Sekjen PBB

Sekjen PBB.

Mengapa begitu banyak orang yang bercita-cita menjadi sekjen PBB? Entahlah, saya pun tidak begitu mengerti. Saya baru saja membaca blog seorang teman. Dia adik kelas saya, dan baru saja diterima di jurusan bergengsi di universitas terbaik di negeri ini. Saya melihat blognya dan menemukan tulisannya tentang jurusan impiannya saat SMA. Tulisan itu tentu saja ditulisnya sebelum diterima menjadi mahasiswa. Ternyata jurusan yang dia dapat – walaupun sangat bergengsi – bukanlah jurusan impiannya saat SMA. Jurusan impiaannya adalah Hubungan Internasional (Hereinafter will called HI).

Saya terus membaca. Kenapa ingin masuk HI? Dia bilang dengan sederhana, karena saya ingin menciptakan perdamaian dunia. Lalu kenapa harus masuk HI untuk menciptakan perdamaian dunia? Karena saya ingin menjadi sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Salahsatu sahabat terdekat saya adalah orang yang bervisi sama saat SMA. Sekjen PBB, impian yang ditulisnya setiap hari di buku pelajaran apapun di kelas. Motivasi terbesarnya dalam melaksanakan aktivitas yang menyibukkannya setengah mati. Dia sibuk belajar bahasa Inggris, TOEFL, dan membaca kamus Oxford setebal 1876 hlm di waktu luang seakan sedang membaca Harry Potter. Dia menonton semua pidato tokoh terkemuka. Setiap hari dia mengajak saya datang ke kantor guru untuk membaca The Jakarta Post, koran berbahasa Inggris yang mampir di sekolah terpencil kami setiap hari. Dia belajar menulis setiap hari. Dia membaca semua pelajaran sosial sementara kami adalah anak IPA – di sekolah kami tidak ada kelas IPS. Semuanya, semuanya dilakukan untuk menjadi Sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Sebenarnya bukan hal yang mengagetkan mengapa jabatan itu sangat populer dan menjadi impian dan cita-cita. Secara kasat mata, Persatuan Bangsa-Bangsa adalah organisasi terhebat di dunia. Jika diatas desa ada kota, di atas kota ada provinsi, dan di atas provinsi ada negara, maka di atas negara hanya ada Persatuan Bangsa-Bangsa. Implikasinya, jika kesuksesan dan kejayaan diukur dari jabatan pemerintahan yang Anda pegang, maka di atas kepala desa ada walikota, di atas walikota ada gubernur, di atas gubernur ada presiden, maka satu-satunya yang ada di atas presiden adalah sekjen PBB. Yang sejajar dengan sekjen PBB hanyalah presiden Amerika, dan satu-satunya yang ada di atas mereka hanyalah Tuhan. Maka sekjen PBB adalah dewa. Siapa manusia biasa yang tak ingin jadi dewa? Tak heran banyak orang ingin jadi sekjen PBB.

Gantengnya Sekjen PBB

Sekjen PBB. 

Tak salah memang. Lihat saja betapa gantengnya Kofi Annan dalam fotonya yang sedang berpidato dengan background lambang PBB. Sangat ganteng dan berwibawa. Saya punya teori bahwa kegantengan seseorang berbanding lurus dengan jabatannya. Teori ini saya rumuskan karena melihat perbedaan ketampanan seorang kawan sebelum dan sesudah dia menjabat sebagai ketua BEM. Entah mengapa setelah menjadi ketua BEM dia terlihat lebih tampan. Saya tidak homo, karenanya saya buktikan teori saya dengan melakukan survey kepada teman-teman wanita saya. 98 % setuju, ketampanan seseorang meningkat seiring semakin tingginya jabatan mereka.

Baik, kembali ke topik. Soal apa tadi, ah, soal sekjen PBB.

Pertanyaannya, mudahkah menggapai mimpi menjadi sekjen PBB? Jawabannya sama seperti maukah anda makan tahu busuk untuk sarapan nanti pagi. Tentu saja tidak.

Saya pribadi sih belum membaca bagaimana biografi Ban Ki Moon atau Kofi Annan. Tapi sepertinya tipikal cerita mereka yang menggapai kesuksesan dari bawah. Susah, penuh tantangan dan sama sekali tidak mudah. Kerja keras, butuh lebih dari itu untuk bisa menggapainya. Seperti juga impian lainnya. Kita bisa menggapainya jika kita berani untuk terus percaya, bahwa siapapun bisa lebih dari sekedar merengek hujan rezeki di kaki langit. Kita akan menncapainya, naik ke langit tertinggi dan punya awan sendiri, agar kita bisa mengatur seberapa banyak hujan rezeki yang ingin kita miliki. 

Ayolah kawan, Sri Mulyani pun bisa kok jadi petinggi di Bank Dunia, masa kalian ga bisa jadi Manusia nomor satu di Persatuan Bangsa-Bangsa? 

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.