Saya mengamati tulisan anda dari waktu ke waktu, terutama pasca lulus SMA hingga sekarang. tulisan anda begitu menarik dan berkembang dari waktu ke waktu. Bisa bagi tipsnya?. trims.

Bagi saya, menulis sebenarnya adalah salah satu pekerjaan dengan rutinitas dasar paling monoton: membaca-menulis-mendengar-menulis-membaca-menulis, dan begitu seterusnya.

Monoton, dan anehnya tetap menarik.

Dalam berbahasa, kita mengenal empat skill utama: Reading, Listening, Speaking, dan Writing. Dua skill pertama dikategorikan sebagai skill konsumsi (input), yaitu kemampuan kita dalam menyerap pengetahuan dan wawasan yang ada di sekitar kita. Sementara dua skill lainnya dikategorikan sebagai skill produksi (output), yaitu kemampuan kita dalam menciptakan atau menceritakan kembali apa yang telah kita serap dari proses konsumsi.

Menulis termasuk dalam proses output; mengeluarkan ide dan pengetahuan yang ada di dalam otak kita ke dalam kumpulan kata-kata.

Output selalu tergantung dari inputnya. Dalam Steal Like an Artist, Austin Kleon menulis bab khusus yang berjudul Garbage In, Garbage Out. Jika kita mengonsumsi sampah pada proses input, maka sampah juga yang akan keluar pada proses output. Begitu pula sebaliknya, jika kita ingin mengeluarkan emas pada proses output, maka emas lah yang harus kita konsumsi pada proses input.

Jika kita ingin menghasilkan produk output yang bagus, mulai dari proses inputnya.

Dalam menulis, mari membaca lebih banyak buku. Tingkatkan frekuensi dan intensitas. Jangan membatasi bacaan pada jenis buku tertentu: semakin banyak jenis buku yang kita baca, semakin kaya pembendaharaan kata yang kita punya, dan semakin luas spektrum pengetahuan & sudut pandang kita dalam mengamati sesuatu.

Setelah membaca lebih banyak, mari mendengar lebih banyak. Saya selalu senang berdiskusi dengan siapapun, karena membuat saya mendapatkan input pengetahuan yang lebih banyak dan luas. Lebih banyak mendengar juga membuat saya menjadi lebih sulit membenci sesuatu, karena sekarang saya berusaha memahami sebelum membenci. Hal ini membuat saya berpikir lebih jernih dan memudahkan saya menuangkan pikiran melalui tulisan.

Kembali ke pedoman rutinitas menulis yang monoton, setelah memperkaya proses input, fokus pada proses output: menulis.

Saya sendiri masih terus belajar, salah satunya dari kolumnis favorit saya: Rene Suhardono, yang menutup satu tulisannya di buku #UltimateU2 dengan quote yang menyentil.

Practice doesn’t make perfect. Perfect practice makes perfect.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close