Catatan Tentang Jakarta dari Kuntawiaji

kuntawiaji:

Bulan Juni yang lalu, Intisari mengangkat topik bahasan yang menarik, mengenai beratnya hidup di kota besar seperti Jakarta. Fokus bahasan terletak bukan pada beratnya menjalani hidup dan mencari penghasilan di ibu kota. Kalau mengenai hal itu, Jakarta bisa dibilang kota yang relatif mudah untuk mencari penghasilan. Harian Sindo bahkan menyebutkan seorang pengemis di Jakarta saja bisa meraih penghasilan hingga 700 ribu dalam satu hari. Bahasan kali ini adalah mengenai besarnya tuntutan gaya hidup di kota megapolitan Jakarta.

Jakarta, menurut National Geographic, adalah korban dari kemajuannya sendiri. Terlebih para penduduk yang tinggal di dalamnya. Silaunya ibukota memancing para warganya untuk mengubah gaya hidupnya. Tujuannya hanya satu: bisa diterima oleh lingkungan dan dianggap eksis. Gadget terkini, mobil mewah, produk branded fashion, semua dimiliki meski harus berhutang. Sayangnya, hal ini seringkali harus dilakukan oleh banyak orang agar bisa bertahan hidup di ibukota.

Kehidupan ibukota identik dengan kehidupan penuh persaingan dan individualitas. Jadwal yang padat dan tekanan kerja yang tinggi membuat seorang pekerja di ibukota seringkali tidak dapat menikmati waktu untuk bersantai. Saat waktu kosong, pilihan hiburan yang ada adalah ratusan mall dan ribuan kafe yang tersebar di berbagai penjuru ibukota. Kebutuhan untuk nongkrong di kafe bisa dibilang merupakan kebutuhan gaya hidup tahap awal. Kebutuhan ini pun akan berlanjut seperti membayar keanggotaan klub fitnes, menenteng gadget terkini, mobil pribadi, hingga residence elit di tengah kota.

Seorang teman berkata bahwa pertemanan di ibukota adalah jenis pertemanan transaksional. Ada uang jadi teman, tidak ada uang disingkirkan. Untuk bergabung dalam lingkup pertemanan sosialita misalnya, seseorang harus memiliki persyaratan tertentu yang tidak tertulis, seperti memiliki tas dan sepatu branded. Kebutuhan untuk diakui sebenarnya merupakan kebutuhan dasar seseorang. Cara termudah untuk diakui dalam pergaulan di level sosial terendah di Jakarta adalah dengan memiliki gadget terkini. Intisari menyebutkan bahwa salah satu ikon penunjang prestise dalam gaya hidup saat ini adalah gadget. Tak heran, konsumsi gadget setiap tahunnya meningkat 200%. Kemacetan yang terjadi di Jakarta pun tidak terlepas dari peran tuntutan gaya hidup di Jakarta. Gaikindo menyebutkan pada tahun 2012 jumlah penjualan kendaraan roda empat di Jakarta mencapai 1,1 juta unit, tertinggi dalam sejarah penjualan mobil di republik ini.

Apakah memang orang Jakarta sekaya itu? Sayangnya, gaya hidup konsumtif sama sekali tidak berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat menengah perkotaan. Perencana keuangan dari ZAP Finance menyebutkan bahwa banyak warga Jakarta yang gaji bulanannya habis hanya dalam hitungan hari. Dan sebagian besar pengeluaran adalah demi memenuhi tuntutan gaya hidup. Rata-rata objek hiburan yang menjadi sumber penyedot gaji bulanan adalah nongkrong di kafe, hangout di mall, akhir pekan ke luar kota, dan dining out. Jangankan berpikir untuk membeli rumah atau investasi, untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari saja pun sulit. Jangan bayangkan gaji mereka kecil. Gaji dengan jumlah dua digit sekalipun banyak berakhir seperti contoh kasus di atas. Semakin besar penghasilan, semakin besar pula pengeluaran (untuk gaya hidup). Banyak kasus di mana warga Jakarta kebingungan mengapa asetnya sama sekali tidak bertambah sekalipun gajinya tergolong besar dan mereka sudah bekerja selama bertahun-tahun.

Apa sebenarnya yang menyebabkan ini semua terjadi? Farah Dini Novita, seorang perencana keuangan mengatakan bahwa saat ini banyak orang yang sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan sesaat. Saja jadi teringat dengan teman-teman saya yang memborong Minion di McDonald’s padahal mereka bukan seorang kolektor mainan. I consume therefore I exist.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menangkal tuntutan gaya hidup di kota besar. Pertama, tanamkan dalam pikiran bahwa kita bukanlah hal-hal yang kita miliki. Kita bukanlah kepemilikan kita akan gadget, bukan kepemilikan akan mobil, bukan kepemilikan akan barang branded. Kepemilikan hanyalah bentukan masyarakat. Kita tetaplah seorang pribadi yang sama meski tanpa itu semua. Kedua, selalu ingat bahwa relasi berkaitan dengan apa yang dilakukan, bukan apa yang dimiliki. Kita tidak dapat memiliki pacar. Istri yang kita nikahi pun, bukanlah milik kita. Semakin kita melihat relasi sebagai kepemilikan, semakin kecil nilai intrinsik yang bisa didapat dari relasi itu. Ketiga, gunakan energi yang kita miliki untuk membantu orang lain. Fokus semua tindakan kita bukanlah semata untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Keempat, materialisme mengisi kekosongan. Oleh karena itu, isi kekosongan dalam hidup kita dengan tujuan hidup dan tantangan. Kelima, lihat kekayaan sebagai tantangan. Meraih lebih banyak uang harus dilihat sebagai permainan. Dan memang hidup hanyalah merupakan permainan dan sendau gurau belaka.

Saya akan memulai mereblog atau mengutip beberapa tulisan orang lain yang bagus dan bermanfaat. Tulisan Kuntawiaji ini salahsatunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close