Cerita Tentang Demokrasi: Kereta dan Pilihan

Mari membayangkan sebuah situasi.

Sekelompok anak berjumlah belasan sedang bermain di dua jalur kereta. Jalur pertama adalah jalur aktif yang selalu dilalui kereta, sedangkan jalur kedua sudah tidak aktif. Hanya satu anak yang bermain di jalur kedua yang tidak aktif, sementara anak-anak lain bermain di jalur yang aktif. Tiba-tiba di kejauhan Anda melihat kereta api yang datang dengan kecepatan tinggi. Anda sedang berada di panel persimpangan, yang dapat mengatur dan mengalihkan kereta ke jalur yang Anda pilih.  Kereta segera datang dan waktu yang Anda punya hanya sedikit.

Apakah Anda akan memutar panel dan mengalihkan arah kereta ke jalur yang sudah tidak aktif? Mengorbankan cukup satu anak untuk menyelamatkan belasan nyawa anak yang lain? Atau Anda akan membiarkan kereta berjalan di jalur yang seharusnya?

Mari berhenti sejenak, kita andaikan dunia berjalan lambat, dan mari pertimbangkan keputusan yang akan kita ambil.  Sebagian besar orang akan memilih untuk mengalihkan arah kereta ke jalur yang sudah tidak aktif. Lebih baik mengorbankan satu nyawa dari pada harus membiarkan belasan nyawa lainnya melayang. Anda mungkin punya pilihan yang sama. Saya juga berpikir hal yang sama, jika saya berada pada posisi tersebut dan waktu yang saya punya hanya sedikit, saya akan mengalihkan kereta ke jalur yang tidak aktif. Mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan jumlah yang lebih banyak adalah keputusan paling logis dan benar secara moral maupun emosional. Kita akan memutar panel dan mengalihkan kereta ke jalur tidak aktif.  Sekarang kita biarkan dunia kembali berjalan dengan normal. Kereta berbelok. Kejadiannya begitu cepat. Satu anak itu menjadi korban. Belasan anak lainnya selamat. Anda menghela napas dan berkata, saya telah melakukan keputusan yang tepat.

Tapi sadarkah Anda? Bukankah anak yang memilih bermain di jalur yang sudah tidak aktif telah melakukan hal yang benar karena bermain di tempat yang aman? Sedangkan belasan anak lain yang bermain di jalur yang aktif telah melakukan hal yang salah, karena bermain di tempat yang berbahaya? Nyawa seorang anak yang memilih untuk melakukan hal benar, dengan tidak bermain bersama teman-temannya yang salah, telah kita korbankan. Sementara kita menyelamatkan nyawa yang sebenarnya melakukan kesalahan, bermain di jalur yang jelas-jelas merupakan tempat kereta lewat dan berbahaya, tapi karena berjumlah lebih banyak, kita memilih untuk menyelamatkan mereka. 

Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kampus, di organisasi, di dunia politik, di dunia masyarakat, apalagi di semua tempat yang sekarang mengatasnamakan demokrasi. Dalam bermusyawarah dan diskusi yang benar, pertimbangan dalam mengambil keputusan yang tepat didasarkan pada dua jenis opsi; benar/tidak benar dan mayoritas/minoritas. Tapi itu di dalam dunia buku dan teori. Dalam dunia demokrasi yang sebenarnya, seringkali faktor yang menentukan hanyalah mayoritas/minoritas. Arahan untuk memilih yang benar/tidak benar hanya terjadi di awal saja. Kita bahkan sering menutup mata untuk hal yang benar dan tidak benar. Seakan; jika kita bisa menyelamatkan mayoritas, kenapa perlu untuk melihat kebenaran?

Maka sebaiknya kita selalu waspada ketika hidup di dunia demokrasi. Dalam keseharian, kita bisa jadi menjadi orang yang harus menarik tuas dan menentukan mana yang diselamatkan dan mana yang dikorbankan. Atau bisa jadi kita menjadi anak yang bermain di jalur yang tidak terpakai; melakukan hal yang benar tapi dikorbankan karena kita bukan mayoritas.  

Semoga kita selamat di alam demokrasi.

*Cerita dapat dibaca pula pada buku Bukan Untuk Dibaca (Deassy M. Destiani)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close