Menguasai Diri Sendiri

Sambil berjalan cepat, saya mengambil headset di saku dan menyambungkannya ke handphone. Seperti hampir setiap hari, saya menekan tombol play.

Playlist lagu saya berisi 50an lagu, tapi saya selalu menyetel shuffle agar lagu yang keluar selalu acak. “Biar hidup ini penuh kejutan”, begitu alasan saya jika ada yang bertanya. Padahal mungkin tak ada yang bertanya.

Lagu yang keluar adalah soundtrack Interstellar: Mountains. Another masterpiece from one of my favorite musician, Hans Zimmer. 

Saya selalu suka lagu ini. Diawali suara jarum yang berdetik pelan, perlahan nada menanjak, lalu masuk denting piano yang menawan, membawa jiwa serasa terbang. Melayang.

Saya memejamkan mata, tenggelam dalam suara-suara magis, lalu terhanyut dalam eksplorasi ke sudut-sudut gelap di alam bawah sadar. Bukan gelap karena dengki dan amarah, tapi gelap karena ia tak pernah dibawakan cahaya oleh para penjelajah.

Betapa mengagumkannya pikiran manusia yang hanya seukuran batok kelapa, tapi bisa terbang menembus batas-batas semesta. Kita sudah pernah melihat ledakan bintang di galaksi lain yang miliaran kilometer jauhnya. Kita sudah pernah menggambar luapan api dan tanah di pusat bumi yang berlipat-lipat gunung dalamnya. Kita sudah pernah terpesona pijar-pijar luminecense makhluk bawah laut di dasar samudera yang sedemikian gelapnya.

Padahal kita tak pernah benar-benar ada di sana. We do not look at it; we see it. 

Saya sering berpikir bahwa pendidikan ada bukan untuk mengembangkan pikiran, tapi mengendalikannya. Pikiran kita adalah kuda liar pemberontak, bintang yang meledak-ledak, dan uranium yang bergejolak.

Sepanjang hidup, kita belajar mengendalikannya. Siapa yang bisa menguasai pikirannya sendiri, maka ia bisa menguasai dunia. Mereka yang mengubah dunia, adalah mereka yang telah selesai menguasai dirinya sendiri.

Itulah mengapa para punggawa perubahan besar selalu punya masa pengasingan dalam hidupnya. Masa seperti saat Rasulullah menyendiri di gua Hira;  menjauh dari distraksi, berdiam diri, memahami diri sendiri. Sudahkah kita melakukannya?

Saya merasakan tempo mulai menurun, pertanda lagu yang saya dengarkan akan selesai. Saya sampai di depan pintu kelas yang berkaca, menatap bayangan diri saya sendiri di sana. Saya menatapnya tajam, dan berkata pelan, “saya siap menaklukkannya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close