Sosial Media: Rektor, Twitter, dan Presiden Dalam Bayangan

image

Ada alasan sederhana mengapa saat pemilihan Rektor UI 2014 saya mendukung Pak Rhenald Kasali.

Dari sekian calon Rektor, beliau satu satunya calon yang aktif bermain twitter.

Buat sebagian orang, mungkin ini alasan yang terlalu sederhana. Tapi selama empat setengah tahun saya kuliah di UI, jujur salah satu keresahan terbesar saya adalah: saya tidak pernah bertemu lalu berinteraksi langsung dengan rektor. Rektor kok susah banget ditemuinnya, ibarat pejabat tinggi negara, padahal kantornya tiap hari saya lewatin juga. Saya menjalani masa kuliah di bawah dua rektor berbeda. Dan satu-satunya kesempatan saya bertemu dan berinteraksi langsung dengan rektor adalah saat wisuda. Itu pun hanya berjabat tangan.

Awalnya saya berusaha biasa saja. “Ah mungkin beliau memang orang super sibuk yang tidak ada waktu untuk mahasiswa biasa seperti saya”. Namun saya jadi teringat cerita seorang teman, @siskarestu dari UIN saat kami berangkat ke Sri Lanka untuk World Summit Youth Award.

Saya, @kuntawiaji, dan @peterdraw sebagai rombongan pertama yangg berangkat untuk menerima penghargaan Lendabook bisa pergi karena sponsor BRI Bangga Ber-Indonesia. Sedangkan dia masih harus mencari sponsor lain, bagaimana cara dia mendapatkan dana?

“Dari rektor. Saya ketok pintu, Assalamualaikum. Lalu saya ceritakan tentang World Summit Youth Award, dan beliau menyuruh saya memberi proposal ke bagian keuangan. Dan kami berangkat”

Semudah itu. Sesimpel itu.

Sebenarnya bagian yang paling mengherankan bagi saya adalah tok tok ketok pintu, dan begitu saja dia bisa ketemu rektornya.

Di UI, saya ga pernah punya kesempatan seperti itu.

Entah apa yang salah, tapi bahkan pernah satu kali saya datang ke masjid untuk sholat Ashar. Saat itu sholat jamaah sudah selesai, dan saya menunggu orang lain untuk berjamaah. Saat itu saya melihat ada dua orang plus Pak Rektor sedang berwudhu dan berjalan ke arah saya di tengah masjid. Pikir saya waktu itu, “wah akhirnya punya kesempatan bersalaman dan mungkin ngobrol dengan pak rektor, sholat berjamaah lagi”.

Hanya ada saya di tengah masjid, dan saya bersiap menunggu beliau. Asumsinya beliau tentu mau sholat berjamaah. Dua orang tadi datang ke arah saya untuk ikut berjamaah, ternyata Pak Rektor malah berhenti di bagian belakang. Dan langsung sholat. Sendirian. Di belakangnya ada sang ajudan, berdiri tegak entah ngejagain apa. 

Kembali soal Twitter: Pak Rhenald adalah salah satu tokoh besar yang mau berdialog dengan siapapun di Twitter. Beliau pun menggunakan Twitter untuk menyampaikan gagasan, mengupdate isu terkini, dan terhitung rutin berbagi aktivitas yang sedang dikerjakan. Bagi saya, itu pertanda bahwa Pak Rhenald mau dan siap berkomunikasi dengan cara baru.

Poin saya adalah: saya ingin punya pemimpin yang terbuka. Yang transparan, tidak bersembunyi, dan tidak punya rahasia. Yang mau menceritakan pekerjaannya dan berkomunikasi dengan orang yang dipimpinnya. Aktif di twitter bukan syarat wajib yang harus dimiliki pemimpin, tapi setidaknya menunjukkan keterbukaan. Dan yang terpenting: menunjukkan itikad baik seorang pemimpin dalam berkomunikasi dengan rakyatnya. 

Bisa dipahami jika seorang pemimpin tidak selalu punya waktu untuk bertemu langsung dengan semua orang. Itulah mengapa internet menjadi sangat penting. Twitter dan sosial media lainnya bisa menjembatani komunikasi pemimpin dengan siapa saja. Sosial media membuat yang jauh menjadi dekat, dan yang sulit bertemu jadi tetap bisa bercengkerama. 

Lihat bagaimana Ridwan Kamil memanfaatkan semua sosial media untuk berkomunikasi dengan warganya. Twitter digunakan untuk berdialog dan menerima laporan; Facebook untuk menyampaikan progress pekerjaan; dan Instagram untuk bercerita apapun melalui gambar. Jika ada pejabat yang tidak bermain sosial media karena beralasan sibuk, coba lihat Kang Emil. Kurang sibuk apa coba. Malah justru beliau menjadikan bermain sosial media sebagai salah satu kesibukan utamanya, sesuai dengan poin tadi: rakyat butuh transparansi. Rakyat butuh tahu apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakan pemimpinnya. Dengan begitu akan tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk berkontribusi.

Di level negara, coba telisik kembali kenapa banyak yang diprotes dari Jokowi. Menurut saya – Anda boleh tidak setuju – Jokowi banyak diprotes karena banyak yang disembunyikan. Rakyat tidak banyak tahu apa yang sedang dilakukan dan atas dasar apa. Saya tahu tidak semudah itu membeberkan informasi negara, tapi tetap saja banyak kebijakan Jokowi yang terlihat didasarkan pada banyak kepentingan. Dan rakyat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena seringkali tidak ada pernyataan yang jelas dari Pak Presiden. Tidak ada komunikasi. Akibatnya banyak rakyat yang berprasangka dan menuduh sana sini.

Sosial media bisa menjadi permulaan. Atau masih banyak cara lainnya, apapun itu. Menjaga keharmonisan pemimpin dan rakyat sama seperti menjaga hubungan dengan pasangan: komunikasi adalah kuncinya.

Saya yakin kita ingin punya pemimpin yang mau mendengar dan menyapa. Kita menginginkan pemimpin yang kita tahu pasti bekerja nyata, bukan pemimpin yang  banyak pencitraan tapi bersembunyi di balik bayangan.

Salam gaul dari anak Tumblr

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close