Inspirasi dari Growbox, Kotak Jamur Indonesia Yang Mendunia

Mari menumbuhkan makanan kita sendiri!

Semangat inilah yang mendorong enam pemuda asal Bandung menciptakan produk kreatif bernama Growbox, sebuah kotak sederhana berisi jamur tiram yang bisa dibudidayakan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Dengan kemasan berbentuk box yang simpel dan menarik, Growbox menawarkan pengalaman baru dalam kegiatan urban farming.

Kreativitas yang melahirkan produk ini lahir dari kolaborasi enam mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda, yaitu Annisa Wibi (Fakultas Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan UNPAD), Arekha Bentangan (Mikrobiologi ITB), Derri Abrahan (Desain Produk ITB), serta Adi Reza, Robbi Zidna, dan Ronaldiaz (Arsitektur ITB).

Ide produk ini berawal dari keresahan mereka terhadap isu pangan di negara kita. Indonesia adalah negara agrikultur, tetapi impor pangan terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Ini karena masyarakat pada umumnya engga peduli makanannya dari mana”, ujar Annisa. Menurutnya, masih banyak masyarakat perkotaan yang menganggap mengonsumis makanan impor itu prestisius, padahal makanan tidak didesain untuk melakukan perjalanan yang panjang. Karenanya mereka mulai berpikir bagaimana caranya mengedukasi dan mengubah gaya hidup masyarakat untuk mulai menumbuhkan makanan sendiri. Karena dengan menumbuhkan makanan sendiri, kita bisa memastikan kualitas kesehatan dan kesegaran makanan yang kita konsumsi. Salah satu caranya adalah dengan mempopulerkan urban farming.

Di awal September 2012, mereka mendapatkan inspirasi ketika berjalan-jalan di Yogyakarta dan makan siang di sebuah restoran yang menyajikan aneka makanan dari jamur. Dekorasi berbagai media tanam jamur yang menghiasi restoran tersebut juga memantik kreativitas dan pertanyaan dalam benak mereka: bisakah kita menumbuhkan jamur di kota? Saat pulang ke Bandung, mereka membawa segudang keingintahuan dan berkunjung ke sentra jamur tiram di Cisarua Lembang. Dari sana, mereka segera melakukan riset dan prototyping Growbox.

Produk Yang Ramah Lingkungan

Riset awal dilakukan terhadap jenis bibit jamur, komposisi nutrisi, dan penggunaan media tanamnya. Media tanam yang digunakan sangat ramah lingkungan, karena berasal dari limbah industri kayu berupa serbuk. Serbuk kayu kemudian dicampur dengan dedak dan kapur, lalu dimasukkan ke dalam kemasan plastik yang disebut baglog. Baglog disterilisasi dengan uap air bertekanan untuk mengurangi kontaminasi dengan jamur atau mikroba lainnya sebelum ditempatkan di dalam box. Jamur tiram yang dibudidayakan hingga saat ini adalah dari jenis Pleurotus ostreatus, Pleurotus citrinopileatus, dan Pleurotus djamoer.

Sebagai produk yang mengedepankan pengalaman pengguna, desain kemasan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan Growbox. Bentuk box benar-benar didesain untukmemberikan pengalaman menarik bagi konsumen. Misalnya pada tutorial penggunaan Growbox, tahap pertama adalah menuliskan nama jamur yang akan kita tumbuhkan pada salah satu sisi box. Hal tersebut akan memberikan kesan menyenangkan dalam melakukan kegiatan urban farming.

Selain itu, Growbox juga didesain untuk memudahkan kegiatan budidaya jamur. Pengguna hanya perlu membuka segel dan menyayat baglog saat memulai. Untuk pemeliharaan, kita hanya perlu menyemprotkan air biasa 1-3 kali sehari dan menjaganya dari sinar matahari langsung. Dalam 2-4 minggu, jamur sudah dapat dipanen dan dikonsumsi. Dan tak hanya sampai disitu, jamur juga dapat dipanen hingga 3-4 kali.

Sejak pertama kali diluncurkan pada Oktober 2012, produk ini telah diterima dengan sangat baik oleh pasar. Tidak hanya di Indonesia, Growbox juga telah sampai ke berbagai negara mulai dari Malaysia, Cina, Inggris, Jerman, Hungaria, dan Islandia.

Awalnya Annisa pun mengaku bingung ketika mendapatkan email dari orang-orang yang tinggal di negara tersebut. Mereka mengatakan bahwa jamur Growbox tumbuh subur disana dan ingin membeli lebih banyak lagi. “Ketika ditanya, rata-rata mereka bilang dapat Growbox dari temannya yang orang Indonesia. Oleh-oleh dari Indonesia katanya”, tambah Annisa. Itu berarti sudah banyak masyarakat perkotaan yang percaya bahwa jamur dalam Growbox juga bisa menjadi komoditas khas Indonesia.

Growbox juga telah mendapatkan berbagai prestasi dan penghargaan, diantaranya menjadi Finalis Shell Live Wire 2013, Mitra Kampus BNI, dan baru-baru ini menjadi 3rd Winner Global Innovation Through Scence and Technology (GIST) Demo Day 2014. Berbagai penghargaan tersebut tentunya tidak lepas dari kolaborasi tim dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda.

Kami percaya bahwa dengan kolaborasi multidisiplin, kita bisa menyelesaikan sebuah problem dengan solusi yang terpadu,” jelas Annisa. Menurutnya, keragaman latar belakang itulah yang menciptakan kreativitas Growbox, sehingga setiap aspek produk dapat dikembangkan oleh setiap anggota tim bidang keahliannya

Growbox merupakan salah satu inspirasi untuk para pemuda Indonesia dalam berinovasi. Mereka mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang mereka pelajari di bangku kuliah, lalu berkolaborasi sehingga tercipta produk yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan perubahan yang lebih baik. Ditanya tentang tipsnya untuk para pemuda, Annisa berkata singkat, “We should stop making bigger things, and start making better things!

————————————————————————-

Tulisan ini dimuat di Portal Indonesia Kreatif dan telah dibagikan lebih dari 1200 kali di sosial media

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close