Semoga Mereka Tidak Kehilangan Itu Semua

Sudah melewati 10 hari terakhir Ramadhan dan saya baru menyadari; anak-anak sekolah yang sholat tarawih di masjid hampir punah. Pernah punya buku Ramadhan? Itu buku yang berisi lembaran-lembaran yang harus kita isi dengan ringkasan ceramah tarawih plus tanda tangan dari ustadz penceramahnya. Sayangnya, tidak ada lagi anak-anak yang datang beramai-ramai membawa buku Ramadhan, mendengarkan ceramah dan sibuk mencatat. Tidak ada lagi anak-anak yang di akhir sholat segera berlomba-lomba mendapatkan tanda tangan dari ustadz penceramah.

Bahkan anak-anak nakal pun tidak datang. Tidak ada suara anak-anak yang bermain selepetan sarung. Tidak ada anak-anak yang berlarian di masjid. Bahkan sudah jarang yang bermain petasan.

Kabar yang saya dengar katanya buku Ramadhan sudah tidak lagi dibagikan di sekolah-sekolah negeri. Ketika saya tanya kenapa, katanya untuk menghilangkan pungutan liar kepada anak sekolah. Maksudnya? Ternyata yang dimaksud adalah: karena sekolah sekarang gratis, maka hal-hal yang membuat anak didik harus membayar untuk sesuatu tidak boleh ada. Di tahun-tahun sebelumnya, mencetak buku Ramadhan mengeluarkan biaya dan akan dibebankan kepada anak sekolah. Sehingga karena itu membuat anak didik harus membayar, maka sekarang ditiadakan.

Entah saya harus ketawa atau harus tertegun. Alasan konyol macam apa itu. Cetak buku seperti itu berapa sih anggarannya? Kalo cetak banyak palingan kurang dari lima ribu. Lalu jika memang tidak mau menarik dana dari anak didik, kenapa pemerintah tidak mau berkorban sedikit dan malah mengorbankan pendidikan yang sebenarnya?

Menurut saya adanya buku Ramadhan itu adalah sebuah pendidikan. Dengan adanya buku Ramadhan, maka anak-anak dipaksa untuk datang ke masjid untuk sholat isya berjamaah. Karena diharuskan untuk menulis ringkasan, maka anak-anak dipaksa untuk mendengarkan ceramah. Dan untuk mendapatkan tanda tangan ustadz penceramah, anak-anak dipaksa untuk ikut sholat tarawih berjamaah.

Paksaan tidak selamanya buruk. Terkadang untuk hal kebaikan, kita harus dipaksa untuk mengetahui bahwa hal itu adalah baik untuk kita. Allah saja bilang bisa jadi hal-hal yang kamu sukai itu sebenarnya tidak baik untukmu, dan bisa jadi hal-hal yang kamu tidak sukai justru itulah yang baik bagimu.

Dengan adanya paksaan dari buku Ramadhan, anak-anak diberikan kesempatan untuk menikmati serunya aktivitas Ramadhan. Anak-anak jadi berkumpul, punya teman baru, dan merasakan bahwa mereka tak sendiri. Ada banyak teman mereka yang juga muslim, yang juga berpuasa, yang juga mau sholat berjamaah di masjid dan mendengarkan ceramah. Ceramah tarawih yang diberikan ustadz dan mereka catat akan memberi mereka pengetahuan lebih tentang agama mereka. Ikut sholat tarawih akan membuat mereka belajar tentang ibadah dan persaudaraan, bahwa mereka selalu punya teman di jalan Yang Maha Kuasa.

Saya merindukan menjadi anak kecil di bulan Ramadhan. Rasanya senang bersama-sama ke masjid, sholat berjamaah, bermain selepetan sarung, tertawa riang gembira dan tanpa sadar sebenarnya sedang belajar tentang ibadah dan diajak meniti jalan ke surga.

Semoga anak-anak sekarang tidak kehilangan itu semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close