Memilih Berkarya

Sejak lama, saya capek mendengar orang-orang yang dari mulutnya cuma keluar keluhan.

Awalnya saya menyalahkan mereka, tapi pada akhirnya saya menyadari saya tidak punya hak untuk menyalahkan, dan satu-satunya yang bisa disalahkan adalah diri saya sendiri.

Salah saya karena masih terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mereka yang kerjanya cuma mengeluh dan pesimis. Salah saya karena masih membiarkan makian dan ekspresi negatif memenuhi linimasa saya di sosial media. Karena ternyata setelah memperluas jaringan dan bertemu orang-orang baru, setelah memperbarui daftar following di linimasa, ada lebih banyak orang-orang yang tak pernah berhenti membuat perubahan. Ada lebih banyak orang yang terus bertindak nyata dan memilih untuk optimis.

Ah sok-sokan aja lo ngomong tindakan nyata, emangnya lo udah buat apa?

Bacot aja lo ngomongin soal perubahan, ga usah sok pahlawan dah, sekolah/kerja aja yang bener

Dan masih banyak komentar sinis lainnya.

Komentar seperti ini, tidak sedikit saya dengar. Apalagi ketika bersuara lewat sosial media dan ada yang tidak suka.

Jawaban saya? Saya bangga telah melakukan sesuatu.

Meskipun kecil, saya selalu bangga untuk mengatakan bahwa saya memilih berkarya dibanding hanya berkeluh kesah. Saya bangga menuangkan keresahan saya dalam bentuk tulisan, bukan cuma keluhan dan makian. Saya bangga memilih untuk bertindak nyata dibanding diam dan tidak melakukan apa-apa.

Bagi saya, tindakan nyata bisa berbentuk apa pun. Tindakan nyata tidak harus berbentuk project berskala nasional atau berformat gerakan bernama besar yang diikuti ribuan orang. Tindakan sesederhana menolak-plastik-kresek-saat-hanya-belanja-sebotol-minuman-di-Alfamart, menunggu-lampu-merah-meskipun-jalanan-sepi, atau menggunakan-jembatan-penyebrangan-dan-tidak-nyebrang-di-sembarang-jalan-karena-males-naik-tangga adalah tindakan-tindakan kecil yang memberi perubahan nyata.

The key is: do something. Kita harus berbuat sesuatu. Besar kecilnya tak pernah menjadi masalah. Tindakan nyata bukan soal skalanya, tapi perbuatannya.  Jika dikuantifikasi, ini bukan perbedaan antara nilai 1 dan 10, tapi sesimpel perbedaan 0 dan 1. Kita memilih diam, atau mau berbuat sesuatu yang nyata.

It’s not about the number of impact, it’s a simple yes or no.

Kita tidak harus menjadi Al Gore untuk bicara soal perubahan iklim. Kita tidak harus menghabiskan 365 hari dalam setahun di alam liar menjaga hutan dari tangan-tangan setan untuk menyelamatkan lingkungan. Kita tidak harus menjadi Dewi Lestari atau Haruki Murakami untuk mulai berkarya. Kita tidak harus menjadi Kapolri untuk bisa berkontribusi membuat penegakan hukum lebih baik di negara kita.

Kita tidak harus menunggu sampai kita bisa melakukan hal yang besar untuk mau bekerja dan turun tangan.

We don’t have to do big thing, but everyone of us have to do something.

Mari menolak pesimis dan memilih optimis. Mari menolak diam dan memilih berkarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close