Mak!

Mak,

Lapar!

Kenapa kita tidak bisa makan enak seperti orang di rumah berdinding  kaca?

Lapar menyiksa. Haus mendera. Tiap hari kita harus puasa. Padahal kita kan kelaperan. Kapan kita bisa makan enak, Mak? Nasi yang putih, lauk yang lengkap, sayur yang lezat, buah yang segar, air yang sehat. Tak pernah Ipul rasa. Nasi bekas, tanpa lauk, daun mentah, air keran yang kotor. Itu keseharian kita. Kalau dulu Ipul pasti sakit perut habis makan. Tapi sekarang aku sudah kuat, Mak. Aku sudah biasa. Lagi dapat uang banyak, Ipul bisa beli roti di warung Bang Samin. Lebih enak dari nasi mulung. Walau tak seenak makanan orang di rumah itu. Sisanya saja masih enak. Ipul sering mungut sisa mereka yang dibuang, sekalian mulung. Males ngamen mulu.

Mak,

Dingin!

Kenapa kita tidak bisa tidur di atas permadani busa?

Kadang tidur di trotoar, kadang tidur di teras toko engkoh,  tukang betulin Tipi itu tuh. Ipul tak tahan, Mak. Baju putihku yang lusuh dan kotor ini amat tipis. Hanya ini bajuku. Angin malam yang dingin menerpa tubuh. Serasa menembus dada. Serasa meremas jantung. Serasa menusuk tulang. Serasa darah membeku. Mungkin orang lebih suka malam. Bisa tidur nyenyak dininabobokan kipas dan AC. Dalam ruangan yang hangat. Tapi bagi Ipul siang harilah hidup. Biar matahari terik menyiksa  Ipul lebih suka siang. Untung kemaren Ipul nemu kain panjang ini. Lumayan buat selimut. Emak juga sering mengigil kedinginan waktu malam. Ya kan, Mak?

Mak,

Panas!

Kenapa kita tidak bisa berteduh di bawah atap istana.?

Apa yang kita jadikan tempat berteduh? Hanya pohon ceri itu. Yang buahnya tak pernah matang. Yang daunnya rimbun hanya pada satu sisi. Karena daun-daunnya sering Ipul ambil. Enak sebagai pengisi mulut. Juga biar tetep bisa nyanyi. Ipul kan harus ngamen. Apa yang kita punya, Mak? Orang bilang kita ini gelandangan. Rumah tak punya. Punya sih….. Beratap langit, beralas bumi. Tanpa apapun. Kaki menapak tanah yang kasar, tangan menggapai langit. Andai kita bisa. Malah langit yang menggapai kita. Dengan sinar mataharinya yang menyengat. Dengan air hujannya yang tercurah deras, membasahi tubuh. Membuat hati kita basah. Membuat resah.

Mak,

Capek!

Kenapa kita tidak bisa naik mobil kemana suka?

Lelah sudah Ipul menjalani hidup. Menapaki ruas-ruasnya. Menjejali setiap jengkalnya. Hidup yang penuh derita. Hidup yang penuh luka. Hidup yang penuh duka. Hati Ipul pilu mengingatnya. Saat ada anak seumuran Ipul membawa mobil-mobilan yang bagus, baru dibelikan ibunya di mol. Dan anak itu memainkan mobilnya di depan Ipul. Ipul hanya menatapnya iri sambil tersenyum simpul. Ipul minta Emak belikan juga. Tapi Emak hanya diam sambil menatap Ipul dengan tatapan kosong. Ipul merengek, tapi Emak tetap diam. Hatiku sakit, Mak. Tapi sekarang aku tahu hati Emak jauh lebih sakit. Dan sekarang Ipul mencoba hidup sendiri. Mencoba tegak berdiri. Tanpa sanggahan. Tanpa topangan. Tetap tegar walau angin kencang menerpa. Tetap bertahan walau ombak menghempaskan energinya. Sepreti pohon yang akarnya menghunjam bumi. Seperti karang yang terus memecah ombak. Mencoba bertahan di tengah kemelut hidup yang kejam. Mencari sesuap nasi dan seteguk air untuk bertahan hidup. Sejak itu, Ipul mengamen di lampu merah. Di jalan-jalan. Di angkutan-angkutan umum. Mengeluarkan suaraku yang serak ini.  Ipul tidak mengharap orang-orang menghiba karena suara Ipul. Tapi Ipul harap orang mengerti makna dibalik lagu Ipul. Yang bermakna hidup ini harus diperjuangkan. Inilah hidup kita. Ya kan, mak?

Mak,

Ipul telah letih mencari. Dan kembali di sini. Menanti asa yang terus berlari. Menerjang kesunyian hati. Menepis kesepian diri. Membelenggu rindu yang suci.

Mak,

Malam ini hening. Kelam. Gelap tak bersuara. Sunyi senyap tak bernapas. Sepi menari. Menertawakan kosongnya hati ini. Semua terlelap mengejar mimpi. Meneruskan hidup yang masih berarti. Sepi…Sepi…Malam ini begitu sepi. Ya kan, mak?

Mak,

Jawablah!

Kenapa sudah tiga hari emak tidak bangun-bangun juga?  

Cerpen ini saya temukan di arsip sekolah. Dari tanggalnya, cerpen ini saya tulis di kelas 1 SMP. Saya sendiri tidak begitu ingat pernah menulis cerita ini. Tapi saat membacanya kembali saya baru ingat bahwa cerpen ini menjadi Juara I dalam kompetisi Perang Pena, kompetisi menulis pertama yang saya ikuti 🙂

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.