Membuat Hidup Kita Lebih Dari Sekedarnya

Di depan rumah saya, tumbuh pohon sawo kecik.

13 tahun yang lalu, pohonnya tidak tinggi. Hanya sekitar dua setengah meter saja. Saat itu, sewaktu SD, saya dikenal sebagai anak yang pendek dengan badan yang kecil. Setiap pergi ke luar rumah, untuk main ke lapangan, menuntun sepeda menuju sekolah, atau berjalan ke masjid, saya selalu melewati pohon itu.

Sebagai anak kecil yang iseng dan suka bergerak, setiap melewatinya saya selalu melompat berusaha meraih daun yang menggantung di batangnya. Walau tinggi daun yang menggantung kurang dari dua meter, saya tak pernah bisa menyentuhnya. Saya selalu melompat dan berusaha melompat lebih tinggi, setiap hari saat melewati pohon itu saya melakukannya. Tapi mungkin karena saya pendek, saya tak pernah bisa meraihnya.

Suatu saat saya gusar dan mengadu kepada ibu saya. “Bu, kok aku ga pernah bisa menyentuh daunnya walau sudah lompat setinggi-tingginya?”

Ibu saya hanya tersenyum dan bilang, “kamu masih kecil, nanti kalo kamu sudah besar, tinggi badan kamu pasti bertambah, lompatanmu akan lebih tinggi dan kau mungkin akan bisa menyentuh daunnya”.

Suaranya yang hangat dan penuh cinta menenangkan hati saya, walau terhempas sedikit tanda tanya. Mengapa ibu bilang mungkin, bukan pasti. Tapi apapun itu, saya tak lagi gusar. Dan menjadi yakin suatu saat nanti, jika saya sudah tumbuh besar dan tinggi badan saya bertambah, saya pasti bisa meraihnya.

Sejak hari itu, setiap saya melewati pohon sawo kecik itu, saya selalu melakukan ritual yang sama. Setiap saya akan bermain ke lapangan, menuntun sepeda ke sekolah, atau berjalan ke masjid, saya selalu melompat. Berusaha meraih daunnya yang bergantung, dan yakin suatu saat saya pasti bisa.

Bertahun-tahun saya melakukannya, ritual “melompat” itu seperti menjadi rutinitas yang tak lagi saya beri perhatian, selalu saya lakukan tanpa sadar. Hingga tahun berjalan dan saya tumbuh besar, saya telah lupa bahwa saya pernah berusaha untuk meraih daun di batangnya yang tergantung.

Malam ini, saya baru pulang dari masjid. Ketika berjalan dengan santai, menikmati udara malam dan kerlipan beberapa bintang di balik polusi cahaya dari terangnya gedung-gedung di tengah kota, saya berhenti di depan pohon sawo kecik. Saya menatapnya dari bawah ke atas. Saya baru kembali teringat 13 tahun lalu dan rutinitas melompat yang saya lakukan. Tentang saya yang selalu gagal menyentuh daunnya yang menggantung. Tentang saya yang gusar dan mengadu pada ibu. Tentang suaranya yang penuh cinta dan bilang bahwa saya bisa meraihnya jika saya sudah tumbuh besar.

Saya menyentuh batangnya yang besar, kokoh menjulang menopang tubuhnya yang kekar. Pohon ini telah tumbuh besar, tajuk teratasnya tak kurang dari tujuh meter sekarang. Namun masih menyisakan sesuatu beberapa jarak di atas kepala saya, yang dulu selalu saya inginkan untuk saya raih. Saya menatap daunnya yang menggantung, dan tanpa sadar saya melompat meraihnya. Saya melompat sekuat tenaga. Saya melompat lagi, dan lagi, dan kemudian sedih sebentar lalu seperti tertampar akan kebodohan diri sendiri. Saya tak bisa menjangkau daunnya meski badan saya sudah lebih tinggi. Saya tak bisa meraihnya walaupun saya telah tumbuh besar.

Saya pulang ke rumah dan segera menemui ibu yang sedang merapihkan cucian, menumpuk baju dan jaket almamater yang kemarin saya pakai untuk aksi di jalan. Saya ceritakan tentang pohon sawo kecik, tentang saya yang telah tumbuh besar dan tetap tak bisa meraihnya. 

Tetap dengan suaranya yang hangat, ibu berkata pelan kepada saya.

“Kau memang telah tumbuh besar, nak. Tapi kau lupa satu hal, pohon itu tidak diam, selama kau berkembang, dia juga tumbuh besar”

Ibu kemudian diam dan melanjutkan pekerjaannya, membiarkan saya berpikir sendiri.

Dulu, saya menjadikan pohon sawo kecik kecil dan daunnya yang menggantung sebagai target, sebagai sebuah pencapaian yang ingin saya tuju. Dengan badan kecil saya melompat, berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Lalu dengan naifnya saya percaya suatu saat saya tumbuh besar saya pasti bisa mencapainya. Tapi saya ternyata melupakan satu hal. Satu hal tentang sains sederhana. Bahwa makhluk hidup tak pernah diam. Bahwa mereka tumbuh dan berkembang. 

Ketika saya berkembang, pohon itu juga tumbuh besar.

“Ketika kamu tumbuh besar, berbadan lebih tinggi, menjadi manusia yang lebih kuat, dan memiliki kemampuan yang lebih hebat, tantangan yang datang pun akan semakin besar. Sekarang kamu harus lebih sadar bahwa tantangan hidup tak pernah diam. Dia seperti pohon itu, yang terus tumbuh besar seiring denganmu yang juga berkembang”

Ibu tetiba mengembalikan saya dari lamunan. Kata-kata mutiara yang keluar dari bibirnya yang mulia, dan senyumnya yang mengembang seperti pelangi di ujung senja. Indah, tentram menenangkan jiwa.

Memberi tahu saya tentang sebuah cerita. Bahwa dalam kehidupan, dalam lapisan dimensi menit dan detiknya, kita selalu punya tujuan. Kita punya impian, asa, dan cita-cita yang kita kejar sekuat tenaga. Tapi seperti juga kita, mereka dan semua tantangannya tak pernah diam. Mereka juga terus membesar bersama kita. Tantangan hidup mahasiswa takkan pernah sama dengan anak TK. Rintangan kehidupan orang hebat takkan pernah sama dengan orang biasa. 

Tujuan, mimpi, dan cita-cita yang selalu terlihat tidak mungkin untuk kita capai adalah hal yang membuat mengeluarkan kemampuan terbaik kita, seperti pohon sawo kecik dan saya yang melompat setingi-tingginya. Ketidakmungkinan adalah hal yang membuat kita penasaran dan mengeluarkan segenap kemampuan kita. Dia membuat hidup kita lebih dari sekedarnya.

Fakta sederhana itu membawa saya kepada filosofi hidup sederhana lainnya yang mungkin sering kita semua lupa. Tentang sains sederhana. Hukum Newton ketiga. Bahwa untuk semua aksi dan usaha yang kita lakukan, kita akan mendapatkan reaksi dan hasil yang sama.

Wa an laisa lil insani illa ma sa’a. “Dan tidaklah bagi manusia kecuali apa yang dia usahakan”

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.