Everything Has A Price

Saya percaya di dunia ini tidak ada yang gratis. Seperti bit salah satu komika favorit saya, Sammy Notaslimboy:

Everything has a price.

Satu bulan yang lalu, saya datang di acara diskusi dan pameran 125.660 spesimen sejarah alam di Komunitas Salihara. Kurator pameran ini, Anne-Sophie Springer dan Etienne Turpin menyajikan jejak perjalanan Alfred Russel Wallace di Indonesia. Sebuah perjalanan menarik yang mempertemukan sains, seni, dan budaya dalam satu kajian.

image

Dalam diskusi itu kami saling merespon apa yang kami lihat dalam pameran. Opini datang dari berbagai sudut pandang dengan latar belakang yang berbeda-beda: seniman, saintis, budayawan, dan akademisi. Saya ikut mengemukakan ketertarikan saya pada hubungan Wallace dan Darwin sebagai sesama saintis yang dianggap berkontribusi dalam biologi evolusi dan biogeografi. Namun sudut pandang yang paling menarik bagi saya datang dari Bu Melani, guru besar FIB UI.

Ketika melihat koleksi spesimen mulai dari burung, kupu-kupu, hingga mamalia besar seperti harimau, semua orang melihat seni dan keindahan. Beberapa penikmat alam seperti saya melihat petualangan, menghirup aroma hutan, dan mendengar nyanyian alam. Namun dari ribuan spesimen di sana, ada satu kesamaan yang dilewatkan semua orang.

“Tidakkah Anda menyadari satu hal menyedihkan?”, tanya Bu Melani – sambil entah mengapa – menatap saya tajam.

“Mereka semua mati. Mereka semua dibunuh”

image

Saya yang masih membayangkan keindahan spesimen burung Wallace di alam, tiba-tiba seperti ditampar.

“Tidakkah Anda menyadari bahwa kita membunuh mereka dan mengatasnamakan pengetahuan dan seni sebagai pembenaran?”

Saya terdiam.

“Eksplorasi Wallace memberikan andil besar dalam pemetaan biodiversitas indonesia, berkontribusi besar untuk sains dan ilmu pengetahuan, tapi hal itu tidak mengubah apapun dari fakta bahwa burung-burung ini dibunuh untuk diawetkan”.

Paradoks. Kita mau melindungi alam dengan belajar mencintai mereka, tapi kita belajar mencintai dengan membunuh sebagian dari mereka.

Saya jadi teringat cerita Alan Turing di film Imitation Game yang dengan sengaja membiarkan ratusan ribu orang mati, agar perang bisa selesai dan jutaan lainnya selamat.  Atau Dr. Manhattan di film Watchmen yang dengan sengaja meledakkan satu kota untuk menyelamatkan satu dunia. 

We kill millions to save billions.

But can we justify killings with that? Apapun alasannya, pembunuhan tetaplah pembunuhan. Kita tidak bisa mengganti makna pembunuhan dengan apapun, tapi manusia selalu punya cara untuk membenarkan dirinya sendiri.

Saya tidak tahu. Tapi diskusi hari itu membuat saya semakin yakin, tidak ada yang gratis di dunia ini. Mungkin tidak melulu soal uang, tapi saya percaya tidak ada satu hal pun yang bisa kita nikmati secara cuma-cuma. Lingkungan. Pendidikan. Keluarga. Hubungan. Cinta. Semuanya.

Selalu ada yang harus dikorbankan, selalu ada harga yang harus dibayar.

Everything has a price.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.