Jadi, Bagaimana Dia Menggantung Dirinya?

Teman saya punya dosen di LIPIA, sepupunya Syaikh Sudais sang imam Masjidil Haram. Katanya marga si dosen adalah marga yang memiliki bank pertama di Saudi Arabia, yang artinya si dosen ini orang kaya dan banyak uangnya. Jika Anda belum pernah berinteraksi langsung dengan para masyaikh dari Arab sana, mungkin Anda akan kaget betapa banyaknya uang yang mereka punya, dan karenanya, betapa murah hatinya mereka “menghambur-hamburkan” uang mereka.

Suatu hari di kelas yang cukup membosankan dan membuat ngantuk para mahasiswa, sang dosen tiba-tiba mengeluarkan uang 1 juta (baca: 1.000.000) dari kantongnya dan menaruh di meja. “Saya akan bercerita dan nanti akan bertanya. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya silahkan ambil uangnya”. Semua mahasiswa pun serentak bangun dan terbelalak matanya, siap mendengarkan cerita demi uang satu juta.

Si dosen bilang cerita yang akan dikisahkannya nyata terjadi di Saudi Arabia.

“Alkisah terdapat sepasang suami istri. Rumah tangganya tak begitu baik, jika tidak mau dibilang buruk. Sang suami jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang ke rumah kerjaannya hanya marah-marah kepada sang istri. Tak hanya itu, sang istri juga menjadi korban kekerasan; sering dipukuli atau disiksa hingga terluka.

Kejadian seperti itu tidak berjalan selama satu dua minggu, tapi berjalan berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun.

Hingga sampai suatu hari sang suami pulang ke rumah seperti biasa. Masuk ke dalam rumah, sang suami segera mencari istrinya. Dia memanggil kesana kemari di rumahnya yang besar tetapi  tidak ada jawaban. Dia mengecek ruangan di rumah satu per satu tapi tetap tak menemukan istrinya.

Sang suami kebingungan dan hendak marah. Hingga dia tersadar ada satu ruangan yang belum diperiksanya. Gudang. Maka pergilah ia ke gudang tersebut.

Sesampainya disana gudang tersebut terkunci dari dalam. Sang suami marah bukan main. Didobraknya sekuat tenaga pintu gudang tersebut. Tetap tidak terbuka. Sang suami tambah marah dan semakin kuat mendobrak pintu gudang. Setelah suara retakan kayu pintu yang sangat keras akhirnya pintu terbuka.

Sang suami melihat ke dalam gudang dan terbelalak.

Sang istri gantung diri dan sudah tidak bernyawa.

Si suami memeriksa istrinya yang tergantung di tengah ruangan gudang yang sangat besar. Namun ada satu hal yang membingungkannya. Dia melihat sekeliling dan bergidik ngeri.

Tak ada apapun di gudang itu. Gudang itu kosong melompong.

Tak ada kursi.

Tak ada meja.

Tak ada lemari.

Tak ada apapun.

Tak ada satu benda pun yang bisa digunakan si istri untuk berdiri dan menggantungkan dirinya di tengah ruangan tersebut.

Fakta mengerikan itu membuat dirinya frustasi. Istrinya gantung diri, tapi tak ada satu penjelasan logis pun yang bisa membuatnya mengerti, bagaimana sang istri bisa gantung diri?

Akhirnya si suami melapor ke polisi mengenai kejadian tersebut. Polisi datang ke tempat kejadian dan mendapati kebingungan yang sama; tidak ada tanda-tandan kekerasan dari orang lain. Dan jika pintu gudang terkunci dari dalam dan sang istri bunuh diri, dengan apakah dia berdiri dan menggantungkan dirinya?

Tak ada jawaban.

Polisi tidak enemukan jawaban, tapi akhirnya memutuskan bahwa si suami adalah pelaku pembunuhan, apalagi mengingat bahwa si istri terbiasa menjadi korban kekerasan dari suaminya. Dia dihukum 32 tahun penjara”

Sang dosen terdiam sebentar, menatap mahasiswanya, lalu bertanya.

“Jadi, bagaimana si wanita menggantung dirinya?”

Semua terdiam. Kisah yang mengerikan. Korban kekerasan rumah tangga yang gantung diri tanpa menggunakan alat apapun sebagai pijakan? Menakutkan. Semua terdiam dan merenung ngeri dengan premis awal cerita bahwa ini kisah nyata.

Hingga tiba akhir kuliah, sang dosen menggeleng dan uang satu juta tersebut kembali masuk ke dalam sakunya. Tak ada yang bisa menjawab. Harapan untuk mendapat satu juta telah terkubur oleh kengerian cerita.

Sang dosen tersenyum. Hingga akhirnya, semua terdiam menunggu jawaban.

“Jawabannya mudah saja”.

.

.

.

.

.

.

“Balok Es”.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.