Marah & Supir Angkot

Malam kemarin saya berkelahi dengan supir angkot.

Tidak sampai adu fisik, tapi cukup membuat saya ingat kembali rasanya menjadi pemarah.

Saya menggedor badan angkot dengan marah.

“Apa-apaan ni!”

Dalam sepersekian detik, saya tidak sedikitpun merasa lelah. Semua rasa berganti dengan amarah. Angkot yang tadinya baru berjalan, langsung berhenti kembali.

“Apaan nih seribu?!” Saya berteriak sambil menunjukkan seribu di tangan saya. Saat turun, saya membayar dengan uang lima ribu. Si supir hanya mengembalikan seribu.

Bukannya menjawab, sang sopir angkot malah balik bertanya, “Emang naik dari mana lo?”

Dalam hati saya sudah memaki dengan berbagai kata yang sungguh tidak pantas. Pertanyaan tolol macam apa itu, jelas-jelas angkot ini ngetem dan tidak jalan sebelum semua kursi penumpang penuh. Jelas-jelas semua penumpang naik dari tempat yang sama, 

“Dari Petronas lah!”, saya menjawab dengan kesal.

“Petronas mana sih?”

“Ya Petronas Pekayon lah, G*OBL*K!”

Kontrol saya lepas. Saya berteriak sambil menggebrak pintu mobil. “Udah mana sini balikin duit gue seribu lima ratus lagi!”. Tangan saya masuk melalui jendela mobil seperti preman menagih uang.

Si supir balik berteriak. Dia juga sudah tersulut emosi. 

“Apaan sih lo, emang segitu bayarnya!”. 

Rasanya badan sudah sangat lelah, kepala sangat berat, dan mata sudah mau terpejam. Saya tidak bisa lagi berpikir tentang apapun dan hanya ingin cepat sampai di rumah. Rasa lelah saya berubah menjadi amarah.

“Gue tiap hari naik ni angkot! Tiap hari gue naik, gue cuma bayar DUA RIBU LIMA RATUS!”

Teriakan saya makin keras. Beberapa penumpang yang tadinya tidur jadi terbangun dan melihat ke depan, ingin tahu apa yang terjadi. Beberapa tukang ojek yang mangkal di dekat saya turun juga ikut berdiri dan penasaran kenapa ada orang teriak-teriak di tengah malam.

Mungkin karena digertak, si supir akhirnya memberi saya uang seribu. Saya menatap uang itu, lalu menatap dia lagi.

“LIMA RATUS LAGI MANA?”,

 "UDAH SYUKUR LO UDAH GUE BALIKIN SERIBU, MASIH MINTA LAGI?“

 "YA HAK GUE YA GUE MINTA LAH, JADI SUPIR ANGKOT AJA KORUPSI LO!”, teriakan saya semakin keras, saya tidak bisa lagi menahan marah, “UDAH SANA JALAN, ENEG GUE LIAT MUKA TUKANG MAKAN DUIT HARAM KAYAK LO!”.

Saya berjalan dengan kepala mau pecah. Sebelum benar-benar pergi, saya menggedor badan mobil. Lagi.

Si supir menatap saya penuh emosi. Saya tidak peduli.

——————————————————————————-

Sampai di rumah, masih dengan kepala yang penuh amarah, saya mengambil segelas air putih. Saya duduk dengan tenang, mencoba bernapas dengan tentram. Saya mencoba kembali berdamai dengan ketenangan.

Kemarin aktivitas saya padat. Pagi hari saya mengurus bisnis, siangnya menjenguk kerabat saya di rumah sakit, lalu sorenya menempuh perjalanan panjang ke Jakarta. Mencari alamat sahabat saya yang menyita banyak waktu dan tenaga.

Semua perjalanan saya lakukan dengan naik kendaraan umum dan berjalan kaki. Jam 23.10, saya baru sampai di stasiun Kranji, baru lanjut naik angkot dua kali untuk sampai di Bekasi. Dalam kondisi amat sangat lelah, angkot terakhir itulah yang akhirnya jadi “pelampiasan” saya menyemburkan api amarah.

Kejadian tadi jelas adalah sebuah kesalahan. Ada yang salah dengan keadaan tadi sehingga saya harus berkelahi dan saling berteriak penuh emosi. Saya menyegarkan kepala dengan berwudhu, lalu mencoba berefleksi. Melakukan introspeksi.

Pertama, saya menyadari betul rasa marah yang begitu meluap tadi adalah karena saya sangat lelah. Rasa lelah saya adalah faktor yang paling bertanggung jawab hingga saya tiba-tiba meledak. Setelah menjalani aktivitas yang begitu melelahkan, ekspektasi saya sederhana: naik angkot, bayar dengan harga seperti biasanya, lalu segera berjalan pulang, istirahat. Tapi ternyata saya harus dihadapkan dengan harga yang tidak seperti biasanya, dan itu dengan mudahnya membuat saya marah.

Ketika lelah, kita kesulitan mengontrol pikiran, fokus kita pun buyar, Perilaku kita – yang pada keadaan normal dikendalikan secara sadar oleh logika – diambil alih kontrolnya oleh emosi. Jika emosi sudah menjadi kontrol utama dalam pengambilan keputusan, logika dikesampingkan, dan perilaku kita seringkali menjadi barbar dan tidak terkendali.

