Sosial Media: Unfollow

image

Beberapa teman seringkali kesal dan marah secara berlebihan karena ulah selebtwit atau “artis” facebook dan instagram yang sering ngomong sembarangan. Meskipun definisi dan konteksnya bisa diperdebatkan, tapi mungkin sebagian dari Anda paham apa yang dimaksud dengan ngomong sembarangan. Ya kurang lebih merujuk kepada postingan yang provokatif, menebarkan kebencian, dan memancing debat kusir yang tidak ada manfaatnya. Atau bisa juga postingan sampah yang memenuhi timeline sampai mata kita sakit dan jadi mencak-mencak sendiri.

Beberapa hari kemarin teman-teman di grup whatsapp sempat ngegosip kesal karena salah satu senior yang posting terus-terusan di Instagram. Beberapa hari sebelumnya banyak orang ngomel-ngomel di twitter karena salah satu selebtwit cari sensasi dengan kicauan ngaco. Ada juga orang-orang yang asal sebar link berita dengan judul bombastis, lalu komentar berasa paling tahu. Rasanya semua orang yang main sosial media pasti familiar dengan ini semua.

Saya jadi teringat sebuah catatan yang saya tulis pada 17 Juni di masa kampanye Pilpres 2014. Sebuah tulisan yang tersimpan di draft dan lupa saya publikasikan, tapi saya pikir dipublikasikan hari ini pun rasanya masih relevan.

Saya menulis ini untuk memberikan informasi kepada sobat pengguna sosial media.

Janganlah kita ini terlalu naif berwara-wiri di sosial media, apalagi di tengah isu pilpres yang selalu menimbulkan huru-hara. Begini ya sobat, di sosial media apapun, para jenius dari Amerika sana telah menciptakan satu tombol sakti untuk menjaga kehidupan kita dari gangguan dan malapetaka. Para entrepreneur muda yang hebat nan luar biasa itu telah bervisi jauh ke depan. Mereka mengetahui bahwa tombol ini akan menjadi penjaga persahabatan umat manusia. Tombol ini ibarat Odin bagi bangsa Viking dan layaknya Zeus bagi bangsa Yunani. Dia pemersatu dari perbedaan dan pelindung dari perpecahan.

Tombol ini bernama unfollow.

Jangan block atau unfriend. Cukup klik unfollow, niscaya dia takkan pernah menampakkan batang hidungnya lagi di timeline kita.

Dan kita akan berhenti berdebat kusir atau menyumpahserapahi orang-orang yang di dunia nyata bisa jadi adalah teman sepermainan kita. Dan kita tetap menjaga tali pertemanan nyata yang jauh lebih penting dari sekedar pertemanan maya. 

Just click unfollow.

Banyak pengguna yang karena ketidaktahuan tidak bisa menggunakan suatu aplikasi dengan bijaksana. Contoh sederhana, banyak dari kita yang memahami Microsoft Word seadanya, padahal hampir tiap hari kita menggunakannya. Hasilnya, kita jadi sering kesulitan melakukan hal-hal yang sederhana, misalnya menambahkan tabel, meletakkan gambar di depan teks, atau melakukan justify pada tulisan dengan dua kolom.

Inilah penyakit kebanyakan orang Indonesia. Seperti yang juga sering diceritakan Andrea Hirata dalam Maryamah Karpov, salah satu perilaku khas bangsa melayu adalah banyak omong dan sok tahu. Kita jago betul membual. Setelah memiliki ilmu sedikit saja, rasanya kita sudah menjadi raja. Tak ada yang salah akan perkataan kita, dan kita bebas membual sehebat-hebatnya.

Sosial media adalah alat. Sama seperti pisau, jika digunakan dengan benar, kita bisa menggunakannya untuk membuat masakan yang sedap dan membagikannya dengan saudara kita. Tetapi jika digunakan dengan salah, pisau juga bisa digunakan untuk mencuri, melukai orang lain, hingga membunuh.

Fungsi alat tidak ditentukan oleh manualnya, tapi ditentukan oleh penggunanya.

Bagi saya, fungsi utama sosial media adalah untuk berteman. Jadi ketika kita menggunakan sosial media dan memfollow seseorang, maka itu adalah statement bahwa kita ingin mendengar sesuatu dari dia. You follow someone because you wanna hear something from him. Kalau ternyata yang kita dengar dari dia sudah tidak sesuai, ya sudah berhenti. Tak perlu ngomel-ngomel di belakang karena hanya menghabiskan tenaga dan akan membahayakan pertemanan kita di dunia yang sebenarnya. 

Mari bersosial media denga bijak. Mari menjaga pertemanan karena hubungan di dunia nyata jauh lebih penting dari sekedar eksistensi di dunia maya. 

Just click unfollow.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.