Menjadi Pahlawan

Saya punya pahlawan masa kecil. Namanya Superman.

Dia menjadi sosok pahlawan super ideal. Badan kekar, super tampan, dan yang paling penting, dia menolong semua orang. Exactly, semua orang. Pria atau wanita, anak kecil atau orang dewasa, mulai dari pengemis di pinggir jalan sampai presiden dan walikota.

Saya ingin seperti Superman. Menolong semua orang. Menjadi pahlawan.

Kelas 2 SD, definisi saya soal pahlawan berubah saat Bapak cerita bahwa waktu umur 5 tahun, saya sakit keras. “Lo hampir mati”, cerita Bapak tentang saya yang sekarat karena kekurangan darah. Bapak tumbuh besar di jalanan Jakarta, jadi memang bicaranya macam orang Betawi. “Syukur ada orang yang donor darahnya, nyawa lo tertolong”.

Sejak saat itu, tiap tiga bulan sekali, Bapak rajin datang ke PMI untuk donor darah. Saya selalu diajak untuk melihat mereka: orang-orang yang diambil darahnya tapi tetap ada senyum di wajahnya.

Setiap selesai donor, Bapak selalu bilang berulang-ulang, “Di sini, mereka orang-orang biasa yang hanya memberi apa yang mereka punya”, katanya sambil menunjuk kantong darah. “Tapi di tempat lain, bantuan mereka menyelamatkan nyawa orang. Mereka menjadi pahlawan”.

Bertahun-tahun kemudian ketika saya datang ke PMI dan melihat orang donor darah, saya tidak pernah bisa menahan diri. Saya selalu menangis.

Di sini, seseorang yang saya tidak tahu entah siapa mendonorkan darahnya dan menjadi perantara Tuhan membuat saya hidup sampai sekarang. Di sini, orang-orang memberi apa yang mereka punya, lalu mengubah dirinya sendiri menjadi pahlawan.


Hari ini, saya tahu arti pahlawan.

Pahlawan bukan Superman yang bisa menolong semua orang.

Pahlawan adalah mereka yang tak mau menyerah dengan keadaan. Mereka yang menolak diam.

Pahlawan adalah mereka yang enggan menunggu perubahan. Tapi menjadi perubahan itu sendiri, sekecil apapun yang dia bisa.

Kemarin, teman saya di Jambi cerita. Sudah dua minggu lebih adiknya tidak bisa sekolah. Saudara saya di Riau kesal karena keluarganya tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Dan sahabat saya di Pontianak bilang, ayahnya masuk rumah sakit karena ISPA.

Semua karena asap.

Bertahun-tahun kita masih terus #MelawanAsap. Tapi hari ini, saya mengajak kamu untuk move on. Move on dari prihatin dan makian. Move on dari kesal dan keluhan.

image

Saya mengajak kamu untuk berbuat sesuatu. Memberi apa yang kamu punya.

Ada inisiatif yang sedang dilakukan Jenny Jusuf untuk membagikan masker dan kaleng oksigen bagi saudara kita di sana. Saya mengajak kamu untuk membantu.

  1. Klik link kampanye #MelawanAsap ini.
  2. Klik donasi, isi jumlah yang ingin kamu donasikan.
  3. Pilih metode pembayaran, klik lanjut dan kamu akan dapat info detil tujuan donasinya.

Semudah itu. Sesimpel itu.

Sejak cerita Bapak tentang saya sakit keras, saya selalu berpikir sekecil apapun bantuan kita, mungkin dia penyelamat nyawa di seberang sana. Karenanya jangan bersembunyi di balik alasan belum mapan. Puasa nonton di bioskop atau membeli buku terbaru di gramedia bisa berarti penyambung hidup bagi saudara kita di sana.

Ayo bantu mereka. Ayo berdiri tegak dan katakan dengan lantang.

Hari ini saya menolak diam.

Hari ini saya menjadi pahlawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close