Percaya

Sekarang saya baru memahami mengapa Einstein selalu dikenang sebagai salah satu manusia paling jenius dalam sejarah. Tak lain dan tak bukan adalah karena sebagian besar hidupnya didekasikan untuk memecahkan enigma paling kompleks dalam sejarah manusia. Karyanya mengungkap misteri sebuah objek misterius, ciptaan Tuhan paling membingungkan yang sangat sulit didefinisikan. Makhluk yang namanya dijadikan sumpah dalam firman Tuhan, makhluk yang hanya datang sekali dan tak pernah bisa kembali.

Makhluk itu bernama waktu.

Sedari dulu, Tuhan telah menjadikan waktu sebagai pengiring peradaban yang mampu mengubah hal sederhana menjadi luar biasa. Atau sebaliknya.

Waktu lah yang menyempurnakan bebatuan di angkasa menjadi bumi dan isinya. Waktu yang mengubah Pangea menjadi lima benua. Waktu juga yang mengikis bebatuan menjadi tanah, mengalirkan sungai menjadi danau, melebur tulang menjadi remah.

Jika kita berdiri di dalam kereta, maka waktu adalah cahaya yang melesat-lesat memasuki lubang jendela. Ia terlihat jelas tanpa pernah bisa diraba, ia memberikan kesadaran tanpa pernah kita rasa.

Jika kita percaya pada konsistensi, maka waktu adalah anomali. Waktu adalah sains yang pasti karena ia terkuantifikasi, tapi waktu adalah objek seni karena ia bersifat relatif.

Jika kita berjalan melintasi ruang jagad raya, maka waktu adalah Black Hole. Lubang hitam yang tanpa pernah berkompromi menelan kita bulat-bulat. Lalu tanpa pernah kita sadari, memuntahkan kita kembali. Menjadi manusia yang tak pernah sama lagi.

Dan 4,5 tahun ternyata bukan waktu yang lama untuk sampai di hari ini.

Buat sebagian orang, masuk di UI adalah hal yang sangat biasa. Apalagi hanya masuk di Fakultas MIPA, bukan fakultas populer seperti FISIP, FE, atau FK.

Tapi sejak 10 tahun lalu kami bersekolah di Albinaa sebagai angkatan pertama, kami tak pernah bisa lagi melihat segala sesuatu sebagai hal biasa. Dimulai dengan orangtua yang mau menyekolahkan anaknya di pesantren antah berantah, fasilitas seadanya, tanpa portofolio, tanpa guru yang memiliki nama, tanpa jaminan sukses, tanpa apapun yang bisa kita temukan di sekolah lainnya. Albinaa hanya menawarkan kepercayaan, dan anehnya, orang tua kami percaya.

Maka dimulailah perjalanan pencarian jati diri. Kami bersahabat dengan keraguan, kami berkawan dengan ketidakpastian. Hanya bermodalkan percaya, kami selalu berusaha bisa menjadi garda terdepan, the avant garde yang membukakan jalan.

Bagi kami, menyelesaikan studi di UI adalah memecah kebuntuan. Membersihkan semak belukar keraguan. Mengumpulkan remah-remah kepercayaan: bahwa jika kami bisa melakukannya, maka generasi selanjutnya pasti bisa jauh melebihi kami yang hanya sampai di sana.

Maka menengok generasi selanjutnya yang sekarang ada di FT, FK, Fasilkom, FISIP, FE, dengan segala prestasi yang mereka punya, tak lain tak bukan adalah hasil kerja sang waktu. Yang selalu mampu mengubah bebatuan menjadi tanah, mengalirkan sungai menjadi danau, dan melebur tulang menjadi remah. Mengubah hal sederhana menjadi luar biasa

“Jika kalian berdiri di depan, membukakan jalan kebaikan, maka itu adalah amal jariah yang pahalanya tidak akan pernah terputus sampai kapan pun juga” – Ustadz Zainal

Untuk Anjas Biki Lesmana dan Ahmad Yazid, terima kasih telah berjalan bersama. Terima kasih telah berpikir sederhana dan bertindak luar biasa.

Terima kasih telah percaya.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.