Ruang dan Waktu

Saya beruntung jadi orang yang bisa mencintai buku.

Tidak semua orang mau. Dan tidak semua orang bisa.

Sejauh yang bisa saya ingat, buku pertama yang saya baca dengan penuh kesadaran adalah seri mini ensiklopedia tentang dinosaurus, dimana akhirnya saya mengenal T-Rex, Brontosaurus, Stegosaurus, Ankylosaurus, dan masih banyak lagi. Bisa jadi pula, buku ini adalah inception pertama yang membuat saya menjadi penasaran dengan dunia sains, biologi, dan teori evolusi.

Dalam rentang waktu yang tidak lama, saya juga ingat membaca komik manga tentang Golf. Saya lupa judulnya, pokoknya yang saya ingat, sang tokoh utama bisa hole-in-one (memasukkan bola golf ke lubang dengan satu kali pukulan) dengan teknik bungkus bendera. Awesome. Dulu saya percaya teknik bungkus bendera itu nyata, dan saya belajar bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil. Dan sebagai anak kecil, saya sempat terinspirasi dan bercita-cita menjadi pemain golf. Mimpi itu langsung saya urungkan saat melihat di TV, pemain golf dikelilingi wanita cantik dengan rok pendek. Waktu itu ceritanya saya sudah masuk TPA dan saya tahu itu haram hukumnya, lalu saya beralih ingin menjadi dokter. Lucu juga kalo diingat-ingat sekarang, karena akhirnya tidak ada satu pun dari pemain golf atau dokter yang kejadian.

Tiap membereskan buku di rumah, saya selalu mencari dimana buku-buku dinosaurus dan komik golf itu. Dalam dunia membaca, mereka adalah cinta pertama saya. Saya benar-benar ingat rasanya ketika imajinasi saya lebur dalam halaman-halaman. Saya benar-benar bisa merasakan sensasi petualangan yang seringkali tidak masuk akal, keajaiban yang muncul satu per satu hanya dengan membaca deretan kata di atas kertas.

Cinta pertama itu masih hilang sampai sekarang.

Setelah cinta pertama, saya kemudian terobsesi untuk menjalin cinta dengan buku-buku berikutnya. Dalam baca membaca, (setidaknya dulu) saya omnivora. Saya tidak pilih-pilih, dan kebiasaan ini semakin bertumbuh saat saya di pesantren yang tidak punya hiburan selain bacaan. Saya pembaca segala. Ensiklopedia, kamus, novel, kumpulan puisi, fiksi, nonfiksi, selfhelp, kitab fiqh, siroh nabawi, koran, majalah pria, majalah agama, majalah anak-anak, tabloid bola, pokoknya semua saya baca.

Saya juga selalu bersyukur punya orang tua yang mendukung saya membeli buku. Waktu kecil, saya jarang sekali meminta. Tapi jika saya meminta, rasanya tidak pernah ditolak. Waktu SMP, saya sedang menggilai teori konspirasi dan minta dibelikan buku tebal seharga 120.000. Saya ingat sekali judulnya: Knights of Christ, Knights of Templar karya Rizki Ridyasmara. Waktu diminta, saya ingat sekali tatapan ibu saya yang heran kok bisa anaknya baca buku begituan. Tapi akhirnya toh saya tetap dibelikan.

Saya juga ingat buku pertama yang saya beli dengan uang sendiri: Naked Traveler nya Trinity dan La Tahzan nya Dr. Aidh Al Qarni. Saya ingat kejadiannya sepulang Olimpiade Sains Nasional tingkat provinsi, saya mampir di Gramedia Merdeka, Bandung. Saya masih ingat rasa bangga saat membayar dan saya ingat bilang sama kasirnya, “Teh, ini buku pertama saya”. Saya juga ingat muka si teteh kasir yang kalo hidup di zaman sekarang mimik wajahnya seakan berkata, “Trus teteh harus bilang wow gitu?”. Dan saya akan menjawab balik dengan mimik wajah yang berkata, “Iya, teh. Tolong dong bilang wow untuk buku pertama saya”.

Saat selesai kuliah dan akan pindah dari kosan, saya bangga sekali saat membereskan kamar dan mengepak barang. Saya punya tiga kardus besar, dan tiga-tiganya terisi buku. Ada puluhan buku yang saya beli dan koleksi selama kuliah. Dan malam itu, saya membaca dan mengingat buku-buku itu satu per satu. Tiap membalik halaman-halamannya, saya tersenyum senang macam orang pulang dari kawinan.

Saya selalu menikmati romantisme saya dengan buku.
Saya membaca buku di waktu luang, saat menunggu kereta, ketika di pesawat, dan menjelang tidur.

Saya sangat bahagia menjadi orang yang bisa mencintai buku. Meskipun tidak akan ada yang menyangkal kebaikan buku, tidak semua orang ditakdirkan mencintai buku. Dan saya selalu bersyukur Tuhan memilih saya menjadi sebagian dari orang-orang itu.

Saat memikirkan apa arti buku, yang terlintas di benak saya adalah Endurance, kapal luar angkasa yang melakukan perjalanan antar galaksi di film Interstellar.

A spacecraft to travel through space and time.

That’s how I define a book. Sebuah kendaraan untuk terbang melintasi ruang dan waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close