Jika Bisa, Saya Ingin Berada Di Sana. Selamanya

Menjadi anak muda itu menyenangkan. Kerjaan kita sepertinya dipenuhi dengan senang-senang. Segala sesuatu, untuk anak muda yang benar-benar berjiwa muda, akan kita lakukan dengan keseruan dan suka cita. Kuliah, saya menjalaninya dengan suka cita. Saya mengambil mata kuliah yang menarik untuk saya, urusan nilai dan sebagainya, alah itu urusan nanti. Yang penting saya suka dan saya bisa mengambil sesuatu darinya.

Untuk mata kuliah yang tidak saya sukai, contohnya segala hal yang berbau tumbuhan, ya saya jalani dengan lapang dada. Saya tetap duduk di kelas, mendengarkan dosen dan mencari hal menarik dan bermanfaat yang bisa saya petik. Saya percaya segala sesuatu, baik yang kita suka maupun tidak kita suka, pasti ada manfaatnya.

Selesai kuliah, biasanya saya berkumpul bersama teman-teman. Ngobrol ngalor ngidul, membicarakan apa saja. Mulai dari politik, isu negara, hingga adik kelas yang pacaran dengan anak fakultas tetangga. Semuanya menyenangkan, diambil serunya.

Selain ngobrol, saya biasanya bermain melepas penat. Walaupun penatnya tak seberapa, tapi keinginan “melepas penat” diada-adakan saja untuk membenarkan permainan yang kami lakukan. Mainnya bisa internetan, nonton film bareng, main kartu atau olahraga seperti futsal dan tenis meja.

Pemikiran bahwa masa muda adalah masa yang menyenangkan ternyata disebabkan oleh masa dewasa yang digambarkan sebagai dunia yang tak menarik dan penuh ketidakseruan. Ketika sudah mencapai dewasa, yang dimulai dengan penganugerahan gelar sarjana, kita dituntut untuk menjadi manusia dewasa sepenuhnya. Kita dituntut untuk berkarir, mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita dituntut untuk tidak lagi main-main, tidak lagi memperbanyak kegiatan bersuka cita, sebisa mungkin semuanya dipersiapkan untuk masa depan. Untuk membina rumah tangga. Untuk membeli rumah. Untuk membeli kendaraan. Untuk kelak bisa membahagiakan anak dan keluarga. Untuk segala hal normatif yang telah dipatenkan masyarakat untuk kita lakukan.

Maka orang dewasa akan menjalani rutinitas yang membosankan. Mengekang kebebasan. Mematikan kreativitas. Membunuh imajinasi.

Manusia tanpa kebebasan agar terkekang pada suatu ikatan. Seperti belalang yang ditaruh di dalam kotak, setelah dilepas lompatannya pun akan tetap setinggi kotak. Manusia tanpa kreativitas akan mati. Manusia tanpa imajinasi akan berhenti bermimpi. Berhenti pada keadaan dan tak mau lepas dari zona aman.

Maka benarlah kata bang Rhoma, masa muda masa yang berapi-api. Di masa ini, kita melihat segalanya mungkin. Kita bermimpi. Kita berimajinasi.

Tetapi ada yang lebih baik dari menjadi anak muda. Jika mesin waktu ada, maka saya akan kembali ke masa saya TK. Masa ketika saya berlari kencang saja saya sudah menjadi pemain sepak bola. Masa ketika saya bernyanyi di depan cermin saja saya sudah merasa menjadi idola. Masa ketika saya tidak peduli perkataan orang dan saya tak punya sedikit pun rasa takut untuk bercita-cita.

Alhamdulillah, saya banyak mengingat kehidupan masa TK. Saya ingat ketika saya harus berjalan kaki sendiri menuju sekolah, dengan tas kebesaran, dan botol minum berisi teh manis yang dilingkarkan di dada. Dulu, di TK saya, ibu guru membagi satu kelas menjadi tiga kelompok dengan meja yang berbeda warna; hijau, kuning, dan merah. Saya ditempatkan di meja hijau bersama teman-teman terpintar yang baik, cantik, dan pandai membaca – karakter murid unggul pada masa itu. Saya sangat bangga duduk di meja hijau karena saya merasa dianggap pintar oleh ibu guru dan ditempatkan bersama mereka. Belakangan ketika SD, saya baru tahu bahwa ibu guru memang menempatkan muridnya berdasarkan kepintaran dan kenakalan; hijau tempat anak baik dan pintar, kuning tempat anak lumayan, merah adalah simbol neraka. Maka simpulkan sendiri siapa yang menempatinya.

