Semacam Referensi Untuk Sidang Skripsi

Menjalani hidup adalah berani membuat pilihan.

Kemanapun langkah yang kita ambil dalam kehidupan, pasti dipertemukan dengan pilihan. Belok ke kanan atau ke kiri, kerjakan sekarang atau nanti, hingga memilih pasangan yang itu atau yang ini. Setiap jengkal kehidupan kita dipenuhi oleh opsi, dan kita tak pernah bisa lari.

Maka orang yang sukses adalah orang yang berhasil membuat pilihan yang tepat. 

Kita adalah koleksi pengalaman-pengalaman kita. Bagaimana kita membuat keputusan sangat ditentukan oleh pengalaman yang kita punya. Pengalaman itu semacam referensi untuk menghadapi sidang skripsi: semakin banyak referensi yang kita punya, semakin siap pula kita menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penguji.

Maka jika ingin siap membuat pilihan yang tepat dalam kehidupan, kita harus membekali diri dengan berbagai pengalaman.

Jika iya, apakah berarti taraf kesuksesan seseorang berbanding lurus dengan usia? Semakin tua seseorang, semakin banyak pengalamannya, dan semakin pandai pula dia dalam mengambil keputusan? Ternyata tidak demikian. Banyak orang yang menjalani kehidupan sedemikian lama, tetapi pengalamannya itu-itu saja. Yang dilakukannya setiap hari sama, rutinitas yang dijalaninya selalu sama, orang-orang yang dia temui sama dan itu-itu saja, tempat ia berkutat setiap hari pun sama, disitu-situ saja.

Ternyata untuk punya banyak pengalaman kita tak mesti menjadi tua. Ada banyak cara agar kita punya banyak pengalaman selagi muda, yang kita tak perlu merasakannya untuk tahu rasanya seperti apa. 

Bapak saya pernah bilang, “Kalo kamu penasaran rasanya dihantam orang, apa kamu merasa perlu dan mau dihantam juga?”.

Mendengarnya saya jadi memegang pipi sendiri. Tak perlu merasakan sendiri rasanya dihantam jika sudah ada orang yang memberi tahu bahwa dihantam itu rasanya sakit.

Sumber pengalaman ada dimana-mana dan tak ada ujungnya, tapi usia kita ada batasnya. Maka kita tak perlu menciptakan pengalaman sendiri, jadikan pengalaman orang lain sebagai referensi kita dalam menghadapi pertanyaan dari penguji kehidupan.

Lihat kembali indera yang kita punya. Kita hanya punya satu mulut, tapi kita punya dua mata dan dua telinga. Sebuah pertanda bahwa kita harus lebih banyak belajar dari mengamati dan mendengar, bukan banyak berbicara dan berkata-kata. I know this is a cliche one, but I gotta tell you that’s true. 

Maka untuk belajar, kita harus banyak menerima. Banyaklah membaca, menyelami samudera pengalaman dan lautan pengetahuan lewat tulisan. Hiruplah manisnya kesuksesan dan asamnya kegagalan dari cerita orang-orang di sekitar kita. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil andai saja kita mau mengecilkan volume kesombongan dan meredupkan kilat keangkuhan. Belajar bijaksana, belajar menerima.

Belajar membuka mata. Belajar membuka telinga.

Semacam referensi untuk sidang skripsi, kita dituntut untuk siap dengan membaca dari sana sini. Untuk bisa punya banyak pengetahuan, bukan berarti kita harus melakukan semua penelitian sendiri kan? Jadikan penelitian yang pernah dilakukan orang sebagai referensi, sebagai koleksi pengalaman, agar kita berani membuat pilihan.

Berani menjalani kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close