Muhammad

Banyak yang tidak tahu: nama depan saya adalah Muhammad.

Mungkin karena di sosial media saya hanya mencantumkan nama tengah saya: Iqbal Hariadi. Saya memutuskan demikian karena di suatu hari di kelas satu SMP, saya tahu bahwa di dunia internasional nama orang umumnya hanya terdiri dari dua kata, first name dan last name. Apalagi saya masih punya nama belakang, sehingga total nama saya terdiri dari empat kata.

Dari tiga anak laki-laki, hanya saya yang diberi nama depan Muhammad. Kakak dan adik saya, Subhan Hariadi dan Faturrahman Hariadi tidak punya nama Muhammad. Satu doa yang sangat agung agar saya bisa seperti manusia paling agung sepanjang masa.

Kalau saya sedang duduk atau tiduran menatap langit, saya sering terpikir nama saya sendiri. Nama adalah doa, dan bapak saya berdoa agar saya bisa seperti nabi. Memikirkan fakta itu sering membuat saya bergidik sendiri. Saya takjub sekaligus takut. Saya takjub karena manusia pada umumnya tidak punya kesempatan memilih namanya, dan beruntunglah mereka yang diberikan nama terbaik oleh orang tuanya. Tapi saya takut karena beban berat ada di pundak, saya punya kewajiban untuk membantu mewujudkan doa bapak menjadi nyata.

Muhammad adalah manusia yang paling jujur, pahlawan yang paling pemberani, dan pemimpin yang paling bijaksana. Ia diplomat yang ulung, juru pendamai yang luhur, dan panglima perang yang adiluhung. Dia pria paling dermawan, lelaki paling sabar, dan kepala keluarga paling penyayang. Dia pernah memperjuangkan kebenaran walau dilempari batu. Dia tak pernah berhenti bersabar meski kebaikan yang ia bawa ditertawakan.

Dan mulutnya selalu berdoa meski satu kota menganggapnya orang gila.

Saya sering berkaca dan mematut diri, bagian mana dari diri saya yang sudah mendekati Muhammad yang sebenarnya.

Tapi doa adalah doa.

Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi saya percaya semua orang tua tak pernah putus mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Kemarin sahabat saya @harisokirio pergi haji, mendatangi Ka’bah tempat suci dimana Muhammad memulai risalah suci. Saya titip doa, semoga Allah pilih kita semua, apapun nama yang kita punya, menjadi seperti Muhammad. Manusia terbaik pejuang kebenaran, pemegang panji kesabaran.

Dan semoga Allah tumbuhkan kerinduan saya untuk mendatangi Ka’bah. Karena ia belum tumbuh di sini, di dalam hati.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.