Zayn Malik & Olga Syahputra: Mempertanyakan Kembali Arti Kebahagiaan

“Berterima kasihlah pada semua orang, karena siapapun datang di hidup kita untuk memberikan pelajaran”

Itu kalimat pertama yang diucapkan Pak Adi Basukriadi, pembimbing skripsi saya seusai sidang sarjana. Di ruangannya tempat saya berkali-kali melakukan bimbingan dan diskusi, nasihatnya di hari itu adalah wejangan yang tak pernah saya lupakan sampai kapan pun juga.

“Kamu bisa menjadi seperti sekarang ini bukan karena diri kamu sendiri, tapi karena semua orang yang pernah kamu temui, lihat, dan dengar”

Semua orang mampir dalam hidup kita untuk suatu alasan, bahkan dari mereka yang tidak pernah kita temui. Dua minggu terakhir ini, pelajaran datang dari dua orang yang tidak pernah saya temui: Zayn Malik dan Olga Syahputra, yang membuat saya mempertanyakan kembali arti kebahagiaan.

Hidup dengan normal

Saya hanya sekedar tahu dan tidak pernah memperhatikan grup musik One Direction. Sampai rabu kemarin saat perjalanan ke @america untuk acara WeSpeakCode, saya terjebak macet parah di jalan Sudirman. Mobil hampir tidak bergerak dan jalan banyak yang ditutup. Ketika saya tanyakan ke supir taksi, dia menjawab singkat, “Ada konser One Direction, mas”.

Respon pertama saya, Jakarta gila. Siapa yang nonton konser, siapa pula yang kena macet. Urusan sebagian bisa menjadi urusan semua orang, kita yang tidak peduli dengan One Direction bisa ikut kena imbasnya. Macet pun menjadi lebih parah karena sedang hujan, ada proyek jembatan, dan pembangunan MRT di sepanjang jalan.

Setelah tahu tentang kedatangan One Direction ke Jakarta, saya jadi lebih melek tentang mereka. Saya jadi membaca berbagai berita dan ceritanya di twitter maupun radio. Salah satu pembahasan yang muncul adalah mengenai keluarnya Zayn Malik, salah satu personel yang menjadi idola banyak remaja wanita.

Pertanyaan pertama yang keluar: kenapa? Saya menemukan jawabannya di salah satu artikel The Guardian.

image

Saat membaca artikel ini di kereta, saya terdiam dan merenung. It is quite strange to read that this guy want a normal life. I mean, he got a wonderful life! Berwajah tampan, terkenal di seluruh dunia, traveling ke mana-mana, punya harta yang berlimpah dan menjadi idola bagi banyak orang. Semua hal dalam hidup yang banyak orang damba-dambakan. Tapi Zayn, setelah mendapatkannya, malah ingin hidup seperti orang biasa.

“Saya ingin menjadi pemuda normal yang selalu bisa pulang ke rumah”, ujarnya.

Sama seperti kita, Zayn Malik mencari kebahagiaan. Tapi setelah semua materi yang dia dapatkan, ternyata ia menginginkan sebaliknya. Bukan harta dan popularitas yang benar-benar membahagiakannya. Meskipun mulai banyak spekulasi bahwa keluarnya dia dari One Direction karena hal lain, pernyataannya tetap membuat saya mempertanyakan kembali untuk mendefinisikan ulang kebahagiaan dari sekedar harta dan materi semata.

Menikmati Waktu

Pelajaran selanjutnya datang ketika saya mendengar berita Olga Syahputra meninggal dunia.

image

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya selalu kagum dengan kreativitas komedian – Olga salah satunya. Meskipun dalam banyak kesempatan dia melampaui batas dan menyinggung banyak orang, spontanitas dan kreativitasnya selalu punya tempat di hati saya.

Setelah satu tahun berjuang melawan penyakitnya, Olga menghembuskan napas terakhirnya di usia 34 tahun. Usia yang masih sangat muda. Apalagi di tengah kesuksesan dan kelimpahan harta yang dimilikinya.

Meninggalnya Olga membuat saya berpikir kembali tentang satu hal paling berharga: waktu. Olga membayar semua pencapaiannya dengan bekerja sangat keras, menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja dan bekerja. Saat masih aktif beraktivitas, kita bisa menemukan Olga hampir di tiap stasiun televisi, dari pagi sampai malam. Pagi ada di Dahsyat, siang taping untuk acara malam, sore ada di Pesbukers, malam ada di YKS, dan besok paginya sudah ada di acara yang sama. Belum lagi acara offline yang mungkin mengharuskannya berpindah dari satu kota ke kota lain.

Waktunya hampir seluruhnya dihabiskan untuk bekerja, yang menurut saya juga menjadi penyebab dirinya jatuh sakit. Saat jatuh sakit, kita bisa melihat bahwa Olga punya segalanya, tapi ia tak punya waktu. Waktu yang ia punya harus digunakan semuanya untuk menjalani pengobatan sehingga tak ada waktu tersisa untuk hal lain, hingga akhirnya Olga dipanggil Sang Pencipta. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan menerima amal kebaikannya.

Hal ini kembali membuat saya berpikir, bahwa bisa jadi tidak ada yang lebih berharga dari waktu. Kunci bahagia bisa jadi hanya ada pada waktu dan bagaimana kita bisa menikmati apa yang kita punya. Tanpa pernah memiliki waktu, sebanyak apapun materi yang kita punya, sebesar apapun harta yang ada, semua tidak akan berarti apa-apa.


Semua yang kita lakukan pada dasarnya adalah usaha kita untuk menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan memang abstrak, karenanya kita selalu berusaha mendefinisikannya pada hal-hal yang bisa diukur: uang yang banyak, penampilan yang memukau, pasangan yang rupawan, dan berbagai materi lainnya.

Apa yang saya pelajari dari Zayn dan Olga justru sebaliknya. Kebahagiaan yang sebenarnya tidak berasal dari sana. Ia sejatinya datang dari hal-hal sederhana, seperti bisa pulang ke rumah dan menikmati waktu bersama orang yang kita cinta. 

Terima kasih untuk pelajarannya. Terima kasih untuk mampir dalam hidup saya. Terima kasih telah membuat saya mempertanyakan kembali arti kebahagiaan.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.