Homophobic (1) – Anti Banci, Gay, dan Lesbian

Homophobic? Istilah yang saat pertama kali mendengarnya, saya mengernyitkan dahi. 

Istilah ini saya temukan terkait kejadian yang terjadi pada suatu kegiatan kegiatan mahasiswa baru yang saya adakan di kampus, dimana saya berperan sebagai panitia. Dalam acara yang melibatkan mahasiswa baru UI sebagai pesertanya tersebut, salah seorang pembicara yang berperan sebagai motivator memperlihatkan slide dengan gambar sepasang remaja dengan seragam SMP melakukan ciuman, dan najisnya keduanya adalah laki-laki.

“Begini nih anak muda jaman sekarang. Sama-sama cowo! Ciuman!”, teriaknya sambil menggelengkan kepala dan belagak menggigil “hiii” pertanda jijik.

Saya yang ikut melihat slide itu pun bergidik ngeri. Kata pertama yang terlontar dari mulut saya adalah ‘najis’, kata terbaik untuk mengatakan betapa jijiknya saya terhadap sesuatu. 

Beberapa waktu setelah itu, SUMA – Badan Pers independen di UI – meliput hal ini dan mengatakan bahwa telah terjadi penyebaran paham ‘Homophobic’ kepada mahasiswa baru di UI. SUMA menyebut-nyebut bahwa sang motivator yang memperlihatkan gambar dua remaja cowo berciuman itu sebagai sesuatu yang tidak sesuai norma. Baru setelah itu saya tahu bahwa ‘Homophobic’ berarti paham yang anti homo – anti gay dan anti lesbian. Lalu muncul spekulasi dan banyak suara disana-sini. 

Lalu terjadilah ‘sedikit’ perdebatan terkait isu homophobic yang dianggap tidak layak dibahas di ruang publik, apalagi kepada mahasiswa baru di UI. Banyak kalangan yang menyayangkan kenapa panitia bisa kecolongan sampai pernyataan yang bernada homophobic bisa terlontar kepada mahasiswa baru. Ah, tapi saya tidak mau membahas masalah ruang publik atau apapun. Disini, saya mau menegaskan tentang homophobic.

Homphobic gampangnya adalah paham anti homoseksual. Kalo saya ditanya, apakah saya homophobic, saya akan dengan yakin menjawab IYA. Ya, saya anti banci, dan saya benci banci. Saya anti homo, dan saya benci mereka yang homo. Homo adalah satu fenomena yang tak ingin saya mengerti sampai sekarang. Perasaan benci saya terhadap mereka yang homo adalah atas dasar sebuah kebingungan. Anda dihadapkan pada kesempatan memilih wanita yang diciptakan cantik untuk Anda, kenapa malah memilih pria?

Pernyataan bahwa saya tidak ingin mengerti adalah karena kemudian banyak muncul pembelaan terhadap mereka yang homo. Ada kelainan psikologis, gangguan di dalam diri yang memunculkan timbulnya rasa terhadap sesama jenis, dan seterusnya dan seterusnya yang kemudian memunculkan kata toleransi. “Ya, mereka kan jadi homo bukan mereka yang mau, toleransi lah”. Begitu kan yang sering anda dengar? 

Namun perlukah saya mentoleransi mereka yang banci dan homo? Oke. First thing, apapun alasannya, menjadi bencong adalah salah. Tuhan adalah Dia yang Maha Sempurna dan tahu segalanya. Tuhan hanya menciptakan pria dan wanita, dan how dare you melangkahi Tuhan menciptakan kelamin jenis baru? Bencong dan banci adalah mereka yang yang transeksual dari laki-laki menjadi wanita. Beberapa orang memberikan definisi yang berbeda antara bencong dan banci. Bencong adalah mereka yang bergaya layaknya wanita, sedangkan banci adalah mereka yang benar-benar merubah orientasi seksual. Bencong hanya wanita secara penampilan, sementara banci adalah mereka yang gay dan memang bencong. Jadi tidak semua bencong adalah banci tapi semua banci pasti bencong. Sebuah misteri (menjijikan) yang tidak (pernah ingin) saya mengerti adalah melihat makhluk laki-laki berpakaian wanita, memakai bra, memakai rok, memakai stoking, memakai lipstik, memakai wig, berbulu mata lentik, lalu melenggak lenggok berlagak cantik. 

Oke, semua ketidakjelasan tentang perbencongan dan perbancian adalah hal absurd. Mereka yang bencong dan banci adalah mereka yang harusnya disisihkan. Anda boleh mengecap saya ekstrimis dalam hal ini, tapi ya, saya memang ekstrim dalam menghakimi para homo. Saya homophobic – saya anti homoseksualitas dan anti dunia perbencongan.

Tentang homophobic dan bagaimana isu ini seharusnya dikomunikasikan di ruang publik, we’ll talk about it later

Salam homophobic.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.