Indonesia Maju, Karya Demi Karya

Ketika ingin cerita tentang orang yang kita kagumi dan idolakan, kadang banyak orang ragu karena takut dibilang norak, kampungan, atau lebai. Saya pun begitu: bukan berasumsi, tapi karena memang beberapa kali saya cerita tentang hal itu dan dibilang lebai. Padahal pengen aja rasanya memberitahu semua orang, termasuk idola kita sendiri, tentang orang yang menginspirasi kita dengan karyanya.

Dalam hal berkarya, Pandji adalah pahlawan saya.

Sebelum Anda bilang lebai, izinkan saya bercerita tentang pertemuan saya, dan mengapa ia jadi pahlawan saya dalam berkarya.

13 Agustus 2014 adalah kali pertama saya bertemu Pandji, dan di situ saya berhasil membuktikan semua hal yang sebelumnya hanya saya baca tentang Pandji.

Waktu itu Pandji buat workshop di Comma, membahas buku terbarunya Indiepreneur yang akan launching 4 hari kemudian. Ada 3 hal yang sebelumnya hanya saya baca di twitter atau blognya, yang akhirnya saya rasakan dan temukan sendiri tentang Pandji. Pertama, adalah masalah waktu. Kalimat “Bukan ga mau nunggu yang telat, tapi menghargai yang tepat waktu” benar-benar diucapkan oleh dia. Saya sering banget di twitter liat Pandji ngeretweet orang yang bilang kalimat itu kalo dia lagi ada event, dan ternyata benar adanya. Doi datang sebelum dimulai, dan memulai acara tepat waktu dengan kalimat itu.

Kedua, bahwa Pandji menyalami semua orang satu per satu di acaranya. Sebelumnya saya pernah baca ceritanya tentang Twivate Concert, dan betapa dia menghargai semua penikmat karyanya, dan semua orang disalami satu per satu. Dan benar, hari itu saya sengaja datang duluan jam 19.00 dan langsung duduk menggelar laptop untuk kerjaan (acara jam 20.00), dan saat Pandji datang sekitar 19.40, dia mendatangi dan menyalami saya. Bukan hanya saya, tapi semua orang yang ada di ruangan. Pandji keliling dan menyalami semuanya.

Ketiga, adalah bahwa Pandji sangat menghargai semua penikmat karyanya, baginya kita justru adalah pahlawannya. Waktu itu dia melihat orang orang yang hadir dan bilang, “Lo kalo tahu apa yang gue rasakan sama penikmat karya gue, termasuk mungkin lo yang hadir di sini, lo mungkin nangis, men. Gue tuh sering banget nangis terharu sama penikmat karya gue (apalagi musik), mereka yang bikin gue bisa hidup dan membuat gue pengen berkarya terus”.

Di satu sesi workshop Indiepreneur, Pandji pernah bilang bahwa siapapun kita, tujuan kita di dunia ini adalah mengubah orang asing menjadi tahu, tahu menjadi kenal, kenal menjadi teman, teman menjadi teman main, dan teman main menjadi sahabat. Bagi dia, penikmat karyanya adalah teman main dan sahabatnya, dan dia benar-benar menghargai setulus itu.

Di hari itu, saya bawa buku Berani Mengubah untuk minta tandatangan setelah sesi workshop selesai. Kalo yang kenal saya pasti tahu, saya orangnya pede banget, tapi kalo ketemu orang yang saya kagumi malah kicep dan diem. Akhirnya saya nunggu sampe semua orang selesai ngobrol dengan dia, dan pas saya datengin, doi malah udah mau cabut. “Waduh gue harus cabut lagi ke Hardrock sob”. Saya pasrah, tapi ternyata doi senyum dan bilang “Tapi santai. Kita ngobrol sambil jalan aja”.

Dan kita ngobrol bentar di lift, saya bilang bahwa saya adalah blogger yang pengen bikin buku sendiri. Pandji ngangguk dan sambil merangkul pundak saya (waktu itu masih kuliah dan keliatan banget masih bocah, jadi mungkin doi menempatkan dirinya sebagai sosok dewasa  *tsah), lalu berkata mantap, “Gue aja bisa. Lo juga pasti bisa men”.

Lalu buku saya ditandatangani, dan kita berfoto di luar.

Saya senang luar biasa. Sampai rumah pengen ngepost di twitter, ternyata kualitas fotonya bapuk karena foto outdoor saat malam, dan hape saya Oppo, hehe.

Pembuktian hal hal kecil tadi dalam pertemuan saya dengan Pandji menjadi istimewa, karena saya semakin rajin mengulik tulisannya. Sebelum pertemuan itu, saya pertama kali nyasar ke link buku-e NASIONAL.IS.ME dari twitter. Awal-awal baca bukunya, saya sempet pusing karena tulisannya sangat ga rapi. Pandji kayak seenak jidat nulisnya, tiap kalimat di enter, jadi banyak banget satu paragraf yang isinya cuma satu kalimat. Tapi lama lama justru jadi asik, karena berasa ngobrol langsung dengan orangnya. Serasa lagi ngopi, dan doi cerita semua pengalaman dan opininya tentang Indonesia.

Dari sana, saya mengunduh dan mencari bukunya yang lain, mulai dari Menghargai Gratisan, How I Sold 1000 CDs in 30 Days, buku-e Indiepreneur full version, sampai Merdeka Dalam Bercanda. Dari sana, saya juga jadi terpengaruh untuk baca beberapa buku yang jadi rujukannya dalam menulis, seperti Purple Cow dan Tribes nya Seth Godin (beli dan minjem), Predictably Irrasional nya Dan Ariely (minjem temen), dan Free nya Chris Anderson (numpang baca ringkasannya di summaries.com). Saya jadi lebih mengerti bagaimana industri bekerja dan jadi lebih banyak berpikir soal bajakan dan gratisan. Saya juga jadi lebih memahami bagaimana internet datang membawa perubahan, dan bagaimana caranya kita bisa memanfaatkannya untuk  memasarkan karya. Saya jadi terhipnotis konsep berkarya untuk hidup, dan bahwa kita bisa hidup dari karya, asal tahu cara benarnya.

Satu bulan kemarin, Pandji menggelar seri workshop Indiepreneur, dan saya bisa bertemu kembali di dua sesi; sesi personal branding dan online shop. Di sesi online shop, saya juga membawa adik saya dengan harapan semoga doi juga ketularan semangat berkarya.

image

“Indonesia akan maju karya demi karya”, kata Pandji. 

Saat ini saya sedang menyusun buku pertama yang saya persiapkan untuk rilis Agustus ini. Semoga saya bisa menyumbangkan buku ini sebagai bagian dari “karya demi karya”. Buat Pandji, sebagaimana Udjo untuk lo, gue pengen lo tau bahwa lo adalah pahlawan yang mengajarkan gue untuk menghargai karya. Dan lo adalah penulis yang menginspirasi gue untuk berkarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close