Sore Indah dan Kopi Mewah

Sore ini, saya berjalan menyusuri lorong perpustakaan yang megah. Melewati restoran Korea dan kafe Green T di samping kanan, saya berbelok ke sebelah kiri. Saya memandang ke atas sebentar dan membuka pintu kaca di bawah tulisan mewah berwarna hijau: “Starbucks Coffee”.

Kalau bukan karena Pak Sunu, saya tak mungkin kesini. Saya tak bisa menyempatkan waktu mengamati situasi di Kantin Budaya, maka pilihan saya untuk tugas deskripsi observasi hanya kesini. Ke kafe mahal ini. Sambil memesan kopi yang saya tebak paling murah dengan rasa tetap sesuai selera, saya mengamati pelayannya yang ramah betul melayani. Senyum wanita itu manis, suaranya renyah. Kata-kata dan mimik wajahnya saya yakin adalah template yang sudah dilatih ratusan kali sebelum dia diperbolehkan bekerja disini. Setelah mendengar pesanan saya, dengan cekatan dia meracik kopi.

Sambil menunggu kopi dibuatkan, saya menikmati udara disini yang begitu sejuk. Pendingin ruangan ditata pada suhu yang sangat pas, tidak panas, namun tidak juga terlalu dingin. Ruangan kafe ini didesain dengan sangat apik, berada di dalamnya menimbulkan perasaan tenang dan nyaman. Lantainya dilapisi kayu yang licin dan menimbulkan kesan elegan. Kesan mewah juga sangat terpancar dari lampu bercahaya temaram di sekeliling ruangan. Rasa nyaman semakin terasa dengan harum kopi yang memenuhi kafe. Di balik kasir, deretan menu ditulis di papan tulis hitam dengan kapur berwarna-warni, memberi kesan klasik dan unik. Di samping kanan, sebuah lemari kayu memajang berbagai suvenir yang bisa dikoleksi pelanggan, mulai dari cangkir, tumblr, hingga kartu dengan logo Starbucks yang berwarna hijau.

“Silahkan, mas,” lamunan saya dibuyarkan oleh pelayan yang menyodorkan kopi pesanan saya. Saya berterima kasih dan membawa gelas itu dengan hati-hati. Saya mengamati sekitar sebentar, lalu mengambil tempat duduk di pojok kanan; karena tempatnya nyaman, dengan kaca transparan dan view langsung ke danau, sehingga saya dapat menikmati pemandangan di luar yang begitu damai. Sambil menyeruput kopi hangat dari gelas plastik, saya bisa melihat air danau di luar sana memantulkan cahaya jingga dari matahari yang hampir terbenam. Airnya bergoyang-goyang, seperti penari meliuk-liuk indah, lembut dan menenangkan mata. Cahaya jingga itu berkilau seperti emas, menawan dan sesekali menyilaukan.

Saya melihat jam dijital di pojok layar laptop yang menunjukkan pukul lima. Pintu kaca yang terletak kira-kira enam meter dari tempat saya duduk, berulang kali terbuka dan tertutup, tanda orang ramai keluar dan masuk. Di sore seperti ini memang jam paling ramai, mahasiswa yang telah selesai kuliah biasanya menghabiskan waktu bercengkrama di kafe bergaya Amerika ini. Mereka biasanya duduk berdiskusi di sofa-sofa merah di tengah ruangan, yang mengelilingi sebuah meja kecil. Mereka adalah orang-orang yang menjaga wibawa, berbicara dengan nada rendah, dan tertawa seadanya. Tidak seperti di kantin fakultas yang umumnya mahasiswa berteriak-teriak atau tertawa terbahak-bahak hingga terdengar dari jarak yang jauh, benar-benar seperti di pasar. Selain yang berdiskusi, tak jarang juga mahasiswa yang datang kesini untuk ngopi sambil membuka laptop dan mengerjakan tugas.

Beberapa mahasiswa asing duduk di meja panjang. Di belakang mereka dapat terlihat lukisan-lukisan bergaya Pop Art yang menghiasi dinding kafe. Mereka memang hampir setiap hari nongkrong di kafe ini. Mungkin di seluruh kampus hanya kafe ini yang membuat mereka merasa seperti di rumah, sedang sisanya – termasuk di kantin fakultas yang ramai oleh mahasiswa – membuat mereka merasa di negeri atah berantah. Wajar memang, toh bagi mereka harga kopi dengan harga rupiah sangatlah murah.

Saya menikmati sisa-sisa kopi yang harumnya semerbak dan menenangkan jiwa. Saya kembali menatap ke luar. Matahari mulai menghilang di balik gedung Rektorat. Cahayanya tak lagi terlihat, danau tak lagi memantulkan kilau-kilau emas karena langit pun mulai gelap. Sebentar lagi, lorong perpustakaan di depan akan ramai oleh mahasiswa yang pulang. Mereka yang menghabiskan harinya di perpustakaan, atau di laboratorium komputer akan keluar karena hari sudah hampir malam. Lampu-lampu di lorong mulai dinyalakan.

Pukul setengah tujuh nanti, lagu-lagu daerah akan bergema dari pengeras suara di seluruh gedung perpustakaan, tak terkecuali di kafe Starbucks ini. Itu adalah pertanda bahwa gedung akan segera ditutup. Pelayan kafe akan segera berbenah, membereskan cucian yang belum selesai dan merapikan catatan keuangan. Pengunjung kafe pun akan segera bersiap meninggalkan gedung, menuju rumah atau kosan masing-masing membawa tugas dan beban. Begitu pun dengan saya, yang akan lanjut mengerjakan tumpukan laporan yang sudah lewat deadline. Sementara kafe ini akan tetap disini, terdiam dalam gelap menunggu esok hari kembali disambangi oleh mahasiswa yang menikmati aroma kopi dan kemewahannya. 

Tulisan ini saya buat untuk tugas Penulisan Populer, kelas yang saya ambil di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Let me tell you a secret, menulis adalah berimajinasi. Sampai detik ini, saya belum pernah minum kopi di Starbucks. Saya hanya masuk ke dalam Starbucks sebentar, mengamati sekitar kurang dari semenit dan keluar dengan imajinasi di kepala saya. Hasilnya A dan saya mendapat nilai terbaik di kelas saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close