Tempatku Tumbuh, Berkembang, dan Merajut Masa Depan

Membaca novel Andrea Hirata seperti menembus lorong waktu. Aku dibawa menyusuri jalan yang berliku, menembus dimensi ruang dan waktu, menuju satu titik dalam memori kecilku. Memori tentang kehidupan pesantrenku yang tentram, dimana tak ada dunia digital, semuanya serba manual. Kami tak punya ponsel genggam, karena kami tidak diperbolehkan menggunakannya. Semua ustadz kami mufakat handphone adalah barang yang jika digunakan sembarang oleh anak muda seperti kami, maka hanya madharat yang didapat. Tak ada tivi di pesantren kami. Tak ada radio. Tak ada apapun yang bisa dianggap sebagai hiburan pengisi waktu dan pembunuh bosan.

Maka satu-satunya hiburan yang kami punya adalah buku. Buku pun tak sembarang, jika kami ketahuan membaca novel, komik, atau buku-buku ideologi yang tidak jelas juntrungannya, maka sita adalah hukumannya. Maka kami membaca, tapi diam-diam.

Aku pengagum setia Andrea Hirata. Aku telah membaca semua tetraloginya. Sang pemimpi dan Edensor, telah kubaca ratusan kali.

Pagi hari, jauh sebelum segaris cahaya matahari menyinari Pebayuran dari arah timur, kami sudah bangun. Dengan seperempat sadar dan langkah yang gontai, kami akan menuju kamar mandi, membasuh wajah dengan air wudhu yang bersih dan suci. Kami berjalan menyusuri dingin dari asrama ke masjid Riyadhus Shalihin, sebuah istana megah tempat orang-orang shalih menghaturkan diri dan menundukkan hati. Di masjid, gemuruh alunan ayat Al-Qur’an yang suci bersahut kesana kemari. Kami bertasbih. Kami memuji. Kami memohon ampunan diri.

Imam masjid kami, Ustadz Rahmat namanya. Suaranya merdu, mengalun indah merasuk jiwa. Suasana yang sunyi senyap namun –penuh ketentraman yang tak pernah tertandingi. Ayat-ayat itu menelisik telinga kami, berpantulan dalam jiwa kami yang rapuh dan tak berdaya di hadapan-Nya, menggetarkan hati. Pernahkah kawan tahu ayat yang berbunyi, bahwa orang-orang yang beriman, jika didengarkan kepadanya ayat Al-Qur’an, hatinya bergetar karena takut kepada Allah? Saat menulis ini, air mataku mengalir deras, membasahi pipi dan menenggelamkan seluruh pencapaian duniawi yang telah kubuat dengan pengakuan dosa  dan diri yang tak lagi bersih. Al-Binaa membuatku merasa memiliki saudara. Al-Binaa menjadi tempatku tumbuh, berkembang, dan merajut masa depan dengan milyaran senyum dan linangan air mata. Al-Binaa menjadi tempatku mengenal Tuhanku, menjadi tanah tempatku menemukan siapa diriku.

Al-Binaa adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.