sekolah, saya merasa memulai petualangan baru. Mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi di jalan raya, gesit menyelinap diantara mobil dan motor yang mengantri giliran memasuki tikungan (baca: macet), diklakson kendaraan ditambah sumpah serapah karena saya sering membuat mereka ngerem mendadak, waaah, saya jadi selalu bersemangat pergi ke sekolah. 

Lalu karena (akhirnya) bosan tiap hari kena macet, saya mencari jalan alternatif. Setiap pulang sekolah, saya bersama teman-teman yang juga bersepeda mengeksplorasi jalan-jalan alternatif yang menghubungkan kompleks rumah dengan sekolah kami. Jalan yang kami temukan adalah melewati daerah kampung, dan semakin hari semakin banyak jalan yang kami temukan. Kami menyebutnya jalan rahasia, hahaha. Tak jarang kami mengalami hal-hal seru, ban bocor kena paku, sepeda harus diangkat karena jalan tanah berlumpur, dipalak, sampai berantem dengan anak kampung. Tak jarang pula pengalaman kami kombinasi dari hal-hal tadi, misalnya berantem sama anak-anak kampung karena dipalak saat kami harus berhenti oleh ban bocor kena paku. Setiap pulang-pergi sekolah kami temukan jalan baru, petualangan baru, dan tentu saja pengalaman yang baru.  

Kelas 4 SD. Itu 10 tahun yang lalu.

Bapak saya mengajak kami sekeluarga jalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta. Sepekan sebelumnya, saya sudah dijanjikan akan dibelikan sebuah sepeda baru. Waah, rasanya waktu itu gembira luar biasa. Dua hari sebelumnya, bapak saya sudah punya brosur katalog sepeda merek Polygon. Isinya gambar puluhan jenis sepeda Polygon beserta spesifikasi dan tentu saja harganya, mulai dari jenis sepeda bocah, sepeda gunung, sampai sepeda tandem yang bisa dibawa berdua bahkan bertiga. Setiap hari kerjaan saya dan kakak saya hanya melihat-lihat brosurnya, menunjuk sepeda-sepeda yang mungkin bagus untuk kita beli nantinya. Saat itu kami sepakat pada satu jenis sepeda, Polygon Rapid. Di katalog, ada dua opsi warna; silver dan merah. Dari fotonya saya lebih suka yang merah, sedangkan kakak saya memilih yang silver. Ah, lucunya mengingat waktu itu kami berdebat soal warna sepeda, sedangkan Bapak dan Ibu masih berdebat soal harganya. 

Saya ingat harganya Rp 1.050.000. Itu adalah barang termahal yang pernah Bapak belikan buat saya. Tak pernah sebelumnya Bapak membelikan saya barang yang mahal. Saya menghela napas, ini hadiah dan pengorbanan Bapak untuk saya. Setelah pulang dari PRJ, dengan Polygon Rapid di bagian belakang mobil kami, saya berjanji dalam hati. Sepeda ini akan saya jaga dan saya jadikan teman sejati. Dan sampai saya lulus Sekolah Dasar, Polygon Rapid setia menemani kemana saya pergi. 

Kelas 3 SMP. Itu 5 tahun yang lalu. 

Sudah 3 tahun saya tidak bertemu dengan Rapid. 3 tahun sudah saya di Pesantren, dan Rapid saya tinggal di rumah. 

Hari itu, saudara kandung Bapak saya yang tinggal di Tasikmalaya meninggal dunia. Sontak, Bapak saya membawa semua keluarga pergi melayat. Saya yang di pesantren, karena ribet dan mengeluarkan biaya yang lebih banyak jika harus ikut juga, akhirnya tidak diajak. Keluarga saya di Tasik selama satu pekan. Ketika mereka akhirnya pulang, mereka kaget karena kehilangan dua hal. Kehilangan itu dirahasiakan dari saya sampai dua bulan kemudian saya pulang ke rumah untuk liburan.

Sampai di rumah saya baru diberi tahu soal dua kehilangan itu. 

Kami kehilangan Rapid dan Ikan Arwana.

*soal ikan arwana bolehlah diceritakan lain kali, sekarang kita fokus soal sepeda*

Kami kehilangan Rapid. Rapid diangkut orang, entah kemana, entah diapakan. Saya menganga tidak percaya. Sulit dipercaya, Rapid hilang diangkut orang. Menyedihkan T_T.

Sejak itu, saya yang memang terus di pesantren tak lagi beli atau dibelikan sepeda. Pertama, karena saya pun tidak secara langsung membutuhkan sepeda. Yang kedua, karena orang tua saya tidak lagi punya banyak uang. Harus saya terima. 

Perjalanan saya bersama sepeda berakhir sudah. Entah kapan lagi saya bisa berpetualang lagi bersama sepeda. Saya hanya berdoa semoga Tuhan mendengar setiap doa dan harapan saya untuk bisa berpetualang lagi bersama sepeda. Amin.

==Bersambung==

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.