Ironis, sejak TK tanpa sadar saya diajarkan untuk mengkotak-kotakkan orang berdasarkan satu standar saja.

Mungkin maksudnya Bu Guru memang untuk mempermudahnya dalam mengajar, karena anak-anak memang memiliki kemampuan pemahaman yang berbeda-beda dan tidak bisa diberi semua perlakuan yang sama. Terlepas dari hal itu, masa-masa pendidikan di TK penuh suka cita. Ibu setiap hari membekali saya dengan kotak makanan yang bisa berisi macam-macam; terkadang roti dengan selai kacang, potongan buah, atau paling sering mie goreng dan biskuit coklat. Di waktu istirahat, ibu guru menyuruh kami untuk membuka makanan yang dibawa masing-masing dan makan bersama. Jika ada teman yang tidak membawa makanan, kami diajarkan untuk berbagi. Kami makan bersama sambil tertawa, terkadang sambil bercanda hingga ibu guru marah. Jika ibu guru marah, beberapa dari kami mungkin akan menangis, tapi tidak lama. Bagi anak TK, kesedihan itu sebentar saja: menangis sebentar, habis itu, ya sudah.

Kebahagiaan ada dimana-mana, dan kita akan cepat kembali gembira.

Kita tak pernah merasa kekurangan karena kita bisa tertawa senang dari barang apa saja. Barang yang tidak ada maknanya pun bisa membuat kita senang dan menikmati hidup sepenuhnya. Bermodalkan potongan batu bata hasil nemu di pinggir jalan, kita bisa menggambar dan membuat tulisan-tulisan aneh di jalan raya. Tidak punya tali skipping, dengan modal karet anak-anak perempuan bisa melompat-lompat dan berbahagia. Tidak punya bola, bermodalkan kaos kaki yang digulung kita bisa bermain bola dan toh, kita senang-senang saja.

Di TK, saya tidak pernah merasa terbebani dengan pelajaran. Padahal saya belajar, tapi tidak ada rasa lelah dan rasa beban. Semuanya terasa seperti main saja; mewarnai gambar, menyusun balok-balok menjadi bangunan, berhitung dengan kumpulan kelereng dan batang kayu, bernyanyi sambil bertepuk tangan. Semuanya dijalani dengan penuh kesenangan.

Lalu tanpa sadar, kita semua jadi bisa merangkai huruf menjadi kata dan membacanya. Kita jadi bisa menulis dan menjawab satu tambah satu sama dengan dua. Kita jadi mampu menyocokkan pola bentuk dan warna.

Terkadang ketika saya melakukan aktivitas penting di hari ini, saya terlempar ke masa lalu dan tersadar. Bahwa semua yang saya bisa lakukan di hari ini adalah karena apa yang saya pelajari ketika TK. Saya bisa melakukan perhitungan integral dan (pernah bisa) mendaraskan rumus-rumus fisika karena saya memulainya dari belajar dua tambah dua sama dengan empat di bangku TK. Saya bisa membuat desain yang dihargai jutaan rupiah karena saya memulainya dari menggambar dua gunung dengan matahari di tenganya di bangku TK. Saya bisa menulis catatan ini, menyusun ratusan artikel di blog ini, karena saya memulainya dari tertatih-tatih menggoreskan huruf satu per satu dengan pensil, di bangku TK.

Kita mungkin mengenal dunia ketika di sekolah dasar. Kita mungkin mengeksplorasi dan mencari jati diri di sekolah menengah. Dan kita mungkin berkarya dan menemukan siapa kita ketika kuliah.

Tapi kita mengawalinya di bangku TK. Tempat dimana kita pernah benar-benar bahagia, sepenuhnya bahagia. Masa dimana kita tak sedikitpun ragu akan masa depan dan berani bercita-cita.

Jika bisa, saya ingin berada disana. Di masa itu. Selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close