Pantaskah Kita?

Seorang mandor yang sedang berada di lantai 5 ingin memanggil pekerjanya yang bekerja di lantai dasar. Sang mandor berteriak kencang memanggil namanya, tapi sang pekerja tidak mendengar. Mandor berpikir, mungkin si pekerja tidak mendengar karena suara bising dari mesin yang meraung-raung di bawah sana. Maka dia menunggu. Ketika ada jeda mesinnya berhenti beberapa detik, dia berteriak memanggil pekerja itu. Dia berteriak kencang, tapi sang pekerja tetap tidak menengok.

Ah mungkin dia terlalu fokus dengan pekerjaannya. Maka untuk menarik perhatian, si mandor mengambil uang 1000-an, dan melemparnya ke arah si pekerja. Uang tersebut jatuh di samping si pekerja. Tapi dia hanya melihat uang tersebut, memungut uangnya dan melanjutkan pekerjaan.

Si mandor akhirnya mengambil uang 100.000an, dan melemparkannya dengan cara yang sama. Kali ini pasti si pekerja menengok. Ternyata pekerja hanya melihat uang tersebut, memungut uangnya dan melanjutkan pekerjaan.

Karena hilang kesabaran akhirnya si mandor mengambil batu kecil, melemparkannya tepat ke kepala si pekerja. Si pekerja kesakitan, mendapati kepalanya luka dan mengeluarkan darah, lalu dengan kesal dia menoleh ke atas. Barulah dia sadar bahwa mandornya memanggil ia sejak lama.

Saya membaca cerita sederhana itu di buku Bukan Untuk Dibaca. Seperti itukah cara kita hidup? Terlalu sibuk melakukan apa yang kita lakukan, lalu ketika kita dipanggil untuk memerhatikan Tuhan, kita tak bergeming. Kesibukan di sekitar kita sangat bising, sampai-sampai kita lupa dan tak bisa mendengar Tuhan kita memanggil.

Bahkan sesungguhnya baik sekali Tuhan kita, Dia masih baik mau memaklumi kita yang mungkin sibuk sendiri dengan urusan kita, padahal Dia lah urusan kita yang sebenarnya. Maka Dia Yang Maha Baik memanggil kita dengan cara-Nya, memanggil kita dengan kebaikan. Kita diberi kebahagiaan, kegembiraan, rasa senang yang berlimpah ruah, diberi rezeki secara cuma-cuma. Semuanya diberikan oleh-Nya, dengan harapan kita ingat dari siapa kita mendapatkan semuanya, dan kita bisa menyeru pada panggilan-Nya.

Tapi kita tetap tidak mendengar. Kita memalingkan muka. Kita keasikan dengan hidup kita, padahal semuanya datang dari-Nya. Kita lupa pada Tuhan kita.

Baru ketika kita diberi peringatan dengan keburukan, penyakit yang menyiksa, kerugian yang berujung nista, atau musibah yang mendera-dera, baru kita berpaling dan ingat. Sekejap saja kita merasa kita butuh pada-Nya. Sekejap saja kita sadar kita hanyalah hamba, dan dalam kesusahan ini hanya Tuhan yang bisa menolong kita. Sekejap saja, tiba-tiba, kita merendah, berurai air mata, menadahkan tangan dan berdoa, Tuhan, Engkau Yang Maha Kuasa, tengoklah aku, yang meminta hanya kepada-Mu, yang berdoa hanya untuk-Mu

Tapi pantaskah kita meminta Tuhan berpaling kepada kita?

Ud’uni astajib lakum. Dan berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.