Belajar Berkata Tidak

Bicara soal karakter, saya termasuk orang yang bingung ketika ditanya soal prinsip.

Saya tumbuh dan besar pada lingkungan yang punya aturan jelas. Jika benar akan diapresiasi, dan jika berbuat salah akan ada konsekuensi. Dan konsekuensinya nyata. Misalnya jika waktu sholat datang dan saya tidak beranjak dari menonton TV, maka sabetan sapu lidi akan melayang di pantat saya. Atau jika besok adalah hari ujian dan saya malah bermalas-malasan membaca komik, saya dimarahi habis-habisan dan diceramahi tentang sulitnya mencari uang untuk saya sekolah. Hal kecil semacam itu membentuk karakter yang luar biasa. Memberi saya pandangan dan arahan dalam menjalankan kehidupan.

Seiring kehidupan yang terus berjalan, di tingkat sekolah menengah saya tinggal jauh dari orang tua. Saya hidup di asrama, tinggal bersama teman-teman dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda. Hidup di asrama, saya kembali tumbuh pada lingkungan yang punya aturan jelas. Jam empat harus sudah bangun, jam tujuh harus sudah masuk sekolah. Jam-jam tertentu saya harus belajar, di tempat tertentu saya tidak boleh bermain, saya hanya diperbolehkan keluar asrama jika ada keperluan mendesak, dan berbagai peraturan lainnya. Saya tak pernah mempermasalahkannya, karena sesungguhnya, semua itu adalah pengalaman yang mencambuk saya untuk menjadi orang yang disiplin, mampu mengatur hidup, dan siap berkejaran dengan waktu.

Semakin tumbuh besar, saya banyak melahap buku-buku aneh. Saya melahap buku apapun: buku-buku yang di kemudian hari saya sadari sangatlah tidak wajar dikonsumsi oleh bocah 13 tahun. Saya membaca buku-buku filsafat, dialog lintas agama, ensiklopedia, opini-opini media massa, dan semuanya yang bisa saya baca. Saya sadari ternyata “kejadian” membaca buku-buku itulah yang mengubah cara saya memandang hidup untuk selamanya.

Membaca berbagai buku itu seperti membuka mata saya tentang dunia. Dunia ternyata tidak hanya tentang saya. Dunia ternyata tidak hanya diisi oleh saya, orangtua, teman, dan orang-orang di sekitar saya. Dunia ternyata luas tak berujung. Penjelajahan alam semesta ternyata tak akan pernah berhenti walau kita sudah berjuta kali melintasi cakrawala.

Saya akhirnya mempercayai konsep tak berhingga. Bahwa dunia memang tak ada ujungnya, kita hanyalah setetes air kecil dari hamparan luasnya samudra. Pandangan ini akhirnya membuat saya menjadi orang yang lebih terbuka. Saya berusaha menjadi lebih bijaksana, tak mudah menghakimi orang lain, dan selalu berpendapat bahwa sesuatu – baik ataupun buruk – bisa terjadi karena ada sebabnya.

Berbicara istilah, saya menjauhkan diri dari sifat konservatif, saklek, dan terima apa adanya. Saya berusaha menjadi orang yang skeptis, open-minded, dan lebih liberal. Liberal secara harfiah berarti bebas; saya berusaha menjadi orang yang lebih bebas dalam berpikir.

Dalam banyak hal, menjadi liberal dalam berpikir adalah hal positif. Saya jadi lebih jernih dalam melihat masalah, saya membiasakan diri untuk selalu melihat sesuatu dari segala sisinya, yang akhirnya memberi pandangan baru yang lebih cerah dan terbuka. Tapi di sisi lain, menjadi liberal membuat saya jauh dari kata prinsip. 

Saya seperti orang yang tak punya pegangan, karena sepertinya saya mudah berkata iya pada semua hal. Seperti Jim Carey dalam film Yes Man yang mengiyakan segalanya untuk masuk dalam hidupnya.

“Apakah kita tidak terlalu liberal dalam melihat hidup?”, tanya Jojo, sahabat saya, suatu ketika dalam sebuah diskusi ringan di mobil dalam perjalanan pulang. Saya jadi bertanya-tanya, sepertinya semua orang punya arahan hidup. Mereka mungkin seringkali tidak bijaksana dalam menyikapi masalah karena pandangan hidupnya yang sempit. Tapi mereka punya prinsip. Mereka tahu kapan berkata iya dan kapan berkata tidak. Sementara saya, entahlah, saya bahkan tidak mampu menjawab iya atau tidak untuk pertanyaan Jojo.

Di belokan terakhir sebelum masuk ke gang rumah Jojo, saya kembali teringat Yes Man, dan pesan yang ingin disampaikan dalam filmnya. Hidup adalah tentang pilihan. Tapi orang yang sukses bukanlah mereka yang selalu berkata iya untuk tantangan dan kesempatan dalam hidupnya, tapi mereka yang berani berkata tidak untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka percaya.

Mungkin saya harus mulai belajar untuk berkata tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close