Sampah dan Diri Kita Sendiri

Saya selalu heran bagaimana orang bisa dengan mudahnya membuang sampah tidak pada tempatnya.

Saya juga selalu bingung mengapa bagi banyak orang rasanya sulit sekali untuk sedikit saja berusaha ekstra mencari tempat sampah.

Membuang sampah sembarangan kok rasanya biasa saja. Saya sering menemukan orang semacam ini yang membuang bungkus permen di angkot, melempar gelas plastik ke pinggir jalan, atau meninggalkan puntung rokok seenak jidat.

Padahal buanglah sampah pada tempatnya adalah pelajaran yang sudah kita pelajari sejak TK di berbagai pelajaran, mulai dari PPKN, IPA, hingga agama. Tapi masih banyak, ralat, masih sangat banyak orang yang tidak mengerti konsep sesederhana buanglah sampah pada tempatnya. 

Saya sempat memaklumi, meskipun tetap tidak setuju, mungkin orang-orang ini belum beruntung bisa mengenyam pendidikan di sekolah.

Ternyata pemakluman ini salah, karena di kampus sebesar UI (yang seharusnya masyarakatnya berpendidikan) pun, sivitasnya masih banyak yang membuang sampah sembarangan. Terutama para perokok, orang-orang yang dicitrakan/mencitrakan dirinya sebagai pemberani, kreatif, dan lelaki sejati. Indikator saya mengatakan hal tersebut sederhana saja, rekan-rekan penyapu di taman lingkar perpustakaan pusat UI mengaku sampah terbanyak yang mereka kumpulkan setiap harinya adalah puntung rokok. Belum ditambah lagi dengan sampah organik maupun anorganik yang hasilnya bisa ratusan kantung plastik setiap harinya.

Saya yakin fenomena ini banyak terjadi di tempat lain; di kantor, di taman, di jalanan. Orang-orang banyak membuang sampah sembarangan tanpa pernah merasa bersalah.

Ini bukan soal volume, tapi tentang jumlah. Bahkan jika setiap orang hanya membuang sepuntung rokok atau sepotong bungkus permen, tapi yang melakukannya ada satu juta orang, bayangkan sebanyak apa sampah yang kita hasilkan setiap harinya.

Untuk Anda yang belum tahu, ini adalah Pacific Garbage Patch.

image

Terletak di utara samudera Pasifik, arus laut (gyre) yang berputar di sana mengumpulkan jutaan ton sampah dari daratan menjadi sebuah pulau sampah raksasa. Beberapa peneliti memprediksi luasnya lebih dari dua kali daratan Amerika Serikat.

Sampah yang terkumpul di sana adalah akumulasi dari berbagai daratan tempat tinggal manusia, terutama yang berada di sekitar pasifik. Indonesia salah satunya.

Salah satu sampah kita, mungkin saja sampai di sana.

image

Sampah-sampah itu terdegradasi dalam waktu lama, mengapung, dan seringkali dianggap sebagai makanan oleh hewan-hewan yang melihatnya.

Jika kita masih berpikir ini hanya lelucon, seorang fotografer bernama Chris Jordan mendokumentasikan ratusan burung albatross di Pulau Midway yang mati karena memakan sampah plastik. 

image

Dan jika kita masih berpikir apa dampaknya bagi manusia, seluruh hewan yang memakan plastik itu adalah bagian dari jejaring makanan. Racunnya terakumulasi semakin besar pada setiap tingkatan. Di puncak jejaring itu, ada manusia sebagai konsumen teratas, yang mengonsumsi jutaan ton makanan laut setiap tahunnya.

image

Sangat menyedihkan mengetahui fakta ini, bahkan jika kita sudah yakin tak pernah lagi membuang sampah tidak pada tempatnya.

Sangat menyedihkan karena dengan cara yang salah, sampah yang kita hasilkan setiap harinya bisa menjadi sumber dosa yang tidak ada batasnya.

Sangat menyedihkan karena masih banyak manusia yang hanya peduli tentang hari ini.

Dan sangat menyedihkan karena masih banyak manusia, mungkin kita salah satunya, yang hanya peduli tentang dirinya sendiri.

Populasi manusia terus bertambah, produksi sampah setiap harinya semakin membludak, tapi luas bumi tempat tinggal kita tak pernah berubah.

Tapi ada satu hal yang bisa kita ubah: kesadaran kita dalam mengelola sampah.

Itulah mengapa sejak September lalu, bersama Research Center for Climate Change Universitas Indonesia dan Mobile Force, kami menjalankan kampanye digital bertajuk Track Your Move untuk meningkatkan kepedulian anak muda terhadap lingkunganKarena kerusakan lingkungan yang begitu nyata tidak akan bisa kita hadapi, kecuali kita paham dan menyadari.

Menurut saya, ada dua hal sederhana yang dapat dilakukan dalam mengubah perilaku kita tentang sampah. Pertama, kurangi penggunaan sampah plastik yang tidak perlu. Tolak penggunaan plastik ketika hanya belanja sebotol air minum di alfamart atau membeli nasi bungkus di warteg di dekat tempat tinggal. Kedua, kurangi penggunaan sampah kertas. Cetak dokumen di kertas bolak balik. Gunakan kertas bekas tugas atau skripsi sebagai kertas coretan atau buku catatan.

Bayangkan hal sederhana ini dilakukan oleh milyaran penduduk bumi setiap harinya. Betapa banyak hasil sampah yang bisa kita kurangi, betapa banyak hewan yang bisa kita selamatkan, dan betapa besar dampaknya bagi lingkungan dan spesies kita sendiri.

Ya, jika kita belum bisa peduli tentang bumi, percayalah, ini semua pada akhirnya tentang diri kita sendiri.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.