Inflasi Pendidikan

Jakarta dengan segala gemerlapnya bisa jadi adalah sebuah pembodohan tentang apa yang saya sebut sebagai inflasi pendidikan. Ketika dunia pendidikan dihargai seperti uang, maka yang terjadi adalah inflasi. Pekerjaan yang tinggi membutuhkan gelar yang lebih tinggi. Jabatan yang lebih besar membutuhkan rentang pendidikan yang lebih panjang.

Dulu, jika orang tua sudah bisa menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana, maka itulah prestasi tertingginya. Jika masih ingat film Doel, tengoklah bagaimana keluarga Haji Sabeni dengan gayanya yang sangat betawi merayakan keberhasilan si Doel menjadi Tukang Insinyur. Dengan petasan berentet dan arak-arakan keliling kampung, keberhasilan meraih sarjana dielu-elukan seperti orang kawinan, sebuah puncak keberhasilan yang harus dirayakan.

Namun saya rasa film si Doel mengawali sebuah cerminan dari dunia yang sebenarnya. Sarjana sudah begitu banyak, bahkan di saat itu, si Doel yang sudah menjadi sarjana sudah sulit mencari pekerjaan.

Berdasarkan Data Statistik Indonesia, di tahun 2000 saja tercatat 92.561.468 pengangguran terbuka, dengan 1.000.000 diantaranya dari kalangan berpendidikan. 

Jika sering mengobrol dengan orang tua, mereka juga seringkali dengan bangganya bercerita dulu berbekal ijazah SMA pun kita bisa punya pekerjaan. Bahkan bekerja di kantor dan mendapat meja. Adapun yang terjadi kemudian, boro-boro mendapat meja. Bisa masuk dalam perusahaan sebagai tenaga kasar pun sudah syukur. Gambaran di dunia kerja saat ini ya sepert itu, kalau mau bekerja di kantor, berbekal ijazah SMA paling-paling jadi Office Boy atau tukang fotokopi. Kalau bekerja di luar, ya mentok-mentok juga jadi supir. Paling banyak ya jadi pelayan restoran, SPG di mall, atau bahkan penjaga minimarket di pinggir jalan.

Maka inilah inflasi; pekerjaan dengan gaji dan jabatan layak yang dulunya cukup dengan ijazah SMA sekarang sudah naik harganya. Minimal ya harus sarjana.

Setiap tahunnya, jumlah orang yang bergelar sarjana pun semakin banyak. UI saja setiap tahunnya menerima 3000 lebih mahasiswa S1, dengan logika sederhana kira-kira setiap tahunnya sejumlah itu juga yang lulus. Sedangkan di Indonesia ada ratusan universitas yang tersebar di seluruh nusantara, baik negeri maupun swasta. Bayangkan berapa jumlah orang yang lulus menjadi sarjana setiap tahunnya.

Perusahaan pun tak mau gegabah mengambil sembarang sarjana untuk bekerja. Maka ada standar; biasanya untuk perusahaan “tak bergengsi” cukup dengan IPK 2,75, perusahaan “lumayan bergengsi” minimal IPK 3.00, dan perusahaan “bergengsi” IPK harus di atas 3,25.

Catatan prestasi akademik di bangku kuliah menjadi standar awal untuk menjadi jaminan kesuksesan kita dalam bekerja. Maka inflasi akademis kembali terjadi. Tak semua pelamar kerja bergelar sarjana punya kesempatan untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Cukup dengan menunjukkan IPK kita tak memenuhi syarat, maka aplikasi kita akan masuk tong sampah.

Masalah lainnya, hal yang sama berlaku pada dunia pendidikan yang sebenarnya. Untuk mendapatkan sekolah dengan pendidikan yang punya kualitas lebih baik, maka harus bayar dengan gepokan uang yang lebih tebal. Kualitas yang dimaksud ya termasuk di dalamnya fasilitas sekolah; kelas yang tidak panas, punya papan tulis dan infocus, hingga komputer dan laboratorium. Mereka yang punya uang lebih banyak akan mendapatkan kesempatan yang lebih besar. Yang tidak punya, ya silahkan nikmati fasilitas dari pemerintah – yang umumnya – masih seadanya.

Ironis memang. Tapi sepertinya kita harus setuju bahwa itulah kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close