Menularkan Kreatifitas Melalui Indonesia Kreatif

Tulisan ini merupakan liputan penulis saat mengikuti event Workshop Jurnalistik Indonesia Kreatif.

image

“Creativity is contagious. Pass it on” – Albert Einstein

Berawal dari semangat bahwa kreatifitas menular dan perlu ditularkan, Indonesia Kreatif mengadakan workshop jurnalistik yang diikuti 23 calon kontributor. Bekerja sama dengan Comma ID, workshop yang diadakan pada 20-21 September 2013 tersebut dihadiri oleh peserta yang datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, Bogor, Bali, Malang, dan Aceh. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas konten portal Indonesia Kreatif sebagai wadah kreatif digital yang menginformasikan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Diversity is Our Treasure

Pada Jumat (20/09), rangkaian workshop dibuka dengan pengenalan ekonomi kreatif oleh Poppy Savitri, Direktur Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan IPTEK. Poppy menjelaskan tentang industri kreatif yang merupakan gelombang baru dalam transformasi ekonomi, dimana industri ini memanfaatkan kekayaan intelektual dengan berbasis pada kearifan lokal untuk menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

Menurut Poppy, industri kreatif akan menjadi kekuatan baru dalam membangun Indonesia. “Ekonomi kreatif yang ideal adalah ketika terbentuk triple helix antara intelektual, pemerintah, dan kalangan bisnis dalam mendukung pengembangan individu kreatif”, ujarnya. Poppy menambahkan, dengan adanya portal Indonesia Kreatif, diharapkan kreatifitas anak bangsa dalam berkarya dapat diangkat dan menjadi inspirasi.

Calon kontributor melanjutkan rangkaian workshop dengan mengunjungi dapur redaksi Indonesia Kreatif di bilangan Wolter Monginsidi. Dipandu oleh Riyanto, Leader Indonesia Kreatif, para peserta berdiskusi tentang visi Indonesia Kreatif sebagai sebuah mission statement untuk berkreasi dengan mengatasnamakan identitas Indonesia pada setiap karya yang diciptakan.

image

Diversity is our treasure”. Begitulah tulisan pada salah satu slide presentasi Indonesia Kreatif, menegaskan bahwa keragaman sumber daya alam dan manusia merupakan harta karun paling berharga dalam membangun Indonesia. “Dan Indonesia Kreatif merupakan portal untuk menceritakan kreatifitas dan keragaman itu ke seluruh Indonesia”, tambah Riyanto.

Kreatifitas, Keingintahuan dan Bertanya

Agenda utama Workshop Jurnalistik Indonesia Kreatif dilaksanakan pada Sabtu (22/09). Bertempat di Comma ID, para peserta merasakan atmosfer kreatif dan kolaborasi yang begitu kental.

Sesi pertama diisi oleh Dinda Jouhana yang membahas tentang kode etik dan dasar jurnalisme. Jurnalis lepas ini menceritakan perjalanan karirnya yang luar biasa, dimulai dari lembaga pers kampus, media cetak entertainment¸ majalah Tempo, hingga berani menjawab tantangan yang lebih besar sebagai kontributor Los Angeles Times untuk chapter Asia Pasifik. Menurutnya, jurnalisme sangat penting karena informasi selalu dibutuhkan oleh manusia. “Informasi membuat kita merasa aman karena mengetahui dan merasa memiliki kontrol terhadap sekitar kita, karenanya jurnalisme akan selalu dibutuhkan”, jelasnya.

image

Jurnalisme merupakan proses panjang dalam menyiapkan ide, melakukan riset, wawancara narasumber, menulis, hingga melakukan validasi. Menurutnya, rasa keingintahuan merupakan modal utama yang harus dimiliki jurnalis. Ketika menjelaskan tentang netralisme jurnalis dalam membuat berita, Dinda menyebut jurnalis seharusnya memihak. “Jurnalisme itu memihak. Memihak pada kebenaran”, ujarnya.

