Sosial Media: Munafik

Sosial media kadang mendorong kita menjadi munafik.

Kita di sini, tentu saja termasuk di dalamnya saya sendiri.

Ada saat dimana saya merasa bahwa saya yang ada di dunia maya bukanlah saya yang sebenarnya. Ada topeng yang saya ciptakan. Ada tameng yang saya gunakan.

Sosial media punya satu candu yang membuat kita semua terlena. Namanya kebebasan. Di sini, kita menemukan angin segar yang mungkin sulit kita nikmati di dunia nyata. Kebebasan yang mendemokratisasi cara kita berkomunikasi, dimana kita tidak pernah mengenal kasta. Semua orang setara dan punya kedudukan yang sama. 

Di dunia nyata, mungkin hanya orang sekelas Faisal Basri yang dipercaya bicara tentang ekonomi, dan hanya tokoh semacam Didi Petet yang dibolehkan ceramah soal budaya.

Tapi di sosial media, siapa saja bisa menjadi apa saja dan berbicara tentang apa saja.

The good – and at the same time – dangerous thing about internet, is its freedom.

Masalahnya, angin kebebasan tadi menyegarkan jika dihirup dengan proporsi yang benar. Tapi kalau setiap detik kita merentangkan badan dan menghirup sebanyak-banyaknya, meminjam istilah Sujiwo Tejo, yang ada malah masuk angin.

Di sosial media, orang merasa bebas sebebas-bebasnya karena merasa aman. Orang bisa berani beringas karena interaksi yang terjadi – apapun itu – tidak akan lebih dari sekedar kesal dan mencak-mencak sendiri. Separah apapun saya memaki Anda, Anda tidak akan bisa meninju saya. Kita dan orang yang kita ajak bicara via Facebook, Twitter, Path, apapun itu, dipisahkan oleh layar kaca.

Di sinilah potensi munafik muncul. Meneriakkan apa yang sebenarnya tidak mau kita katakan. Memperlihatkan apa yang sebenarnya tidak ingin kita tampakkan. Memperdengarkan apa yang sebenarnya tidak berani kita bicarakan.

Tweet only things you would say in real life

Ucapkan hanya apa yang benar-benar akan kita ucapkan di kehidupan nyata. 

Jika di dunia maya kita berani mencaci maki presiden, lalu ketika suatu hari dipertemukan langsung dengan beliau kita malah senang bersalaman, itu munafik namanya.

Jika di dunia maya kita berani berdebat twitwar dengan seorang komedian yang satir, lalu saat bertemu malah minta foto bareng, itu munafik namanya.

Jika di dunia maya kita mengkritik habis-habisan kebijakan pemerintah dan meneriakkan kata revolusi, tapi ketika kuliah saja masih datang terlambat, itu juga munafik namanya.

Tidak mudah memang. Tapi menghindari sifat munafik dan menerapkan kejujuran, dapat dimulai dari sesederhana membaca kembali tulisan kita sebelum menekan tombol tweet. 

Meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang saya ucapkan di dunia maya, adalah yang benar-benar akan saya ucapkan di dunia nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close