Ditampar

Terkadang, kita butuh ditampar untuk bisa sadar.

Sebelum benar-benar melihat musibah yang didapat dari sebuah kesalahan, kita pura-pura tuli dan buta. Enggan berbenah dan mengaku salah.

Setelah ditegur dengan musibah, baru kita sadar dan berkaca.

People need dramatic examples to shake them out of apathy.

Sebelum ditilang dan harus membayar denda, mungkin kita tidak peduli untuk memakai helm ketika berkendara. Sebelum mendapatkan kekecewaan dari orang tua, mungkin kita tidak peduli untuk disiplin belajar dan kuliah yang benar. Sebelum kehilangan, mungkin kita tidak benar-benar menghargai waktu bersama orang-orang yang kita cintai.

Tapi semuanya tak harus terjadi demikian. 

Lakukan yang benar karena itu benar. Bukan karena kita baru sadar setelah ditampar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close