Kasus saya yang menjadi tidak terkendali tadi hanyalah satu dari jutaan kasus yang terjadi setiap hari. Jika Anda ingin merasakannya, gampang, naik kereta Commuterline di jam pulang kerja dari berbagai stasiun besar. Kasus paling ekstrem yang pernah saya rasakan ketika naik kereta tujuan Bogor dari stasiun Tanah Abang. Kereta penuh bau keringat, semua orang kelelahan sepulang kerja, dan rasanya semua orang marah-marah. Ada yang memaki petugas, ada yang mencak-mencak karena kepanasan, ada yang sikut-sikutan karena kegerahan, dan ada yang berteriak marah entah pada siapa. Semuanya melakukan hal itu sepanjang jalan, sepanjang 35 menit, dari Tanah Abang sampai Stasiun UI. Saya hanya menahan napas, jangan sampai ikut terbawa marah.

Tapi hal itu akhirnya terjadi juga pada saya, di tempat lain. Dan mungkin Anda juga pernah merasakannya.

Itulah mengapa saya secara umum tidak setuju pada wanita yang menjadi pemimpin untuk laki-laki. Alasan utamanya, karena secara biologis wanita emosinya tidak lebih stabil dibanding pria, dan emosi ini dapat memengaruhi pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan logika. 

Kembali ke masalah saya dan angkot. Kedua, ada alasan lain yang menyebabkan saya marah daripada sekedar masalah uang yang bagi banyak orang tidak seberapa. Ini soal kejujuran. Bukan tentang saya. Justru saya sedang bicara soal kejujuran supir angkot.

Saya naik angkot itu sejak saya SD. 10 tahun lebih. Kalo diibaratkan pangkat militer, pengalaman saya naik angkot tersebut sudah pantas dianugerahi pangkat jenderal. Saya sudah pernah berinteraksi dengan supir yang masa bodo, penipu, hingga yang baik dan benar-benar jujur.

Faktanya, masih banyak supir angkot yang jujur. Supir angkot yang benar-benar menghargai penumpangnya sebagai pelanggannya. Dalam situasi yang normal, seringkali saya memang memberi uang lebih 500 dari ongkos normal. Misalnya untuk jarak dekat, ongkos normalnya adalah 2.500. Saya seringkali menyiapkan selembar 2.000 dan selembar 1.000, dan saya memang berniat untuk memberi 3.000. Jika tidak dikembalikan saya menganggapnya sebagai sedekah, karena memang saya mengikhlaskannya. Tapi ketika saya memberi uang 3.000 tadi, saya sering mendapati supir yang tidak langsung pergi, tetapi sibuk mencari koin 500 untuk kembalian. Padahal jika mereka langsung pergi dan tidak mengembalikannya pun saya tidak masalah. Tapi mereka secara jujur mengembalikan uang 500 tadi.

Dan saya mendapati supir jujur yang seperti ini tidak sekali dua kali. Sering. Artinya, masih ada banyak supir jujur di luar sana.

Maka saya marah sekali ada supir yang jelas-jelas mau menipu. Menentukan ongkos yang tidak sesuai dengan harga sebenarnya. Dan bukan hanya 500, dalam kasus tadi si supir ngotot dengan harga 1500 lebih mahal dari harga sebenarnya. Memang kelihatannya tidak seberapa, tapi untuk Anda yang menggunakan transportasi umum, terutama menggunakan angkot setiap hari, Anda tahu nilai itu tidak kecil.

Saya hanya merasa sangat tidak adil ada supir yang berani menipu, sementara masih banyak supir angkot lain yang berbuat jujur. Dan alasanketiga, saya sudah tidak ingin lagi menjadi orang yang mendiamkan kesalahan. Saya sedang belajar menjadi orang yang lebih peduli, dan salah satu bentuk kepedulian adalah menegur sesuatu yang salah. Kita sudah terlalu sering membiasakan kekeliruan, mewajarkan kesalahan.

Rasulullah sudah mengajarkan, bahwa jika ada kesalahan, ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisanmu. Jika tidak bisa, ingkari dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman. Saya memilih yang pertama.

Saya juga belajar dari Anies Baswedan, bahwa negeri ini terus bermasalah bukan karena banyak orang jahat, tapi karena orang baik diam dan mendiamkan. Karena kita sering mewajarkan keadaan, sering menganggap sistem yang salah adalah hal yang biasa.

Sudah saatnya kita berubah. Sudah saatnya kita menjadi lebih baik dan berani mengoreksi kesalahan. Mengatakan yang hitam adalah hitam, putih adalah putih.

————————————————————–

Apa yang telah saya kemukakan tentunya bukan untuk membenarkan apa yang telah saya lakukan, tapi lebih kepada evaluasi. Saya menyadari untuk beberapa alasan, apa yang saya lakukan adalah benar, dan juga salah untuk beberapa alasan yang lain. Yang terpenting saya belajar dan terus belajar

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.