Masa Depan Pendidikan

Tulisan ini berawal dari sebuah pertanyaan dari perempuanbahagia​ yang masuk ke inbox saya, menanyakan tentang bimbel kreatif.

Sebenarnya saya kurang pede menjawab pertanyaan ini karena tidak punya expertise atau – meminjam istilah Andrea Hirata di Sang Pemimpi – tidak punya wewenang ilmiah untuk berbicara tentang dunia pendidikan. Tapi saya juga punya beberapa keresahan di dunia pendidikan. Dan saya punya beberapa insight dan opini yang ingin saya bagi. Mungkin tidak secara langsung menjawab pertanyaan, tapi semoga setidaknya bisa memberikan secuplik opini tentang gambaran pendidikan versi saya sendiri.

Berbicara soal bimbel profesional, maka ada dua bagian penting yang bisa diimprove kreativitasnya; (1) sistem pengajaran, dan (2) bimbel tersebut sebagai sebuah entitas bisnis. 

Pertama, dari sistem pengajaran. Tren menunjukkan bahwa pembelajaran kreatif bergerak ke arah penggunaan multimedia dan teknologi internet. Pengajar terus berinovasi menggunakan berbagai alat untuk membuat proses belajar mengajar menjadi lebih asik dan efektif. Dan ketika berbicara tentang pendidikan dan teknologi internet, masih banyak orang yang menganggap keduanya sebagai hal yang berlainan; anak-anak harus dijauhkan dari teknologi internet karena akan membuat mereka kecanduan. Padahal ini hanya masalah sudut pandang.

Apalagi dengan semakin melekatnya generasi sekarang dengan dunia smartphone dan internet (yang tidak bisa dihindarkan), menurut saya pengajar harus bisa mengejar tren terkini untuk memanfaatkannya sebagai alat belajar. Sebagai contoh, tahun 2003, Salman Khan, seorang analis profesional berinisiatif mengajari keponakannya matematika melalui telpon dan Yahoo Doodle Notepad untuk ilustrasi. Sistem belajar mengajar dilakukan secara live, keponakannya di New Orlean sementara Khan di Boston (kalo di sini  mungkin semacam Aceh-Yogyakarta). Sistem pengajaran ini ternyata menarik dan sangat membantu, tak hanya keponakannya tetapi juga teman-teman dan saudaranya yang lain. Akhirnya di tahun 2006, Khan mulai membuat rekaman pengajaran dan menguploadnya ke Youtube.

Pembelajaran melalui video di Channel Youtube bernama Khan Academy ini ternyata menjadi solusi kreatif karena dua hal; (1). Menarik karena dibawakan dengan gaya tutor sebaya dengan banyak selipan joke, dan (2) melalui Youtube murid tidak harus bertemu langsung dengan gurunya. Artinya, dia tidak perlu canggung bertanya dan tak perlu malu jika belum mengerti karena hanya perlu mereplay lagi dan lagi.

Sekarang Khan Academy memiliki hampir 5.000 video dengan berbagai subject dan platformnya khanacademy.org menjadi tempat dimana siapapun bisa belajar apapun. Anyone can learn anything.

Jadi pertanyaannya, bagaimana caranya kita memanfaatkan teknologi untuk membuat proses belajar mengajar semakin asik? Bagaimana caranya menciptakan pembelajaran yang seru dengan mobile apps? Atau bagaimana menciptakan modul efektif yang dapat diukur keberhasilannya secara realtime? Mungkinkah pendidikan yang asik menggunakan video dan podcast? Pertanyaan menarik yang seru untuk terus digali.

Kedua, ada tren menarik yang memperlihatkan bahwa entitas bisnis kreatif yang berkembang pesat bukanlah perusahaan yang mendominasi pasar dari hulu ke hilir, melainkan perusahaan yang berada di tengah; yang menghubungkan orang dengan orang lain. Lihatlah bagaimana Facebook menjadi perusahaan yang menghubungkan 1,23 Miliar orang untuk saling terkoneksi. Setiap harinya ada jutaan konten yang tidak satupun diproduksi oleh Facebook. Airbnb, perusahaan yang menghubungkan antara traveler dan pemilik properti, memiliki valuasi 24 Miliar USD tanpa punya satu pun properti. Alibaba dan Bukalapak, menghubungkan antara penjual dan pembeli, tanpa harus benar-benar punya barang apapun. Uber dan Gojek menghubungkan antara pemilik kendaraan dengan penumpang, dan ya, mereka hanya menghubungkan. Mobil dan motor tetap milik sopir Uber dan Gojek, mereka hanya membantu mempertemukan.

image

Di dunia pendidikan, ada satu startup menarik yang sedang berkembang: Ruangguru.com.

Ruangguru mempertemukan antara guru dan murid, di bidang apapun. Tak hanya pelajaran formal seperti matematika dan biologi, tetapi juga skill seperti menjahit, main piano, freestyle bola, anything. Pengajar bisa mencari murid, dan murid bisa mencari pengajar yang berkualitas. Tak hanya itu, mereka juga terus menciptakan inovasi, seperti yang akan segera launching, materi tes online dimana murid bisa mengukur kemajuan pembelajarannya di tes.ruangguru.com.  Dan fee belajar mengajar- ini yang juga menjadi hal penting – bisa ditentukan sendiri oleh pengajar.

Jika saya lihat, database dan ekspansi market Ruangguru terus berkembang. Pengajar maupun pemilik bimbel tidak perlu membuat platform tandingan, hanya perlu kreatif memanfaatkan jaringan dan fitur yang sudah dimiliki oleh platform ini.

Banyak pertanyaan yang perlu dichallange di dunia pendidikan: apakah belajar di luar kelas lebih efektif? Apakah mengurangi pekerjaan rumah, seperti yang dilakukan Finlandia, akan membuat kita belajar lebih banyak, atau sebaliknya? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang menjadi tantangan kita semua. Karena meskipun terdengar cheesy, masa depan bangsa memang ditentukan oleh pendidikan kita.

Semoga bisa memberi insight untuk mengembangkan dunia pendidikan lebih baik lagi.

Salam kreatif!


Sumber Bacaan dan Video untuk belajar lebih banyak tentang pendidikan

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.