Kamera (1)

Iri. Sebuah kata yang selalu berkonotasi negatif bagi saya pribadi.

Iri, pada akhirnya bisa berarti dengki. Dengki, pada waktunya bisa berbuah benci. Benci, adalah hal terakhir yang harus Anda simpan untuk diri sendiri, karena tak pernah sekalipun ada benci yang didasari iri dan dengki bisa berbuah semanis buah berminyak atsiri. Entah kenapa saya ingin menulis tentang iri.

Karena saya sebenarnya sedang iri. Banyak yang menyebabkan saya iri. Saya ini bukan orang yang berada sekali. Miskin sih tidak, tapi orang tua saya bukan tipe orang tua yang dengan mudah membelikan atau memberikan apapun yang anaknya inginkan. Bukan karena mereka tak mau, tapi seringkali mereka tak mampu. Seingat saya sudah 3 tahun belakangan saya tak pernah minta dibelikan apapun kepada orang tua saya. Jika saya menginginkan sesuatu, saya tak minta, tapi menunggu mereka yang menawarkan. Lancang rasanya mulut ini meminta sesuatu yang saya inginkan sementara mereka tak mampu membelikan. Satu hal yang tiga atau mungkin empat tahun terakhir saya inginkan melebihi apapun dalam hidup saya, yang juga menjadi awal dari cerita ini, adalah kamera.

KAMERA. Sebuah kotak dengan kaca dan diafragma. Sebuah mesin dengan pesona cahaya dari sebuah lubang bernama lensa. Saya lupa kapan saya mulai menginginkan kamera. Mungkin sejak dahulu ketika di pesantren, Alif membawa kamera dan mengajarkan fotografi, permainan sederhana dalam menyeimbangkan cahaya dan warna menjadi seni karya yang memesona. Saya ingat betapa saya selalu menginginkan menjadi panitia dokumentasi, karena dengannya, saya bisa memegang kamera.

Beranjak ke dunia mahasiswa, saya menemukan arti lebih untuk fotografi yang ingin saya jadikan sebagai bagian dari hidup saya. Bapak saya memberi saya Handphone Nokia, saya lupa jenisnya. Nokia biasa yang bisa sms dan telpon siapa saja. Beruntung bagi saya, seharusnya bapak tidak bisa membelikan hape semacam itu bagi saya, tapi bapak mendapatkannya gratis karena itu merupakan hadiah Doorprize dari kantor tempat bapak bekerja. Hebatnya, hape itu punya kamera. 2 Megapixel, biasa saja. Tapi setidaknya saya bisa berkamera ria.

Awal menjejaki kaki ke Universitas terbaik di Indonesia, saya masih sering kemana mana bersama Alip. Bahagianya Alip, bapaknya menjanjikan hadiah jika dia berhasil masuk universitas Indonesia. Saat itu, sebagai sahabat terbaik, Alip memberitakan kebahagiannya kepada saya. Dia dibelikan kamera. Nikon D70. Alip mengajak saya kemana-mana bersama kamera, orang baru punya kamera, tentu saja hunting photo. Sebagai sahabat, tentu saya ikut senang. Sahabat mana yang tak senang teman terbaiknya berbahagia? Tapi diri saya yang entah bagian mana tersinggung dan kecewa. Saya juga berhasil masuk UI. Orangtua saya tak memberi saya apa-apa, tapi kenapa dia bisa mendapatkan kamera? Saya hanya bertanya-tanya, entah pada siapa.

Agustus 2010, saya bertemu keluarga baru di jurusan Biologi bernama BIOGENESIS. Mereka teman seangkatan di jurusan. Hari itu, 28 Agustus, saya meminjam kamera Alip dan berlagak seorang fotografer. Saya membawa kekeran dan menjepret sana sini. Saya petantang petenteng sambil pencet tombol, buka rana kamera sesuka hati. Asik, sebagai pemula yang bahkan masih payah mengatur cahaya dan suhu warna, saya bahagia. Saya bahagia mengabadikan potret teman yang senyum dan tertawa. Saya bahagia menjadi orang dermawan yang berkorban untuk menangkap momen kebersamaan yang langka. Saya merasa bahagia bersama kamera. Sejenak bahagia, tentu saja.

Untuk kemudian saya tersadar, itu bukan milik saya. Saya belum punya kamera.

Walaupun begitu, sejak itu, saya dianggap sebagai juru kamera. Hebatnya kepercayaan menjadi juru kamera, menjadi mudah bagi saya meminjam kamera teman. Dengan memberikan kameranya kepada saya, mereka percaya dokumentasi akan baik dan semuanya akan baik-baik saja. Saya meminjam kamera Ayu. Saya meminjam kamera Aul. Saya meminjam kamera Smartphone Abi. Saya meminjam kameranya. Saya meminjam kamera, lagi, lagi dan lagi. Dan begitulah selama setahun terakhir saya mengembangkan minat saya pada kamera.

Minat saya pada pesona gambar dan kumpulan pixel yang merona. Pada keindahan cahaya dan goresan warna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close