Ke-tidak-inisiatif-an Orang Indonesia

25 Agustus 2012, Stasiun Bekasi

Salah satu karakter orang Indonesia adalah curiga, sulit percaya, dan skeptis. Impilkasi dari karakter ini adalah sifat orang Indonesia lainnya yang sangat tidak inisiatif

Ke-tidak-inisiatif-an ini biasanya terjadi karena mereka sulit percaya dan takut jika mereka yang duluan berinisiatif ternyata gagal dan mempermalukan diri mereka sendiri. Seringkali akhirnya mereka menunggu bukti, dan jika sudah benar mereka yakin dengan melihat bukti tersebut akan berhasil, baru mereka berani ber-inisiatif (tentu sudah bukan inisiatif lagi kalo mengikuti).

Alkisah, hari ini saya mau pergi silaturahmi ke rumah ustadz Azhar di Rawamangun, bareng Alip dan Syahid. Di loket stasiun Bekasi, orang sudah mengantri panjang. Ada dua loket yang dibuka, loket pertama sudah diisi antrian panjang di depannya. Anehnya, loket yang kedua kosong, bahkan tidak ada yang mengantri disana. Saya yang berada di barisan paling belakang memperhatikan. Beberapa dari mereka melirik ke loket yang kosong, lalu tetap diam dan melanjutkan antrian. Tak ada satupun yang mengambil kesempatan mengantri-di-loket-kosong itu. 

Akhirnya saya yang geregetan pindah dan langsung maju ke depan loket, bahkan ternyata si “mbak"nya udah kesel sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan tatapan "Lo orang pada goblok banget sih, ga liat apa dari tadi loket gue kosong?”. Saya menyerahkan uang 100.000an, dan selagi menunggu si “mbak"nya menghitung uang kembalian, saya melihat ke belakang. Orang-orang memperhatikan saya. Setelah mendapatkan uang kembali dan tiket, saya baru sadar mengapa mereka memperhatikan saya. 

Ternyata mereka memperhatikan apakah benar loket kedua ini benar-benar buka, karena setelah saya bisa membeli tiket, setengah dari antrian langsung pindah ke "loket saya”. Mereka menunggu bukti, baru berani ambil keputusan yang jelas tidak akan merugikan mereka. See, itulah sebagian dari budaya kita.

Budaya ini sebenarnya hanya permasalahan sudut pandang. Ya, sudut pandang, kebanyakan orang kita belum berani mengambil resiko, masih takut-takut mengambil keputusan sebelum tahu apa sebenarnya yang akan dia terima setelah melakukannya. Sok2an analisis saya, sudut pandang ini bisa jadi disebabkan oleh sejarah penjajahan kita yang panjang. Karena lama hidup di dalam penjajahan, kita terbiasa menjadi korban tipu muslihat para kumpeni yang kurang ajar itu. Akibatnya kita menjadi bangsa yang skeptis, sulit sekali percaya kepada orang lain. Sudut pandang skeptis ini semakin membudaya dengan tidak amannya hidup di kota besar (baca: Berburuk Sangka di Jakarta). Sering banget kan kita dapat sms/telpon/email/surat yang menjanjikan hadiah, ga taunya cuma tipu-tipu. Hasilnya? Ya kita menjadi orang-orang dengan budaya yang selalu curiga dan memandang hal dengan negatif.

Kalo Anda pernah merasakan bangku sekolah atau kuliah, budaya ini pun ada. Ketika ujian misalnya, dan Anda sudah selesai mengerjakan tapi waktu masih banyak, seringkali kita tidak mau mengumpulkan dan hanya diam menunggu ada yang berdiri dan memulai duluan. Anda takut akan ada yang mencela Anda terlalu sombong, atau kemungkinan lainnya seperti Anda terlihat pintar dengan mengumpulkan ujian duluan tetapi ternyata saat keluar hasilnya nilai Anda paling jelek. Ketakutan-ketakutan tersebut akhirnya menuntun kita menjadi orang yang tidak inisiatif, takut mengambil keputusan. Padahal biasanya jika ada yang berdiri mengumpulkan duluan, tiba-tiba setengah dari kelas pun akan langsung berdiri dan mengumpulkan kertas ujian mereka. 

Di sekolah kita juga sering takut menjawab pertanyaan yang diajukan guru, padahal Anda tahu persis jawabannya. Seringkali ketakutan kita akan ditertawakan akibat salah menjawab membuat kita tidak jadi menjawab, padahal jika menjawab kita akan mendapatkan nilai tambahan dari Guru. Dan ketika orang lain dengan takut-takut memberanikan diri menjawab, jawabannya benar dan serta merta sang Guru berkata “Bagus, nak, kamu saya kasih nilai A di rapot”, serta merta kita menggerutu dan berkata “Kan bener jawaban gue! Harusnya tadi gue jawab tuh!”

Ya, memang seharusnya kita menjawab. Memang seharusnya kita inisiatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close