Setelah sesi diskusi dan tanya jawab, peserta memasuki sesi Coffee break. Sambil menyeruput kopi dan teh hangat, suasana santai mengiringi diskusi sesi kedua bersama Anto Motulz tentang berpikir kreatif. Motulz mengawali presentasinya dengan bercerita bahwa orang Indonesia dilatih untuk pandai menjawab, tapi tidak untuk pandai bertanya.

image

Di bangku sekolah, kita mendapat kesan buruk dari seseorang yang gemar bertanya. “Kita sering enggan bertanya karena takut dianggap ingin terlihat pandai, atau bahkan terlihat bodoh dan tidak memperhatikan”, ujarnya.

Padahal menurutnya, pertanyaan adalah senjata utama bagi orang yang bekerja di bidang apapun, termasuk jurnalis. Inovasi dan solusi selalu datang dari pertanyaan. Motulz memperlihatkan beberapa foto dan mengajak para peserta untuk membuat berbagai pertanyaan. Dengan latihan tersebut, menurutnya kita akan belajar bahwa kreatifitas adalah bermain dalam mencari jawaban dan membuat pertanyaan. “Kreatifitas adalah menyeimbangkan antara kemampuan bertanya dan menjawab”, ujarnya.

Workshop dilanjutkan dengan materi tentang jurnalisme online dari Ndoro Kakung. Menyambung materi dari Motulz, jurnalis senior tersebut memulai materi dengan menantang peserta untuk bertanya seputar jurnalisme online.  “Kalo ndak ada yang nanya ya kita udahan saja”, selorohnya diiringi tawa dari peserta.

image

Diskusi berjalan seru diselingi canda dan cerita menarik dari Ndoro Kakung. Ndoro menegaskan bahwa jurnalisme online tetaplah sama dengan jurnalisme pada umumnya. Namun ada tuntutan lebih, yaitu soal waktu dimana berita dituntut selalu update. Untuk menyiasatinya, “nasihat” terpenting Ndoro dalam menulis berita untuk jurnalisme online adalah sederhana dan cerdas. “Be simple, Be smart”, ujarnya.

image

Hal senada diungkapkan Marischka Prudence pada sesi berikutnya tentang teknik peliputan dan wawancara. Sebagai jurnalis, kita harus berpikir simpel dan cerdas, sehingga dapat menggali informasi sebaik-baiknya dari narasumber melalui wawancara. Travel blogger cantik ini menambahkan bahwa jurnalis memiliki kemampuan dalam menentukan arah berita, karenanya dalam melakukan wawancara kita harus bertindak berani, namun tidak arogan; dan bersikap sopan namun tetap elegan. “Don’t be lion, Don’t be rat either”, tambahnya.

Di sesi terakhir, Arbain Rambey berbagi cerita tentang foto jurnalistik. Wartawan senior Kompas tersebut menjelaskan bahwa foto merupakan pendukung penting yang membuat berita menjadi semakin kuat dan nyata. Menurutnya, yang terpenting dalam foto jurnalistik adalah sudut pandang. Foto jurnalistik harus dibuat dengan sudut pandang yang unik, merekam peristiwa yang terjadi, dan bisa bercerita.

image

Lalu bagaimana cara mendapatkan foto jurnalistik yang baik? Caranya dengan sering melihat foto jurnalistik yang baik dan sering berlatih. “Fotografi itu ilmu lapangan, yang terpenting kalian rasakan, latihan, rasakan, latihan”, ujarnya.

Sesi fotografi dari Arbain Rambey mengakhiri rangkaian workshop jurnalistik. Di akhir acara, para peserta berfoto bersama sebelum meninggalkan Comma ID. Setelah Workshop tersebut, para peserta yang kembali ke daerah asalnya masing-masing diharapkan memiliki kemampuan jurnalistik yang lebih baik. Dan pada akhirnya mampu membuat berita yang inspiratif dan menuruti nasihat Albert Einstein: bahwa kreatifitas menular, dan dengan Indonesia Kreatif, mereka dapat menularkannya melalui tulisan.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.