Saya Ini Orang Mana?

Sebenarnya membingungkan, saya ini orang mana?

Baik, mari kita luruskan permasalahannya. Saat ini saya baru kepikiran serius saya ini orang mana. Maksudnya ras, iya, masalah ras dan suku. Saya tidak begitu yakin soal saya-ini-orang-apa karena saya memang tidak jelas. Bukan karena orang tua saya tidak jelas, tapi ya, nanti deh di paragraf berikutnya saya jelaskan. Sebelumnya saya tidak pernah memikirkannya secara serius, toh suku apapun bukan masalah bagi saya. Saya sudah terbiasa dengan perbedaan dan Rasul pun mengajarkan tak perlu lah kita membeda-bedakan satu dengan yang lain karena kulitnya – yang dalam kata lain karena ras atau sukunya. 

Jadi begini. Bapak saya memiliki ayah asal Kebumen. Kakek saya ini seorang militer, saya hanya tahu dari fotonya, karena Bapak pun hanya lima tahun hidup bersama Kakek. Sejak bapak saya kecil, mereka sudah tinggal di Jakarta. Kakek meninggal saat bapak lima tahun, dua tahun kemudian nenek menyusul. Bapak yang masih bocah tinggal di Jakarta diasuh bergantian oleh adik-adiknya Kakek. Sejak kecil bapak tumbuh di Jakarta, sekolah, bermain, bergaul dan hidup di Jakarta. Dia bekerja sebagai montir, tukang cuci motor, bermain di daerah Pasar Baru, dan daerah urban di pusat kota. Kehidupan kecilnya membesarkan ia dengan kehidupan jalanan Jakarta. Walhasil, saat besar pun bapak sangat seperti orang Jakarta.

Ibu saya, seorang tipikal wanita daerah. Lahir, besar, dan hidup di Samarinda, kota besar nun jauh di Kalimantan Timur sana. Takdir cinta mempertemukan ayah saya yang orang Jakarta dengan ibu saya yang orang Samarinda. 

Saya anak kedua. Saya dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dan ya, saya tidak bisa berbahasa Kalimantan. Saya hanya tinggal disana 3 tahun, sebelum saya sepenuhnya sadar menjadi bagian dari dunia, saya sudah berada di tanah ibukota.

Jadi, saya orang mana?

Sebenarnya tak pernah penting dalam hidup saya, saya ini orang mana. Apa esensinya mengetahui Anda orang mana, jika memang itu sukar ditentukan? Stimulus penting yang membuat saya sedikit berpikir mengenai ketidakpentingan ini – dalam hemat saya tentu saja – adalah ceplosan bahwa saya dilarang mendekatinya jika di darah saya mengalir darah orang Jawa. Ohshit, separah itukah orang jawa? Apa salah mereka, apa karena mereka lambat, atau karena semua presiden Indonesia orang Jawa? Lalu bagaimana jika ternyata saya salah satu diantara mereka? 

Ketidakpentingan itu akhirnya naik ke tingkatan kelumayanpentingan untuk dipikirkan. Penelusuran membawa saya kepada fakta bahwa dalam tubuh saya mengalir darah jawa dari kakek saya. Sepah dan lalu dibuangkah saya? Entahlah, mungkin keberagaman suku dan ras yang kemudian bercampur menjadi satu dalam tubuh seseorang bisa menjadi alasan untuk menyalahkan rasa dan logika.

Jadi, saya ini orang mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close