Luxury

image

Di Jogja, ada warnet terkenal bernama Luxury.

Waktu pekan kemarin main ke Jogja, saya tidak sempat main ke sana. Tapi teman saya @hahnismail cerita bahwa warnet ini super terkenal karena orang rela antri berjam-jam untuk bisa internetan di sana.

Saya mengernyitkan dahi. Antri berjam-jam?

“Iya, mayoritas orang ke sana bukan buat internetan. Tapi untuk copy film atau lagu”

Teman saya cerita bahwa koleksi di server Luxury lengkap. Super lengkap. It’s like they have all the movies in the world. Ribuan film Indonesia maupun Box Office, short movie ataupun series, semuanya ada.  Foldernya ditata rapi dari A-Z. Bahkan saking banyaknya judul film yang berawalan “The”, filenya dibuat dalam folder sendiri dan di dalamnya diurutkan lagi folder kata setelahnya, dari A-Z.

Begitu juga dengan lagu. Kita bisa temukan berbagai jenis lagu, foldernya disusun rapi dan bisa dicari berdasarkan penyanyi, judul album, atau judul lagunya.

Saya mangap sebentar, takjub. Takjub karena ingin ke sana dan mengkopi koleksi film sebanyak-banyaknya. Dan beberapa detik kemudian takjub karena saya, kamu, dan semua orang yang main ke Luxury sengaja melupakan satu fakta sederhana.

Semua koleksi film dan lagu di sana bajakan.

Oke, sekarang pikirkan fakta ini sebentar, lalu kembali ke cerita di awal bahwa warnet ini punya ribuan koleksi film dan lagu bajakan. Lalu ratusan orang setiap bulannya mengonsumsi produk bajakan dari warnet ini, dan membajaknya lagi, dari satu komputer ke komputer lain.

Pikirkan ada berapa banyak pekerja kreatif di balik film-film tadi yang tidak mendapatkan apapun dari ribuan orang yang mengonsumsi tontonan dari warnet ini. Ada berapa banyak penyanyi, produser, dan penulis lagu yang seharusnya mendapatkan penghargaan tapi malah mendapat pembajakan.

Pikirkan bahwa pembajakan adalah kriminalitas yang seharusnya ditindak oleh negara dengan pidana. Tapi tidak ada tindakan dari penegak hukum. Bahkan lebih parah lagi, tidak ada satupun orang yang merasa bahwa apa yang kita lakukan dengan mengkopi film dan lagu bajakan adalah kesalahan.

Saya tidak hanya bicara soal Luxury, karena di luar sana warnet seperti ini ada banyak. Bukan hanya di Jogja, di Jakarta atau di kota manapun di Indonesia, bahkan dunia.

Kita semua mengonsumsi produk bajakan tanpa pernah merasa bersalah.

Kita semua adalah pembajak.


Saya tidak naif untuk memberi judgement pembajak ke orang lain tanpa menunjuk diri sendiri. Saya pun menyadari bahwa saya adalah konsumen produk bajakan dan sering melakukan pembajakan.

Itulah kenapa di Subjective Episode 1, saya akan bicara soal bajakan.

Saya akan mencoba “menelanjangi diri sendiri” dan melihat seberapa banyak produk bajakan yang kita konsumsi setiap hari. Mencoba mulai menyadari frekuensi penggunaan produk bajakan mulai dari pakaian, film, musik, hingga software yang kita gunakan untuk belajar dan bekerja.

Subjective Episode 1 akan saya publish 13 September 2015 di channel soundcloud.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further reading:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close