Teori Kampungan

12 Oktober 2010

Membaca buku The Rebel Sell, saya jadi mengerti satu teori penting meeengenai kehidupan di zaman kayak gini. Pribadi, saya menamakannya Teori Kampungan.

Bagi kebanyakan remaja, mereka pasti punya banyak hal keren. Baju distro, band pujaan, sampai semua gaya, pasti ada yang namanya keren. Sesuatu yang tidak termasuk dalam kategori keren, itulah yang disebut dengan kampungan. Masalahnya adalah, apakah kampungan itu benar-benar kampungan? Apakah kampungan itu memang berselera rendah dan tidak berkualitas? Apakah keren itu sesuatu memang lebih keren dari kampungan?
Daripada bingung, mending kita ambil contoh saja. Beberapa tahun belakangan ini, industri musik Indonesia sedang mekar. Band-band dan grup musik bertaburan, meramaikan ranah Lagu nusantara yang makin berwarna. Tiba-tiba, tahun 2007 vokalis Naif mengecam secara langsung grup musik Kangen Band. Kangen Band dianggap merusak musik Indonesia, dengan lagu yang cupudan tampang personelnya yang kampungan. Lantas, Kangen Band dicap sebagai band dengan musik rendahan, dan disebut sebagai Band kampungan.

Tapi benarkah Kangen Band kampungan?

Bila benar kampungan, maka Kangen Band tidaklah keren. Dengan kata lain, musik mereka tidak laku dan tidak disukai. Pada kenyataannya, lagu-lagu mereka digandrungi. Penjualan album mereka sampai mendapat platinum, hit mereka selalu booming dan menempati chart teratas, mengalahkan band-band yang dianggap keren. Semua kalangan, anak-anak, remaja, ibu-ibu, mengenal lagu mereka. Jadi bagaimana kita menjelaskan bahwa Kangen Band kampungan, padahal musik mereka laku  keras dan digandrungi jutaan orang?

Penjelasannya sederhana saja. Kangen Band tidaklah kampungan, musik mereka tidaklah norak. Penjualan kepingan album di tengah maraknya pembajakan adalah sebuah pengakuan dan apresiasi yang nyata: musik mereka berkualitas. Ngapain sih orang beli album asli kalai musiknya ecek-ecek, kenapa ga beli yang bajakan? Maka satu-satunya alasan mengapa orang menyebut mereka kampungan adalah karena mereka laku. Karena jutaan orang telah menjadi pengikut Kangen Band, maka status keren perlu dialihkan pada Band yang belum menjadi mainstream banyak orang. Dalam artian lain, orang malu untuk mengakui karena sudah rame oleh orang-orang. Akhirnya orang-orang harus mencari status baru dan mulai mencap mayoritas sebagai kampungan, agar status mereka menjadi keren.

Penjelasan yang sama bisa diberlakukan pada website social network. Awalnya friendster lah yang menguasai Indonesia, maksudnya paling banyak penggunanya. Waktu muncul facebook, orang langsung beralih dan mengatakan bahwa FS kampung. Sekarang orang rame menggunakan facebook. Karena sudah rame dan jamak, sebagian mulai beralih ke twitter dan lagi-lagi mengatakan bahwa facebook kampung. Siklus ini akan terus berlanjut. Pada dasarnya tidak ada yang berubah. Kualitas fs tidak berubah menjadi jelek, twitter pun tidak lebih baik dari facebook. Ini hanyalah masalah gengsi dimana punya sesuatu yang dimiliki semua orang tidaklah keren alias kampung dan punya sesuatu yang tidak dimiliki orangadalah keren.

Inilah yang saya sebut dengan teori kampungan.  Kualitas bukanlah ukuran utama menilai keren atau kampungan.

Keren hanyalah eksklusivitas di tengah mayoritas.

Tak kurang tak lebih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close