Mengatasi Masalah Dengan Standup Comedy

image

Entah sejak kapan, saya jadi sangat tertarik pada Standup Comedy. Yang saya ingat jelas, mungkin karena suatu hari saya terdampar di blognya @pandji dan akhirnya mulai membaca dan menonton berbagai video Standup Comedy di Youtube.

Ketertarikan saya pada awalnya murni sebatas seru-seruan saja. Ternyata semakin saya membaca tentang Standup, semakin kuat daya tarik yang saya rasakan. Karena ternyata, Standup Comedy memiliki dua komponen penting yang sangat saya sukai: 1. Menulis, dan 2. Berbicara di depan publik.

Kata banyak orang, Standup Comedy adalah komedi cerdas. Seperti semua hal, ada yang setuju dan tidak, ada pro dan kontra.

Saya sendiri ada di bagian pro, dimana saya sangat setuju. Mari kita bahas.

Pertama, menurut saya komedi sendiri adalah salah satu jenis hiburan yang membutuhkan kecerdasan tingkat tinggi. Apapun jenis komedinya, menciptakan kelucuan membutuhkan kreativitas. Dalam menciptakan komedi seseorang harus memiliki kecerdasan untuk bisa memahami status quo dari isu yang dibahas, memiliki kreativitas yang baik dalam menciptakan logika alternatif, dan memilki kemampuan yang mumpuni dalam delivery.

Bahkan pada jenis komedi slapstick yang oleh banyak orang dianggap kampungan, kreativitas dan kecerdasan sangat dibutuhkan. Lihat saja bagaimana komedian seperti Olga, Deni Cagur, atau Komeng menciptakan contoh-contoh kocak yang ga pernah kepikiran.

“Alaaah, dasar kancing baju koko!”

“Etdah, berisik banget lu kayak baskom antibocor!”

Memang kebanyakan salah secara moral karena ngata-ngatain orang. Tapi saya sendiri tetap sering ketawa dan kagum, bagaimana coba mereka kepikiran untuk memunculkan istilah “kancing baju koko” dan “baskom antibocor”. Bagi saya, kreativitas dalam menyebutkan permisalan oleh para komedian ini sama seperti kreativitas yang digunakan Dee dalam menuliskan “seperenambelas mati” atau Andrea Hirata dalam menyebutkan “Serbuk Pilea” di novelnya masing-masing. Orang umumnya sering menyebut “setengah mati”, tapi Dee memplesetkannya ke dalam bilangan yang lebih kecil dan ga pernah kepikiran menjadi “seperenambelas”. Sedangkan Andrea Hirata menggambarkan luapan inspirasi dari Lintang dengan permisalan yang tinggi dan tak terbayangkan: seperti luapan “Serbuk Pilea (bunga meriam)”.

Komedian itu orang-orang yang cerdas, pikiran mereka spotan dan ide-idenya meluap cepat dan tidak sabaran. Di Indonesia, komedian kebanyakan melucu dengan self depreciating alias merendahkan diri sendiri. Akhirnya banyak komedian yang dianggap beneran goblok, bahkan dalam kehidupan sehari-harinya, karena mereka memang merendahkan diri sendiri untuk membuat orang tertawa. Padahal justru self-depreciating itu hanya akan lucu kalau dilakukan dengan cerdas. Ga percaya? Coba pelajari bagaimana Haji Bolot yang dianggap lucu oleh hampir semua orang. Saya sendiri geleng-geleng kepala bagaimana cerdasnya Haji Bolot memainkan peran berpura-pura bolot dan menyahut lawan bicara dengan sangat tidak nyambung, tapi ujungnya bisa nyambung lagi.

Yang ingin saya katakan adalah, komedian adalah orang-orang kreatif. Dan mereka sama kreatifnya dengan para novelis yang dari karyanya jelas terlihat pintar. Artinya, jika anda mengagumi Dee dan Andrea Hirata karena kreativitas mereka dalam meramu kata-kata pada novelnya, maka seharusnya Anda juga mengagumi para komedian karena kreativitas mereka dalam meracik kelucuan. Karena pada dasarnya bahan yang mereka olah untuk berkarya adalah sama.

Kembali ke Standup Comedy.

Kedua, orang sering salah sangka bahwa yang dimaksud komedi cerdas berarti penikmatnya  yang harus cerdas, baru bisa tertawa dan menikmati standup comedy. Menurut saya pernyataan ini (sangat) salah, karena keharusan untuk menjadi cerdas bukan pada penonton. Tapi pada komikanya (Komika adalah sebutan untuk seorang Standup Comedian).

Standup comedy berbeda dengan jenis komedi lain karena satu hal mendasar: standup dilakukan oleh satu orang. Tidak seperti sitkom, lenong, atau ketoprak humor, standup dilakukan tanpa lawan bicara dan tanpa bantuan sound effect atau musik. Artinya, standup comedy hanya mengandalkan ucapan/monolog dari sang komika.

Hal ini jelas membutuhkan kecerdasan. Seorang komika harus pandai menciptakan konten, menyusun dan memilah kata, serta membuat skenario yang apik dari setup hingga punchline. Lalu karena mengandalkan monolog, seorang komika juga harus memiliki kecerdasan dalam berkomunikasi; mampu memainkan mimik wajah, pandai mengatur intonasi, dan menjaga artikulasi.

