Kita bisa jadi membenci mereka yang meminta minta, tapi sudahkah kita jadi orang yang pandai memberi?

Tiga tahun terakhir, saya selalu menyempatkan diri menjadi panitia zakat di masjid dekat rumah. Dan sejak tiga tahun pula, kami mengubah sistem distribusi. Kami panitia yang mendatangi rumah mustahiq, bukan mustahiq yang datang ke masjid. Karena memang begitulah semestinya.

Tidak pernah ada ajaran untuk menyuruh orang miskin atau anak yatim datang ke masjid untuk meminta jatah. Kita yang turun membantu, bukan mereka yang naik untuk meminta. Kita yang mendatangi, bukan mereka yang minta dikasihi. Sayangnya, kebiasaan meminta bisa jadi sudah mengakar sedemikian dalamnya, membudaya sedemikian dahsyatnya.

Dan bisa jadi, kebiasaan buruk ini justru dipupuk oleh panitia masjid yang ogah repot. Yang tidak mau capek dan saenake dewek.

Percaya sama saya, jika tidak lewat distribusi langsung, momen ketika kita harus membagikan zakat fitrah ketika Iedul Fitri atau daging kurban ketika Iedul Adha adalah momen yang menyakitkan hati. Miris dan bikin emosi.

Puluhan bahkan ratusan orang berpakaian lusuh dengan muka memelas datang ke masjid.

Mereka berdesak-desakkan saling berebutan, kampungan, dan tidak mau diatur.

Untuk berbaris tidak cukup diberitahu, harus dikomando dengan teriakan, dan tak jarang pula dengan bentakan.

Bukan rahasia pula kalo banyak yang tidak masuk kategori miskin, tapi tanpa malu pura-pura miskin. Datang dengan motor bagus, diparkir jauh-jauh dari masjid, lalu jalan kaki dengan wajah kusam dan badan yang lemas. 

Sekembalinya dengan sekantung beras dan sepucuk amplop, mereka tanpa malu bisa berlari sambil tertawa.

Yang ibu tidak cukup datang sendiri, semua anak yang dia punya dibawa, dari yang besar sampai yang kecil. Anak tetangga, sepupu, atau siapapun yang bisa diajak pasti dibawa serta. Belum lagi bayi yang ikut digendong, jika dikasih satu maka dia akan protes dan menunjuk bayinya, “yang ini dikasih juga dong mas”.

Dan banyak pula yang tanpa malu-malu menjadikan pembagian zakat sebagai ajang perburuan. Selepas dari satu masjid, mereka akan berkerumun lalu berbagi info intel, “eh di masjid sebelah baru dimulai tuh, di masjid sana baru nanti sore”. Lalu mereka bergerombol dan mengulang ritual yang sama. 

Saking terbiasanya meminta, tak jarang pula yang datang langsung ke meja panitia dan melempar sepucuk amplop. “Nih pak KTP saya, sama surat dari RT”. Seakan sudah siap untuk semua persyaratan yang biasa diminta untuk menunjukkan bukti miskin. Andai daftar pengalaman mereka ditaruh sebagai portofolio, orang orang ini mungkin sudah masuk kategori professional. Experienced Beggar.

Saya tak bermaksud menjelek-jelekkan peminta-minta, tapi di lapangan, inilah faktanya. Banyak orang tak mampu yang senang memanfaatkan status miskinnya, dan banyak orang mampu yang dengan senang hati menghinakan dirinya.

Satu lagi; banyak pemuda yang tidak tahu apa apa.

Ini adalah fenomena masyarakat di akar rumput. Tapi sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, pemuda yang masih mau mengurus distribusi zakat. Padahal menurut saya, inilah pengabdian masyarakat yang paling hakiki, terlibat langsung dalam membantu warga terdekat di sekitar kita.

Mungkin mengurus zakat tidak sementereng bergabung di Indonesia Mengajar. Mungkin membagikan beras tidak seindah kuliah kerja nyata di daerah perbatasan. Mungkin mengetuk pintu fakir miskin tidak semenarik membuat gerakan dengan hashtag di sosial media.

Tak banyak pemuda yang mau mengotori tangan (dan gengsinya).

Mungkin itulah mengapa, di banyak tempat, distribusi zakat masih menggunakan sistem lama dimana mustahiq datang ke masjid. Sistem ini menimbulkan fenomena-fenomena seperti yang sudah saya ceritakan tadi, yang pada akhirnya berkontribusi dalam memupuk budaya mengemis di negeri ini.

Pemuda harusnya ikut turun tangan. Ambil bagian untuk mendistribusikan zakat dengan cara yang benar. Mengubah budaya meminta-minta yang telah mengakar, dan menghilangkan mental pengemis secara perlahan-lahan.

Kita ada di era shared economy; masa dimana mereka yang berbagi akan bertumbuh lebih besar dari mereka yang mau menang sendiri. Masa dimana mereka yang berbagi akan lebih bahagia dari mereka yang memonopoli.

Saya percaya bahwa suburnya mental pengemis harus diimbangi dengan mental berbagi yang benar. Bukan berbagi karena ada yang meminta, tapi berbagi karena kita sadar ada hak orang lain di sebagian harta kita. Bahwa berbagi bukan membuat kita melarat, ia justru membuat kita bertumbuh pesat. 

Saya percaya bahwa konsep zakat sebenarnya adalah konsep sempurna untuk menciptakan keseimbangan dunia. Zakat fitrah ada untuk memastikan tidak ada orang yang terpaksa melanjutkan berpuasa di hari raya. Dan zakat mal ada untuk memastikan bahwa yang mampu menyisihkan sedikit saja, hanya 2,5% setiap tahunnya, untuk mereka yang tidak. Do a simple math, dan Anda akan temukan bahwa setiap orang di dunia akan mampu hidup berkecukupan karenanya.

Ada masa ketika khilafah Islam membuat satu benua hidup sejahtera. Hingga khalifah Umar bin Abdul Aziz kesulitan menemukan tujuan zakat karena semua orang berkecukupan.

Kita sedang menuju ke sana, meski jalannya masih panjang. Butuh kesadaran, butuh kepedulian, dan butuh keyakinan.

Untuk menciptakan dunia tanpa manusia yang hanya mau memikirkan diri sendiri. Untuk menciptakan masa dimana semua orang mau berbagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close