Buta Sejarah

Harus diakui, saya termasuk orang yang buta sejarah.

image

Pagi ini tiba-tiba di salah satu grup whatsapp saya ramai pembahasan soal peristiwa Komunis dan G30S PKI. Lalu diskusi berlanjut ke pembahasan yang lebih kompleks, peristiwa kecil yang berada dalam satu rantai, penyebutan tokoh-tokoh yang terlibat, sampai ke ragam paham -isme.

Sejujurnya, saya cuma bisa mingkem. Kalo kata orang Bekasi, cengap.

Cengap karena sebenarnya saya tidak tahu apa-apa. Salah satu hal yang sangat saya sesali dalam kehidupan sekolah menengah saya, ketika saya tidak belajar sejarah dengan benar.

Ketika sekarang ingin mengejar ketertinggalan, sebenarnya belum terlambat. Tapi otak saya sudah dipenuhi oleh curiosity di hal lain, terutama industri kreatif dan bisnis digital. Jadi rasanya sulit sekali untuk memaksa diri mencari tahu lebih dalam soal sejarah.

Sumber belajarnya sih ada banyak. Tapi sejarah, kata Winston Churcill, ditulis oleh para pemenang. History is a His Story. Tergantung siapa yang menulis, sejarah selalu punya berbagai versi. Tidak ada sejarah tunggal.

Jadi mencari kebenaran dalam sejarah, adalah masalah berikutnya.

Mesti rajin membaca banyak referensi dan memperluas khazanah melalui diskusi. Kalo sudah begini, masalah berikutnya seperti tulisan saya sebelumnya: the problem is, we think we have time.


Sekarang pertanyaannya, apakah saya dan Anda sama? Sebagian besar anak muda yang (sok) berani menatap masa depan, tapi buta sejarah?

Jika iya, maka ada dua hal yang menurut saya bisa dilakukan.

Pertama, tetaplah membaca sejarah, sesedikit apapun yang kita mampu. Setidaknya, kita membuka sedikit keran agar kepedulian dan pengetahuan tentang sejarah mulai mengalir.

Kedua, biasakan menulis dengan tujuan merekam sejarah. Sejarah ada karena ada yang menuliskannya. Semakin banyak yang menuliskan, semakin banyak pula yang bisa dijadikan referensi untuk membandingkan. Budaya menulis harus terus ditumbuhkan, untuk menjadi dokumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan di masa depan.

Ah, minggu pagi yang terlalu serius sudah saya jalani.

Saatnya mandi dan lanjut menyeruput segelas kopi.


Untuk referensi ringan soal sejarah G30S PKI, saya merekomendasikan newsletter singkat berjudul Kotak Pandora 1965 yang ditulis Pamflet Generasi.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.