4 Tips Berani Berkarya ala Raditya Dika

Raditya Dika adalah salah satu nama terbesar di industri kreatif Indonesia. Indikator yang paling jelas dengan melihatnya di sosial media; pemilik follower twitter terbesar dan subscriber Youtube terbanyak di Indonesia. Saya telah mengikuti karyanya sejak Kambing Jantan, dan penulis satu ini terus berkembang dan melebarkan sayap karirnya. Memulai karirnya sebagai blogger, Raditya Dika terus bertumbuh bersama karyanya. Dika sukses menjadi penulis buku, penulis skenario, aktor film, Stand Up Comedian, dan kini juga menjadi seorang sutradara.

30 September kemarin saya berkesempatan menyerap ilmunya secara langsung di kelas Creative Writing yang diadakan Ikatan alumni dan BEM FMIPA UI. Dimoderatori oleh kakak beradik Andovi dan Jovial Da Lopez, talkshow berjalan seru dan menghibur. Selama kurang lebih 90 menit, duo SkinnyIndonesian24 ini mengajak kita untuk menggali tentang proses kreatif Raditya Dika diselingi berbagai humor yang spontan dan mengocok perut.

Berikut beberapa catatan penting yang saya pelajari dari Raditya Dika dan SkinnyIndonesian24.

1. Follow Your Passion

Kerjakan apa yang menjadi passion kita. Jika kita belum menemukannya, tetaplah mencari, karena passion lah akan menjadi bara yang memantik semangat kita untuk berkarya. Passion akan membuat kita terus berkarya, apapun hambatannya. Sejak kecil, passion Raditya Dika adalah menulis. Dia menulis diari sejak SMP, dan memiliki teman sebangku yang setiap hari bertukar diari di SMA. Cerpen pertamanya berjudul Pesawat Manisku terbit di Majalah Gadis. “Iya sih ini homo banget, tapi dari sana karir gue dimulai”, ujarnya sambil bercanda.

“Kerjakan apa yang kita cintai, sehingga kita bisa hidup darinya. Dan dengan hidup dari apa yang kita cintai, kita bisa mencintai hidup kita sendiri”.

2. Jadikan Kegelisahan Sebagai Sumber Inspirasi

Ketika ditanya tentang sumber inspirasi, Raditya Dika menjawab singkat: kegelisahan. Utarakan apa yang menjadi kegelisahan kita dan tuangkan dalam karya. Semua karya selalu berasal dari kegelisahan; Laskar Pelangi berasal dari kegelisahan Andrea Hirata tentang pendidikan yang dialaminya, Avatar berawal dari kegelisahan James Cameron tentang kolonisasi, dan Malam Minggu Miko berasal dari kegelisahan Raditya Dika ketika menjomblo dan bingung apa yang harus dikerjakan ketika malam minggu.

Menurut Dika, kegelisahan sendiri dapat dikategorikan ke dalam tiga lapisan;

(1) Inner self, kegelisahan di dalam diri. Hal ini mencakup karakter dan sifat di dalam diri kita sendiri. Contoh: Saya orangnya pemalu, tapi saya ingin bisa berani tampil di depan umum.

(2) Outer self,  kegelisahan di luar diri. Biasanya mencakup bentuk fisik atau tampilan luar. Contoh: Saya gelisah karena hidung saya pesek, sehingga saya selalu diejek.

(3) The World Within. Kegelisahan di lingkungan sekitar kita. Contoh: Saya bingung kenapa tiap saya ditilang polisi, saya harus bayar ratusan ribu tapi bisa juga damai dengan lima puluh ribu.

Teori ini sering disampaikan untuk Standup Comedy, tapi juga berlaku untuk segala jenis karya. Semua pembawa perubahan selalu memulai karyanya dari kegelisahan. Mulailah mencari kegelisahan dari inner self, outer self, lalu ke lingkungan sekitar kita.

3. Moments of Doubt

Masa-masa penuh keraguan pasti ada di dalam perjalanan seorang pekarya. Jovi menceritakan bahwa ketika dia membuat video pertamanya di SkinnyIndonesian24, Modus, dia mendapatkan sangat banyak cemoohan dari komentar di Youtube maupun teman-teman di kampus. Begitu pula dengan Raditya Dika, banyak yang mencibir karya dia pada awalnya. Bahkan di awal-awal karirnya, talkshow pertamanya hanya dihadiri oleh 3 orang, semuanya anak SMP. Talkshow keduanya dihadiri 4 orang. “3 orang anak SMP, 1 lagi nyokap gue, haha”.

Ujian itu pasti datang, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Cara menghadapi Moments of Doubt ada dua; (1) Menurut Dovi kita tidak bisa memuaskan semua orang. Maka berhentilah mengejar kepuasan semua orang, fokus pada kreativitas kita untuk memberikan yang terbaik pada orang-orang yang benar-benar peduli pada kita. Fokus pada jujur berkarya untuk sesuatu yang kita sukai. Jovi menambahkan, dengan terus berkarya kita akan menambah probabilitas untuk mempertemukan orang yang memiliki taste yang sama dan menyukai karya kita. Dan ke (2) Menurut Radit, kuncinya adalah mendasari karya kita dengan passion. Asalkan kita memang mencintai apa yang kita kerjakan, maka respon orang lain bukanlah penentu bagi kita untuk berhenti atau jalan terus. Dengan passion, kita pasti tak pernah ragu terhadap cemoohan orang dan maju terus dalam berkarya.

4. Bebaskan Diri Dari Rasa Takut

Bebaskan diri kita dari ketakutan untuk menghasilkan karya yang jelek. Pertama, karena pasti jelek. First Draft is always crap. Script Malam Minggu Miko ditulis sampe 2-3 kali sebelum diproduksi. Laskar Pelangi ditulis Salman Aristo sampe 12 kali. Kita yang belum menjadi siapa-siapa apalagi, jadi bebaskan kita dari ketakutan berkarya yang jelek. Teruslah berkarya dan kita akan tumbuh dengan sendirinya.

Kedua, karena jika kita selalu takut untuk berkarya, kita tidak akan pernah berkarya. Berani berkarya dan teruslah berkarya, maka kita akan berkembang dan bertumbuh dengan sendirinya.

Satu hal tambahan yang saya pelajari dari Raditya Dika; butuh proses menuju kesuksesan. Maka kesuksesan tidak ditentukan oleh seberapa hebat karya kita, tapi seberapa kuat kita bertahan untuk terus berkarya pada sesuatu yang kita yakini.

Salam kreatif!

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.