Kecerdasan lainnya yang harus dimiliki seorang komika adalah sensitivitas humor. Saya pribadi membatasinya secara khusus sebagai kepekaan terhadap kondisi sekitar. Seorang komika harus peka dalam menyikapi suatu isu dan mengejawantahkannya ke dalam bit-bit komedi. Dan komika harus sadar betul kecocokan antara materi yang dibawa dengan penontonnya. Komika yang cerdas tahu kapan dia harus membicarakannya dan kapan dia harus menahannya.

Sebagai contoh, ada banyak kasus dimana seorang komika sukses menuai tawa di satu penampilan dan ngebom di penampilan lain. Btw, ngebom adalah istilah untuk kejadian dimana seorang komika tampil ngelucu tapi ga ada yang ketawa, istilah sederhananya krik-krik. Misalnya ada komika yang sukses tampil di kafe berkelas di Kemang (dengan penonton kelas menengah ke atas), tetapi malah “krik-krik” ketika tampil di panggung rakyat, di acara dangdut atau kondangan (dengan penonton kelas menengah ke bawah).

Pada kasus seperti ini, pasti banyak orang yang menyalahkan penontonnya, “Ah ya iyalah lo manggung sama penggemar dangdut, mana ngerti ama materi standup”. Menurut saya, sangat aneh jika ada orang yang menyalahkan penontonnya. Lah mereka kan emang cuma datang mau dangdutan atau kondangan, kenapa mereka yang jadi dicap ga pengertian?

Kalo ga lucu, ya salahkan komikanya. Kalo orang tertawa ketika tampil di Kemang, ya itu karena materi yang dibawakannya cocok dengan penontonnya. Artinya, penonton di acara dangdut sama kondangan ga ketawa karena mereka ga cocok dengan materinya. Dan ini salahnya si komika. Dia tidak sensitif, bisa mengidentifikasi karakter penonton dan mencocokkannya dengan materi yang dibawakan. Kalau komika yang cerdas dan sensitivitas humornya tinggi, tentu dia akan membawakan materi yang “lebih membumi” ketika tampil di panggung dangdut, atau bahkan tidak tampil sama sekali. Pilihan untuk menolak tampil karena pertimbangan sukses tidaknya penampilan juga kecerdasan yang harus dimiliki oleh seorang komika.

Ketiga, Standup adalah komedi cerdas karena hanya bisa dibawakan oleh orang yang berani. Secara kultural, standup lahir di Amerika ketika kritik sosial di hadapan publik dianggap tabu. Diantaranya, ketika itu rasisme masih terjadi di Amerika dan sangat jarang orang yang berani membicarakannya di hadapan orang banyak. Lalu muncul orang-orang berani yang  membicarakan rasisme di panggung-panggung, bahwa orang kulit berwarna tidak seharusnya diperlakukan berbeda dengan orang kulit putih. Tapi dikemas dalam bit-bit komedi, sehingga bukannya marah, orang-orang yang mendengarnya malah tertawa.

Dan di sinilah saya sangat tertarik dengan Standup Comedy.

Standup dapat digunakan sebagai media yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan. Ketika kita ingin menyampaikan kritik terhadap sesuatu yang salah, tentunya kita ingin orang bisa menerima apa yang kita sampaikan. Tapi kebanyakan orang yang sudah menganggap dirinya benar tidak mau mencerna apa yang kita katakan, bahkan seringkali menutup telinga dan tidak mau mendengar sama sekali.

Standup comedy, mengatasi masalah ini.

Seperti yang diceritakan @pandji dalam bukunya Merdeka Dalam Bercanda, standup adalah bagian dari perlawanan terhadap rasisme di Amerika. Di atas panggung, para komika dengan berani menjadikan isu-isu rasisme sebagai materi, membuat orang tertawa dan kemudian menyadari ada kesalahan disana. Melalui komedi, “people reflect themselves, see the mistakes in themselves, laugh about it, and changed their lifes”.

Dengan komedi, kita membuat orang-orang tertawa dan membuka diri dengan apa yang ingin kita sampaikan. Mereka tertawa, dan setelah itu berhenti sejenak dan mulai berpikir tentang apa yang kita sampaikan, dan membuat perubahan dengan menerima bahwa itu adalah kesalahan. Kesalahan yang seringkali saking tololnya jadi lucu dan bisa membuat kita tertawa.

Kita harus mulai menyadari bahwa banyak kesalahan yang terjadi di sekitar kita dan kita biarkan saja, hanya karena tak ada yang berani membicarakannya. Kita semua berpura-pura kesalahan itu tidak ada. Tapi kesalahan itu tetap ada, dan selalu disana sementara kita diam dan berlagak tidak ada apa-apa.

Standup comedy mengaburkan ketabuan ini. Standup comedy membuka kesempatan bagi kita untuk membicarakan kesalahan, berintrospeksi, melakukan perubahan, dan memperbaiki diri.

Dan saya percaya, dengan cara yang cerdas, kita bisa berfleksi dan memperbaiki diri.

Salah satunya dengan standup comedy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close