Connecting The Dots

Bagi saya menulis seperti semacam terapi.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, terlalu banyak pikiran di benak saya.

Otak manusia adalah salah satu maha karya terhebat yang ada di dunia. Beberapa neurologis mengatakan setiap harinya ada lebih dari 5.000 pikiran yang bermunculan di otak kita, itu artinya satu pikiran setiap 15 detik. Otak kita beraktivitas dengan sangat cepat, dimana pikiran kita melompat kesana kemari tanpa pernah berhenti. Bahkan seperti yang diceritakan karakter Cobb dalam Inception, otak kita bisa beraktivitas lebih banyak ketika kita tidur dan tidak beraktivitas fisik sama sekali.

Menulis bisa menjadi terapi bagi ribuan pikiran yang setiap hari berlalu-lalang tanpa henti di otak kita. Saat memikirkan satu hal, otak kita akan secara cepat membuat koneksi dan menghubungkannya dengan hal lain, sehingga kita akan dengan segera berpindah ke pikiran yang lain. Dengan traffic pikiran yang sedemikian cepat, sangat wajar jika kita sering lupa. Itulah kenapa, manusia dalam bahasa arab dinamakan insan, berasal dari kata nisyan yang berarti lupa.

Menulis akan menimalisir kerugian yang timbul dari sifat pelupa manusia. Jutaan pikiran kita yang melompat kesana kemari setiap hari tak akan diingat sama sekali kecuali kita mendokumentasikannya. Dan menulis adalah salah satu caranya.

Saat ini, segala macam gadget telah memudahkan kita dalam mendokumentasikan setiap aktivitas dan pikiran kita. Sosial media menjadi jawaban bagi banyak orang untuk melakukannya. Facebook selalu bertanya, “What’s on your mind?”. Twitter lebih spesifik lagi, “What’s happening?”. Path pun mengajak kita untuk mendokumentasikan setiap momen hidup kita; tempat apa yang kita kunjungi, buku apa yang kita baca, lagu apa yang kita dengarkan, dan segala macam aktivitas lainnya.

Tapi bagi saya, tidak ada dokumentasi yang lebih baik selain membuat tulisan.

Saat mencurahkan tulisan, saya seperti menuangkan seluruh jiwa saya, karena tidak hanya pikiran, tapi saya juga seringkali mencurahkan isi hati. Menulis menjadi satu momen dimana saya tidak hanya berbagi, tapi juga menjelajah ke dalam hati, menemukan diri saya sendiri.

Dalam dunia yang berjalan begitu cepat, cara terbaik menemukan diri sendiri adalah dengan menoleh ke belakang. Kita akan diingatkan mengapa dulu kita memulai. Kita akan mengetahui setinggi apa kita telah bertumbuh. Dan kita akan menyadari seberapa jauh kita telah melangkah.

“You can’t connect the dots looking forward, you can only connect them looking backwards”. 

Connecting the dots, adalah salah satu konsep kehidupan favorit saya yang diajarkan oleh Steve Jobs. Kita tidak bisa menyambungkan titik-titik kehidupan ke depan, karena tidak ada satu pun yang bisa kita pastikan dari masa depan. Tapi kita selalu bisa menyambungkan titik-titik kehidupan ke belakang. Menyatukan arti semua yang telah kita lewati di hari kemarin, yang menjadikan kita di hari ini.

Blog ini telah menjadi bagian dari cara saya mendokumentasikan pemikiran saya, dan saya ingin mengisinya pula dengan titik-titik kehidupan saya. Agar di suatu saat nanti, saya bisa punya waktu untuk menoleh ke belakang, menyadari seberapa jauh saya telah melangkah, dan menemukan diri saya sendiri.

Saya menyebutnya Connecting The Dots.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close